Begini Rasanya Buka Puasa di Gereja

 

Hari itu hari kesepuluh berpuasa. Saya melirik jam elektronik yang ada di dalam bus Transjakarta. Pukul 15.45. Satu bulir peluh meluncur di dada. Saya beringsut sedikit lebih dekat dengan arah angin pendingin ruangan berhembus. Jarak 40 kilometer sudah nyaris saya lalui di hari Sabtu, tanggal 26 Mei 2018 lalu. Ketika akhirnya bus merapat ke halte Pasar Cempaka, saya bergegas ke arah gereja St. Paskal.

Hari itu saya diundang ke acara Sambung Rasa Anak Bangsa, Lintas Agama & Buka Puasa Bersama dalam rangka Ulang Tahun Gereja St. Paskalis – Paroki Cempaka Putih dan Persatuan 2018. Jam sudah menunjukkan pukul 16.05. Saya menaiki tangga Gedung Karya Pastoral tempat dilaksanakannya kegiatan ini. Di pertengahan anak tangga sebuah salib besar berwarna kecokelatan menyambut saya. Berpadu kontras dengan beberapa anak yang mengenakan peci dan seragam baju koko yang berada di depan saya. Mereka ini ternyata kelompok marawis yang membuka acara. Sungguh pemandangan yang mengademkan hati.


Di depan panggung sudah ada Alissa Wahid (koordinator nasional jaringan GUSDURian), Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed (sekretaris umum PP Muhamadiyah), Rm. Felix Supranto, SSCC (praktisi kerukunan umat beragama – Tangerang) dan Prof Dr. Paulus Wirotomo, M.Sc sebagai moderator. Seorang ibu mengenakan jilbab berwarna hijau terang nampak asyik mengabadikan acara. Anak-anak marawis yang tadi saya lihat, duduk manis di sebelah kiri panggung. Beberapa biarawati tampak antusias menikmati acara. Saya melihat keberagaman yang tulus terpancar.

“Kita harus bongkar tembok, bangun jembatan. Toleransi jangan cuma di kulit,” Romo Agustinus berkata penuh semangat. Ia juga bercerita tentang konsep kekitaan yang didapatnya dari KH Ma’ruf Amin. Romo Agustinus berusaha mengembangkannya menjadi budaya kekitaan. Yaitu suatu keadaan ketika orang melihat, berpikir, merasa, berbicara, bersikap dan berperilaku selalu memperhitungkan orang lain, bukan dirinya atau kelompoknya semata. Konsep ini mengingatkan saya pada mindful of others. Ponsel selalu dalam keadaan silent agar tidak mengganggu orang lain, kita bisa tidur nyenyak di subway karena sepi, tidak akan ada yang mengambil ponsel kita saat ketinggalan di suatu tempat. Ini yang terjadi ketika orang memikirkan orang lain seperti memikirkan dirinya sendiri. Romo Agustinus juga menyebutkan gerakan yang dilakukan untuk menghadapi intoleransi, yaitu dua sahabat. Menunjukkan kepada orang lain bahwa kita punya dua teman baik yang memiliki agama, ras, jenis kelamin atau suku bangsa yang berbeda. Romo Agustinus percaya gerakan sesederhana ini bisa mengikis intoleransi yang menghantui

Indonesia.Alissa Wahid kemudian berkata bahwa gerakan tersebut serupa dengan gerakan tetangga baik yang dijalankan NU. Ia kemudian bercerita tentang sebuah mesjid yang sengaja mengecilkan speakernya saat gereja yang berada di sebelahnya sedang mengadakan acara. Kita tidak bicara pada aku, tapi pada kita. Rasa yang saling mengasihi dan menyayangi dan memberi. Persoalan kita saat ini saling menuntut. Mudah sekali menuntut orang untuk memahami diri,” jelas Alissa. Tuhan bisa menjadi dasar tindakan yang keji, tapi juga sumber agar bekerja bersama orang-orang yang berbeda. Alissa menutup pidato dengan kalimat dari Gusdur.

Semakin banyak titik-titik berbeda, semakin mudah mencari titik-titik persatuan Yang beda jangan disama-samain, yang sama jangan dibeda-bedain.

 

Lain lagi dengan Abdul Mu’ti. Ia bercerita keadaan unik di Madura, “Kalau bertanya di Madura, adaa berapa orang Islam di sana? Jawabannya 80 persen. Dua puluh persen Muhammadiyah. Seolah agamanya beda.” Abdul Mu’ti mengakui minimnya perjumpaan antar masyarakat jadi salah satu penyebab perpecahan yang banyak ditemui di masyarakat belakangan ini. Perjumpaan yang dimaksud pun bukan sekadar berada di angkutan umum yang sama. Melainkan berinteraksi lebih dalam agar terjadi sambung rasa yang lebih meresap.

Romo Felix sebagai pembicara terakhir banyak mendapat tepuk tangan saat menunjukkan slide presentasinya yang dipenuhi foto sambung rasa yang dilakukannya dengan berbagai pemuka agama. Salah satunya foto bersama ketua MUI Tangerang, KH Ues Nawawi. Kegigihan Romo Felix untuk berteman dengannya membuatnya bahkan dianggap sebagai adik Ues Nawawi. “Saya diberi nama Felix Nawawi.” Contoh hubungan penuh toleransi yang dibangun antara keduanya juga menjadi titik penting saat terjadi gerakan 212. Ketika hampir 6000 orang dari Tangerang hendak ikut aksi 212, berkat nasihat dari MUI setempat, hanya lima orang yang akhirnya berangkat. Romo Felix juga menceritakan program Pembauran Remaja Lintas Agama yang dihadiri 100 orang pada bulan Februari 2018 lalu. Tepuk tangan hadirin kembali membahana memenuhi gereja.

Saya melirik jam di tangan. Masih ada waktu 15 menit lagi sampai berbuka puasa. Seorang perempuan mengenakan kebaya encim merah di samping tersenyum menyapa, “Gereja di sini juga?” Saya menjawab bukan dan hanya peserta berbuka bersama. Ia kembali tersenyum lebar, “Selamat berbuka, ya.” Sebelum berbuka, paduan suara dari gereja St. Paskal maju ke depan menyanyikan lagu Kita Bhinneka Kita Indonesia yang menjadi lagu tema untuk Tahun Persatuan Keuskupan Agung Jakarta.

 

Kita Bhinneka, Kita Indonesia, bersatu membangun bersama

Kita Bhinneka, Kita Indonesia, mari amalkan Pancasila

Tuhan menciptakan kita unik dan berbeda-beda, beragam suku, ras, agama dan budaya

Untuk bersatu menghargai sesama

Perbedaan bukan persoalan, tapi rahmat untuk persatuan

 

 

Deretan makanan berbuka sudah tersaji berlimpah di meja yang terletak di belakang kursi hadirin. Doa buka puasa dilantunkan oleh remaja perwakilan dari NU. Saya menyesap teh manis sambil memandang ke sekeliling. Seorang ibu berjilbab tengah tertawa dengan biarawati. Di dekat panggung, beberapa orang mengajak berfoto perempuan biksu yang saya kemudian ketahui bernama Ayya Thitacarini. Ada perasaan khidmat berbeda yang saya rasakan. Rasa khidmat sama yang saya rasakan ketika berada di Vank Cathedral, gereja Armenia yang ada di Isfahan, Iran.

Berada di rumah ibadah berbeda membuat saya mengerti Tuhan bukan eksklusif milik kelompok tertentu. Ada banyak cara mencapai-Nya. Kita sebagai manusia diberikan akal dan hati untuk memilih cara yang paling sesuai. Dalam diri setiap manusia ada jejak Tuhan karena kita merupakan ciptaan-Nya. Reza Aslan pernah berkata dalam bukunya God: A Human History, “I recognize the divinity of the world and every being in it and respond to everyone and everything as though they were God—because they are. And I understand that the only way I can truly know God is by relying on the only thing I can truly know: myself.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *