Mengkonfrontasi Pelaku Ghosting Ternyata Bikin Lega dan Reflektif

Sebagai perempuan lajang berumur 38 tahun yang sudah lebih dari dua dekade menceburkan diri di dunia percintaan, sungguh memang intrik kehidupan perkencanan bagaikan geopolitik Timur Tengah. Rumit, penuh misteri dan melelahkan. Ditambah lagi ada pengaruh dunia teknologi yang kalau enggak diikutin, ya wasalam bhay, dirimu bak koran pagi yang semakin lama semakin sedikit menjangkau orang dan hanya sekadar dijadikan bungkus gado-gado.

Perkembangan dunia teknologi bukan cuma dalam hal mencari pasangan. Tapi juga bisa menjadi sumber segala masalah yang berpotensi merusak tatanan kesehatan mental dan hubungan sosial. Zaman saya SMA, seorang sahabat pernah ditinggalkan oleh lelaki yang sempat dipacarinya selama tiga bulan. Tidak ada kata putus, tidak ada kabar sama sekali. Hilang seperti kentut yang kita keluarkan dua menit lalu. Teman saya tentunya kebingungan. Saat itu belum punya handphone, telepon ke rumah tidak pernah digubris, rumahnya di mana pun teman saya enggak tahu. Akhirnya hubungan berakhir begitu saja dengan 1.250.432 pertanyaan di kepala teman saya.

Kejadian yang dialami teman saya ini sekarang dinamakan ghosting. Yang kalau di-googling artinya, The practice of ending a personal relationship with someone by suddenly and without explanation withdrawing from all communication. Ghosting terjadi saat chat kita tidak lagi dibalas, telepon enggak diangkat, bila satu lingkungan tiap berpapasan dia sengaja menghindar atau buang muka, dia tiba-tiba nge-hide kita dari IG story-nya bahkan nge-block medsos kita.

Di tahun ‘90an kalau pujaan hati kita itu aktivis yang vokal, maka bisa jadi alasan ghosting karena beneran telah menjadi arwah penasaran akibat ulah aparat pemerintah. Namun di era millenials sekarang, ulu hati sungguh ngilu saat seseorang enggak balas chat tapi aktif di Instastory.

 

Jennice Vilhauer, PhD, berkata ghosting merupakan strategi kencan passive aggressive yang bisa meninggalkan luka emosional. Pelaku ghosting hanya fokus menghilangkan ketidaknyamanan emosional yang dirasakannya tanpa memikirkan akibatnya pada orang lain. Ketika keadaan sudah mulai malesin, melakukan strategi jubah gaib Harry Potter alias menghilang, jadi solusi paling mudah. Strategi ini pun semakin dinormalisasi oleh banyak orang karena terbiasa terkoneksi secara permukaan di dunia online yang membuat syaraf empati kita semakin kebas. Orang semakin enggan menyentuh ‘rasa.’ Lebih baik langsung kabur daripada harus berbicara jujur terhadap orang lain. Karena menumpahkan ‘rasa’ butuh energi lebih yang bagi pelaku ghosting, lebih baik ditabung buat jempol nge-swipe. Beginilah kejamnya modern dating world.

Harus diakui saya juga pernah melakukan ghosting terhadap teman kencan. Tapi setelah saya perhatikan, ghosting yang dilakukan perempuan cenderung beda daripada lelaki. Perempuan melakukan ghosting SETELAH jujur pada pasangan kencan bahwa ia tidak tertarik. Kenapa harus ghosting? Berikut beberapa cuplikan ghosting yang pernah kulakukan agar Anda sekalian mengerti bedanya.

Situasi 1:

Sebut saja namanya Momon. Kami pernah beberapa kali berkencan. Kadang dia hangat, kadang dia dingin. Lama kelamaan saya mulai merasa enggak nyambung.

Him: Hai kapan kita kencan lagi?

Me: Hmm maaf, aku sudah mulai nge-date sama cowok lain

Him: Hah, siapa dia?

Me: Ya kamu juga enggak bakal kenal.

Him: Siapa dia?! Ceritakan padaku!

Lima menit kemudian lelaki ini menelepon. Semacam agak marah kenapa pertanyaannya enggak dijawab. Setelah bertengkar di telepon, saya memblokir nomor ponsel dan medsosnya. Dia pernah beberapa kali mengirim pesan di Fb dan Instagram, tapi tidak pernah saya balas.

 

Situasi 2:

Kenalan di Tinder, dua hari kemudian janjian ketemu. He’s a smart guy, we get along fine. But I just don’t feel any chemistry. For me, chemistry between two people is like hot chocolate. It’s a hit or miss situation. Setelah pulang kencan dia WA.

Him: I am very attracted to you. Personally and physically.

Me: Thank you. You are a good discussion partner.

Him: You’re not interested in me?

Me: I like you. But not in a romantic way.

Him: Why? Is it because I’m short?

Me: What? I just don’t think we clicked.

Him: I’ll do anything for you Trinzi.

Me: ?

Him: I’ll be your slave.

Me: *delete chat*

 Itu hanya sekelumit dari pengalaman-pengalaman senada yang pernah terjadi padaku plus cerita-cerita   beberapa teman lain yang senada, saya mengambil kesimpulan, ghosting yang dilakukan perempuan pada konteks percintaan heteroseksual, umumnya sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak lagi diganggu. Stereotype pemburu yang melekat pada lelaki membuat mereka sering merasa perempuan yang bersikap dingin itu harus lebih keras dikejar. Dalam pikiran mereka, semua perempuan menantikan lelaki yang memiliki rasa percaya diri tinggi yang akan memburunya sampai ke ujung dunia, bahkan ujung akhirat.

Sebaliknya, ghosting yang dilakukan oleh laki-laki cenderung merupakan pengejawantahan fragile masculinity. Sejak lahir lelaki didoktrin harus menjadi kuat dan tidak mudah baper. Ini membuat banyak lelaki bingung menghadapi situasi yang menuntut kepekaan emosional. “Daripada harus mutusin cewek, mendingan gue lari maraton 20 km deh,” ucap seorang lelaki kepada saya.

Robert Brannon dalam bukunya berjudul The Forty-Nine Percent Majority yang terbit tahun 1976 melakukan riset menarik yang dianggap sebagai ‘blueprint of manhood.’ Menurut hasil risetnya yang menggemparkan di masa tersebut, ada empat konstruksi maskulinitas yang berbahaya:

  1. No Sissy Stuff. Bersikap terbuka dan rapuh dianggap sebagai tindakan pengecut yang lemah. Lelaki harus tampil kuat, termasuk menahan semua emosi yang bergejolak dalam dirinya.
  2. The Big Wheel. Lelaki harus dihormati orang lain agar terlihat berkuasa. Oleh karena itu lelaki harus mengejar kesuksesan finansial, status sosial dan menjadi panutan.
  3. The Sturdy Oak: Lelaki yang jantan diharapkan tampil percaya diri, dapat diandalkan dan tahan menghadapi tekanan.
  4. Give ‘Em Hell: Memiliki jiwa petualang, agresif dan pemberani.

Nah terus kalau sudah tahu penyebab lelaki melakukan ghosting, apakah ini berarti perempuan harus terima-terima saja? Oh tentu tidak dong. Pada dasarnya lelaki maupun perempuan sama-sama punya hak untuk bertanya mengapa dirinya di-ghosting.

 

Tapi sebelumnya, plis banget refleksikan pada diri sendiri, apakah worth it melakukan konfrontasi pada pelaku ghosting? Mengkonfrontasi berarti berani menjadi rapuh dan menelanjangi ego. Ada risiko si pelaku ghosting berpendapat bahwa kita itu so baper, drama dan lebay yang kemungkinan justru melukai harga diri. Lebih parah lagi kalau tindakan ghosting udah berlalu lebih dari setahun. Bisa jadi tuh orang enggak ingat lagi kita siapa.

Saya adalah tipe orang yang memegang teguh pendapat honesty is the best policy. Lebih baik jelas-jelas dipahitin daripada dibiarkan dalam kegelapan. Makanya saya berpendapat bahwa konfrontasi kepada pelaku ghosting adalah bagian dari self respect. You don’t get to play with my feelings and ignore me. If you don’t want me anymore, just tell it to my face. Kan enak ya kalau sudah jelas-jelas tahu dia enggak mau lagi sama kita. Langsung gampang move on.

Atas dasar prinsip inilah saya mengkonfrontasi dua lelaki yang meng-ghosting saya di tahun ini. Tidak cuma karena ingin move on, tapi saya penasaran banget. Apa, sih, yang bikin mereka bisa tiba-tiba mendiamkan saya di tengah keadaan yang terasanya baik-baik saja? Apakah tiba-tiba dia menganggap tahi lalat di dagu saya sangat menyebalkan? Apakah saya salah omong? Apakah dia ketemu orang lain yang lebih menyenangkan? Apakah dia kena ketabrak truk dan menderita amnesia? Kenapa, sih?

Lelaki Setan 1

Saya bertemu dengannya di sebuah konferensi yang dihadiri para praktisi periklanan. Ada mutual friend yang memperkenalkan saya padanya. Kami bertukar kartu nama. Kami menghabiskan kencan pertama di sebuah kafe dan berbincang non stop hingga tak terasa sudah menghabiskan lima jam. Kencan kedua berjalan lancar. Di kencan ketiga ada misunderstanding yang sempat terjadi. Saya coba untuk mengajak ketemu demi memperbaiki suasana, tapi dia hanya me-read pesan tersebut dan tidak pernah membalas. Saya jengkel luar biasa tapi diam saja sok cool. Sekitar tiga bulan kemudian ketika sudah berada di tahap zen af, saya kirim DM ke Instagram-nya:

 

 

 

Yak sodara-sodara ini adalah bukti bahwa fuckboy ada di mana-mana, termasuk di acara yang kesannya kredibel tempat kalian bertukar kartu nama. Sudah bisa ketebak juga biasanya pelaku ghosting itu fuckboy. Tapi se-fuckboy-fuckboy-nya, saya menghargai dia sudah mau me-reply DM. Tadinya saya pikir DM tersebut hanya akan di-read saja. Tapi ya, begitulah jawabannya sungguh sebuah template retorika yang kemungkinan besar dia berikan pada semua perempuan yang menjadi korban ghosting-annya yang menuntut penjelasan.

Sehingga kesimpulannya….

 

 

Lelaki Setan 2

Tinder menjadi tempat perkenalan kami. Kami sama-sama feminis, punya blog, suka menulis, menikmati karya Rupi Kaur, London Grammar, Childish Gambino dan mengolok-olok white supremacy. Seketika hati ini ketar-ketir butuh pegangan. Percakapan pertama kami melalui WA seperti menyalakan api di kedua ujung tali. Percikannya melompat-lompat kegirangan menjalar begitu cepat. Di akhir pekan tersebut, kami berkencan tiga kali. If chemistry is like hot chocolate. He is the right kind of hot chocolate that I’ve been craving for. He got the charm of dark chocolate with a hint of delicious sweetness.

Ketika akhir pekan berlalu, saya baru tahu bahwa sesungguhnya dirinya super sibuk dan jarang di Jakarta. Dia membuktikannya dengan mengirim agenda kegiatan rapatnya dan screen capture chat dengan ibunya yang tinggal di Afrika Selatan yang jarang dia balas. Saking sibuknya, percakapan kami kadang seperti lap Kanebo baru. Kaku. Meskipun dia menegaskan kami tidak berada di area friendzone, kadang seminggu berlalu dan chat terjadi sekali-sekali saja. Wah pelangi, nih, pikir saya. Pelan-pelan ngilang.

 

Sebulan berlalu. Suatu hari saat saya mengajaknya chat, dia bercerita sedang di rumah sakit karena kecelakaan sepeda. Ia mengirimkan foto wajahnya yang babak belur beserta tangan yang tertempel infus. Jelaslah saya kaget dan minta dia update kabarnya karena sulit juga membesuknya di Singapura. Pesan saya tak terbalas. Seminggu berlalu, dia sudah update IG story dan feed-nya. Sementara pesan saya tak pernah dia balas. Baique.

 

Didorong api membara, suatu malam saya mengirim DM ke IG-nya. Sebuah konfrontasi ghosting yang penuh emosi.

 

 

Yha setelah mengirim teks tersebut, antara saya lega sekaligus merasa, “What the fuck was I thinking?”

 

 

Tanpa diduga dia membalas panjang lebar. Isi DM-nya terlalu privat untuk dibuka di sini. Intinya dia tidak terima dituduh ghosting. Lagi-lagi alasan utamanya adalah kesibukan dan ditambah kecelakaan yang menimpanya. Lagi-lagi ia pun mengirimkan screen capture percakapan dengan ibunya yang ternyata juga dia biarkan seminggu tak terbalas. Yhaaa, ibunya aja di-ghosting, gimana aing?

 

Selain itu, dia juga mengirimkan tulisan yang dibuatnya sehari sebelum saya konfrontasi. Katanya, sih, karena dia ingin saya tahu apa yang terjadi dalam kepalanya.

 

 

Begitulah tulisannya membuatku merasa….

 

 

Pendek kata, kami menjernihkan suasana. Dia bahkan minta maaf tidak bisa memberikan lebih dari yang dia bisa berikan saat ini. Walaupun sebenarnya dia berkata di lubuk hatinya, saat dirawat di rumah sakit, dia berharap saya bisa ada di sampingnya, tapi dia merasa itu imajinasi yang terlalu idealis dan tidak pernah ia ungkapkan. Hmmm, andai dia tahu, bahwasanya saat diriku dicuekin…

We like each other. Tapi situasi tidak berpihak pada kami. Ia sedang tidak memiliki energi dan kapasitas emosional untuk menjalin hubungan romantis. And he said it clearly, that it is not about me.

Ketika seseorang meng-ghosting kita, hal yang paling bikin sedih dan marah adalah dentuman di kepala yang berulang kali mempertanyakan apa yang salah dari diri kita. “What did I do that drives him to disappear?” Nyatanya banyak hal di luar kita yang bisa menjadi alasan seseorang menghilang.

Lantas bagaimana hati saya ketika tahu alasan dia sebenarnya? Sedihlah. He-he-he. I thought it could be a start of something special. Saya masih ingat kata-katanya di awal interaksi kami, “We could be what the other was looking for.” Akan tetapi apalah gunanya memaksakan hati. Saya sudah cukup bersyukur dia mau jujur. Dan saya tidak akan mendapatkan kejujuran ini bila tidak mengkonfrontasi tindakannya (yak walaupun baper banget ya konfrontnya, monmaap aing lagi terlepatuque n kzl bats karena kan doi ngaku menjunjung tinggi kejujuran).

We’re still on a good terms and talk once in a while. I still have a crush on him. But you don’t have to inspire or convince someone to be ready. They will be ready, when they are ready. Love it or hate it, timing is really everything.

 

 

Sehingga kepada para pembaca budiman, bila kamu punya kesempatan mengkonfrontasi pelaku ghosting, lakukanlah. Lakukan bila kamu merasa akan lebih mudah move on secara emosional setelah mendapatkan penjelasan yang jujur. Siapkan hatimu. Jinakkan egomu. Persiapkan dirimu untuk segala kemungkinan. Setidaknya bila kamu mengkonfrontasi pelaku ghosting, dia akan lebih mau menjadi decent human being yang jujur pada orang lain di masa depan.

Kamu adalah manusia yang diberkahi perasaan oleh pencipta-Mu. Jadi kamu berhak baper. Cinta, suka, sayang, adalah perasaan. Dating is about feelings not thick skins. Bersyukurlah kita masih bisa merasakannya. Better to catch feelings and get hurt, than to be a robot.

Untuk para pembaca yang rutin melakukan ghosting, saya cuma punya pesan singkat. Jadilah manusia yang memanusiakan manusia lain.   

 

Akhir kata, berikut puisi Nayyirah Waheed agar kita yang di-ghosting bisa lebih mudah move on.

A post shared by @nayyirah.waheed on

2 Comments

  1. Artikelnya menarik dan lucu banget untuk dibaca, kak Trinzi! Ditambah gambar gambar yang pas banget sama konteks tema nya. Saya ketawa ketawa sendiri bacanya dari atas sampai bawah. Hihi
    Saya pribadi ga banyak pengalaman di ghosting-in orang lain berabad abad gitu. Tapi kalau chat saya ga dibales tapi si orangnya aktif di WA-Story misalnya, itu ngeselin. Itu salah satu indikator tentang bagaimana mereka menghargai atau mem(p)rioritaskan saya/kita.
    Dan disisi lain, saya termasuk orang yang suka ghosting-in orang lain, terutama cowok. Tapi saya ga ngepost WA- atau Insta-Story gitu. Baca artikel ini, jadi bisa menempatkan diri di sisi lain dan bisa berintropeksi diri. Terima kasih!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *