10 Alasan Perempuan Indonesia Harus Berterima Kasih Kepada Via Vallen

 

Ketika gerakan #metoo membahana di berbagai belahan dunia, saya berharap Indonesia juga ketularan. Setidaknya ada satu atau dua figur publik yang mau angkat bicara tentang pelecehan yang pernah dialaminya dan memancing percakapan tentang kekerasan seksual. Karena meskipun Komnas Perempuan sudah membuat catatan tahunan tentang angka kekerasan terhadap perempuan yang terjadi sejak 15 tahun lalu, netizen nyaris tak bergeming.

 

Sampai akhirnya kasus Via Vallen menyeruak dan membakar netizen berkomentar. Yang mana dari komentar-komentar tersebut, saya menarik kesimpulan, bahwa sejatinya perempuan Indonesia harus berterima kasih kepada Via Vallen. Berkat kasus ini, Via telah membuka kotak Pandora berisi hantu bernama budaya pemerkosaan yang selama ini dianggap tiada.

Saya pernah bercerita tentang budaya pemerkosaan di sini. Tapi izinkan saya mengcopy paste beberapa paragraf di dalamnya. Istilah budaya pemerkosaan dikemukakan oleh Dianne F Herman dalam essai berjudul The Rape Culture yang terbit tahun 1984. Ia menjelaskan budaya pemerkosaan sebagai sikap pembiaran masyarakat terhadap kekerasan seksual. Emilie Buchwald, melalui bukunya, Transforming A Rape Culture (1993), mengatakan bahwa budaya pemerkosaan adalah ketika masyarakat menganggap kekerasan seksual sebagai hal yang tak bisa dihindari. Yha, seperti kematian atau pajak.

 

Mengapa budaya pemerkosaan bisa terjadi? Level yang paling fatal atau tinggi, seperti contohnya kasus YY yang diperkosa oleh 14 orang lalu dibunuh, sesungguhnya tidak terjadi begitu saja. Ada pemantik-pemantik yang memicu kejadian dari yang ringan, sedang, hingga fatal yang berujung pada kematian. Dimulai dari goda-goda pinggir jalan yang dibiarkan, komentar sexist semacam, “Wuidih, hot banget sih penampilannya hari ini,” naik menjadi iseng-iseng nyolek, kirim-kirim foto penis, nyebar-nyebar foto intim dan semakin parah lagi levelnya. Secara lebih simpel, budaya pemerkosaan bisa dilihat sebagai suatu piramida.

 

Seperti aturan umum piramida, lapisan paling bawah adalah yang paling banyak terjadi dan menjadi dasar atas terbentuknya tingkat selanjutnya. Di sinilah dimulai pembentukan posisi antara lelaki dan perempuan. Mana pihak yang lebih berkuasa dari yang lain. Mana pihak yang menganggap pihak lain semata sebagai objek seksual. Lapisan paling bawah sesungguhnya adalah koentji.

Komentar-komentar netizen mengenai kasus Via Vallen mencerminkan tanda-tanda kebudayaan pemerkosaan di level bawah yang begitu umum dialami perempuan dan menjadi dasar untuk tingkat selanjutnya. Hingga akhirnya perempuan pun bisa dibunuh karena dia perempuan. Inilah mengapa saya, sebagai perempuan Indonesia, menghaturkan terima kasih kepada Via Vallen karena berkat kasusnya perlahan roda kesadaran publik tentang 10 tanda rape culture mulai berputar. Apa sih tanda-tandanya?

  1. Menyalahkan korban

Sherry Hamby, professor psikologi dari University of the South sekaligus editor pendiri Psychology of Violence Journal berkata bahwa hal terkuat yang membuat seseorang menyalahkan korban adalah adanya just world hypothesis. Kata mudahnya, karma. Kita terbiasa mempercayai bahwa suatu hal terjadi karena konsekuensi dari hal yang dilakukan sebelumnya. Stigma yang melekat pada biduanita dangdut yang membangkitkan hasrat seksual membuat orang percaya bahwa Via memang berhak dilecehkan.

Kebiasaan victim blaming ini juga merupakan bentuk usaha kita untuk tetap merasa nyaman, kata Barbara Gilin, profesor dalam bidang social work di Widener University. Para netijen-netijen yang sibuk nyalahin Via ini sebenarnya tengah berusaha mempertahankan benteng kenyamanan bahwa mereka adalah orang baik-baik yang enggak akan kena pelecehan seksual. Yang nyatanya sodara-sodara monmaap, bahkan bayi pun bisa kena pelecehan seksual. Amit-amit jabang bayi!

Victim blaming jelas berbahaya karena korban yang sudah tersakiti akan semakin enggan menyuarakan ketidakadilan yang menimpanya ketika melihat masyarakat, bahkan aparatur hukum malah menyudutkan mereka. Kekerasan seksual dianggap sebagai aib yang lebih baik disimpan sendiri, sementara si pelaku bebas lenggang kangkung.

Hasil survei daring pada tahun 2016 yang dilakukan oleh Lentera Sintas Indonesia, Magdalene.co dan Change.org menunjukkan 93% penyintas kasus pemerkosaan tidak melaporkan kasus mereka ke kepolisian. Dalam sosialisasi tentang Perma no. 3 tahun 2017 pada bulan Maret 2018 lalu, Dr. Hj. Diah Sulastri Dewi, hakim tinggi Pengadilan Tinggi Tanjung Karang berkata dengan suara berapi-api tentang sebuah kasus yang pernah ditanganinya. Ia menangani kasus buruh perempuan yang saat sedang mengangkat kardus di sebuah gudang, tiba-tiba kepala pabrik yang berjaga di tempat yang sama menggerayangi dan memaksa menciumnya. Kasus ini sempat terhambat di pengadilan karena aparatur hukum mempermasalahkan adanya jeda 10 menit sampai akhirnya korban berteriak. Coba dipikir lagi, ya, 10 menit itu bisa saja si perempuan kaget, enggak bisa bersuara, susah bergerak. Kenapa, kok, langsung pada mikirnya korban keenakan, ya?

  1. Sadar tentang white supremacist

Jujur saya salah satu perempuan yang pernah mengalami masa lebih memilih pasangan lelaki kulit putih daripada orang Indonesia. Pada waktu itu argumennya simpel, fitur mereka yang bertubuh tinggi, berkulit putih, dan berambut pirang bagus untuk perbaikan keturunan. Tidak terlintas dalam pikiran bahwa kepercayaan ini sebenarnya dibentuk secara sistemik oleh kaum Caucasian yang menjajah negara lain.

Frances Lee Ansley, seorang akademisi yang banyak meneliti tentang ras berkata, “White supremacy merupakan sistem politik, ekonomi dan kultur yang sumber dayanya dimonopoli oleh orang kulit putih. Ini melahirkan adanya anggapan yang disadari maupun tidak disadari tentang hak istimewa yang dimiliki kaum kulit putih yang membuat mereka mendominasi banyak hal.”

Ini, nih, bekas-bekas penjajahan yang terpampang nyata tapi kitanya sekip. Kita mengagungkan ras kulit putih sebagai ras paling sempurna di dunia sehingga memberikan pemakluman yang seringkali keterlaluan pada mereka. Dalam kasus Via, si pelaku kastanya makin tinggi lagi karena:

  • Dia lelaki
  • Dia bule
  • Dia berpenampilan menarik
  • Dia pemain bola terkenal

Makin lah netizen menganggap dirinya eceng gondok kena hama dan enggak terima ketika lelaki ini malah melakukan pendekatan kepada Via. Padahal bule juga manusia keleus yang tetap punya sopan santun. Lagian kenapa juga harus kita yang menyesuaikan diri sama bule yang jelas-jelas pendatang? Kenapa bukan mereka yang menyesuaikan diri dengan kita?

  1. Denial alias menyangkal

Saudara-saudara, inilah akibat dari ngebacot bermodalkan kesoktahuan yang didorong keinginan membuncah untuk berkomentar terhadap kasus kontroversial yang diharapkan bisa meningkatkan jumlah followers. Atau bahasa singkatnya, beginilah kalau sandal jepit dikasih nyawa.

Komnas Perempuan mendefinisikan pelecehan seksual sebagai tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban. Termasuk di dalamnya adalah menggunakan siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan. Kata kuncinya adalah perasaan tidak nyaman. Komnas Perempuan pun secara jelas menyebutkan bahwa yang dialami Via adalah pelecehan seksual siber.

Dasar penyangkalan juga bisa jadi karena sudah terpaku dengan pencitraan si pelaku yang terkesan baik, seperti yang terjadi pada kasus Bill Cosby. Atau kita sudah mengenal baik si pelaku dan sulit mempercayai mereka bisa melakukan tindakan yang menjijikan.

Padahal nih geng, menurut Catatan Tahunan yang dikeluarkan Komnas Perempuan, kekerasan seksual di ranah privat maupun publik lebih banyak dilakukan oleh orang terdekat yang umumnya kita pikir dia orangnya baik. Di tahun 2017, kekerasan seksual di ranah privat paling tinggi dilakukan oleh pacar (1.528 kasus), ayah kandung (425 kasus), paman (322 kasus), ayah tiri (205 kasus), dan suami (192 kasus). Sedangkan di ranah publik, kekerasan seksual paling banyak dilakukan oleh teman (1.106 kasus), tetangga (863 kasus), orang lain (257 kasus), serta orang tidak dikenal (147 kasus) dan guru (125 kasus).

 

 

  1. Mengubah pelaku menjadi korban

Kita melihatnya dari kasus Brock Allen Turner, atlit renang kampus yang menjadi tersangka kasus pemerkosaan. Ayah Brock berusaha menjelaskan bahwa aksi pemerkosaan itu hanya ‘tindakan 20 menit’ yang nantinya akan merusak masa depan Brock. Tanpa memperhitungkan akibat dari ‘tindakan 20 menit’ tersebut pada masa depan korban.

Tindakan Via membuka DM pelecehan yang diterimanya kepada publik tidak bisa sepenuhnya disalahkan, terutama karena nama dan identitas pelaku masih dibuat samar. Akun Bude Sumiyati pun angkat bicara bahwa ia sering dikirimi pesan yang bernada pelecehan seksual. Dan cara paling efektif bukan dengan membalas DM tersebut, tapi mengekspos si pelaku di Instastory-nya.

Secara gampangnya begini, kebanyakan pelecehan seksual itu terjadi di ranah pribadi. Perempuan diperkosa di kamar kostnya. Bos berani mencolek sekretarisnya saat sedang berduaan di kamar kerjanya. Terus gara-gara kejadiannya cuma dalam settingan privat, si korban enggak boleh membawa ini ke publik dan menuntut secara hukum karena akan mempermalukan si pelaku? Lah emang si korban gimana perasaannya setelah martabatnya direndahkan?

Lalu kenapa Via mem-blow up kasus DM dari public figure sementara DM lain yang mungkin merendahkan tidak dipublish? Karena Via berusaha memberikan efek jera kepada para pelaku-pelaku lain sekaligus menunjukkan keberaniannya. Hellaw, sama laki bule femes aja dia berani, apalagi sama laki yang levelnya kutu ranjang soak?

  1. Suara perempuan yang terbungkam

Perempuan dibungkam masyarakat oleh peraturan yang nyata maupun tidak nyata atas nama menghindari pelecehan seksual. Penelitian Institut Pemberdayaan Perempuan dan Anak Indonesia mencatat hingga November 2014 ada 364 kebijakan daerah yang diskriminatif terhadap perempuan. Contoh Perda Kota Tasikmalaya Nomor 7 Tahun 2014 tentang Tata Nilai Kehidupan Masyarakat yang Religius di Kota Tasikmalaya yang problematic karena memuat pengaturan mengenai ketentuan berpakaian sesuai norma agama. Pemisahan ruang area perempuan di transportasi publik pun patut dipertanyakan efektivitasnya karena lagi-lagi perempuan disuruh bertanggung jawab agar tidak dilecehkan.

Perempuan harus tunduk dan rela diatur. Kalau tidak, maka ia pantas dilecehkan. Kalau ia bersuara, maka martabatnya akan terancam terkoyak. Sementara lelaki, sebagai jenis kelamin yang paling banyak jadi pelaku pelecehan, justru sangat jarang diatur agar tidak melakukan pelecehan.

  1. Patriarki yang memanipulasi perempuan untuk saling melawan

Akuilah kita hidup di negara yang didominasi laki-laki. Aturan, kebiasaan, norma sosial, sangat sering dibuat untuk menguntungkan lelaki. Otomatis perempuan menjadi jenis kelamin yang tertindas.

Nine Deuce dalam websitenya Rage Against the Man-chine, melalui seksisme yang sudah terinternalisasi, perempuan telah dikondisikan untuk tidak mempercayai satu sama lain demi mendapatkan perhatian lelaki. Dalam dunia patriarki yang memandang harga diri perempuan dari penampilan fisik, perempuan saling berkompetisi untuk berusaha diterima lelaki. Ketika ada perempuan lain yang berpotensi merebut perhatian banyak lelaki, maka muncul dorongan untuk melawannya. Inilah mengapa kebanyakan netizen yang julid pada Via, ya sesama perempuan. Sama seperti kasus betapa heboh perempuan memberi label Pelakor atau Valakor pada perempuan lain. Siapa yang sebetulnya senang lihat perempuan pada bertikai? Ya laki-laki juga. Ehe. Ya enggak semua laki-laki, sih. At least yang brengsek.

 

  1. Tubuh perempuan dianggap sebagai sumber fitnah

Simone de Beauvoir dalam bukunya yang legend, The Second Sex, menyimpulkan bahwa tubuh perempuan itu memiliki makna ambigu. Ia bisa menggunakannya sebagai kendaraan mencapai kebebasan atau justru menjadi sumber penindasan yang menimpanya. Semuanya tergantung pada bagaimana perempuan memandang dirinya sebagai pemegang kekuasaan yang memiliki agensi aktif atau sekadar obyek pasif yang disorot oleh masyarakat.

Dalam masyarakat patriarki, tubuh perempuan diatur agar tunduk pada aturan lelaki. Harus berpakaian sopan, tertutup dan jangan kecentilan supaya lelaki tidak tergoda. Padahal kenyataannya banyak kasus-kasus perempuan berjlibab pun tetap kena pelecehan seksual. Seperti Amanda yang tiba-tiba payudaranya dicolek pengendara bermotor. Provinsi Aceh dengan kewajiban bagi perempuan muslim memakai jilbab justru didapuk sebagai provinsi dengan angka kekerasan seksual tertinggi. Intinya pelecehan seksual dimulai dari otak pelaku.

  1. Pemakluman terhadap pelaku

Kalimat-kalimat, “Anak cowok enggak apa-apa kalau bandel,” yang didengungkan para buibuk ini ngeri banget, lho, dampaknya. Ketika besar, anak lelakinya mendapat justfikasi berperilaku serampangan, termasuk menyakiti orang lain. Ditambah lagi pembenaran bahwa lelaki memiliki hasrat seksual yang menggelora sehingga tindakan pelecehan ringan, seperti DM yang dikirim pelaku ke Via itu enggak perlu diambil pusing. Mereka bilang, ‘enggak usah lebay,’ ‘jangan baper’ atau ‘dasar mbaknya drama!’

Lah, memang kenapa kalau kita baper saat merasa tidak nyaman? Who are you ngatur-ngatur perasaan ay? Sotoy amat nentuin batasan nyaman dan enggak nyaman buat orang lain.

  1. Pers yang fokus pada drama, bukan pelaku.

Sebagai mantan wartawan, sungguh saya lelah membaca berita-berita dari beberapa situs online tentang pemberitaan Via Vallen. Bukannya jadi bagian dari mengentaskan gunung es pelecehan seksual di Indonesia, ini malah ikut-ikutan julid kayak netizen.

Yang dibahas di Viva.com malah pesan mesumnya. Framing berita Tribun adalah perkataan Menpora bahwa Via disuruh sabar karena ini ujian bulan puasa.

 

Liputan6 malah menekankan perhatian pada manajemen Via yang sempat ricuh dengan media karena menolak berkomentar soal kasus ini lagi. Situs berita yang sama juga menerbitkan berita si pelaku harus pulang kampung karena dihukum klub bolanya. Tanpa ada penjelasan mengapa ia dihukum. Seolah berusaha menerbitkan rasa iba pada pembaca bahwa ia adalah korban, bukan pelaku. Lagi dari Liputan 6 adalah peringatan dari seorang ustadz untuk Via tentang bahaya fitnah.

Banyak media luar negeri yang bereputasi baik sudah mengerti adanya efek trigger atau pemicu trauma bagi korban kekerasan seksual ketika membaca berita yang berkaitan dengan hal tersebut. Seringkali mereka mengakhiri berita kasus kekerasan seksual dengan hotline yang bisa dihubungi bila ada pembaca yang mengalami hal yang sama. Semoga ke depannya media massa memiliki sensitivitas lebih tinggi untuk berita-berita semacam ini.

  1. Kecurigaan kasus pelecehan yang dilaporkan cuma dibuat-buat untuk cari perhatian

Kenapa kita lebih cenderung curiga kasus kekerasan seksual yang dialami seseorang itu tuduhan palsu dibandingkan pada kasus-kasus lain, seperti pencurian atau pembunuhan? Di Eropa dan Amerika, proporsi tuduhan palsu kekerasan seksual sekitar 2-6%. Proporsinya serupa dengan tuduhan palsu untuk kasus lain. Sayang sekali di Indonesia tidak pernah ada yang melakukan riset semacam ini. Dan perlu juga diketahui bahwa berdasarkan riset, kebanyakan tuduhan palsu itu tidak menyebut nama pelaku dan sudah mudah terdeteksi sejak awal pelaporan. Pun bagi pelapor melakukan tuduhan palsu itu sangat berisiko karena akan merusak kredibilitas dirinya.

 

Terima kasih Via Vallen yang telah membuka percakapan tentang pelecehan seksual. Keberanianmu adalah inspirasi yang sangat berharga. Semoga semakin banyak perempuan yang memiliki keberanian bersuara sepertimu dan meruntuhkan kejayaan budaya pemerkosaan di Indonesia.

 

1 Comment

  1. yang nomer 7 membuat auto nyanyi “apa salah dan dosaku syg kok tubuhku km salahkan atas otakmu yg diselangkangan”, media indonesia sering menyajikan sesuatu secara terpotong potong dan kejar view/iklan,pokoknya judulnya harus heboh dulu,ga peduli sumbernya valid atau gak,reaksi pembaca gimana, apalagi tr*bun bahkan berita hoax instagram mereka jadiin berita.
    btw aku selalu suka tulisanmu kak trinzi,to the point,sumbernya kredibel tp tetep menghibur dengan meme dan gambarnya ❤😹

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *