13 Pertanyaan Tentang Feminisme Yang Sering Diajukan Pada Diriku Si Remah-remah Feminis (Part 1)

 

Sewaktu pertama kali membuat blog ini, sejujurnya karena saya adalah pengangguran yang punya banyak waktu dan resah. Keresahan itu, seperti yang kalian bisa tebak, tentang kesetaraan gender. Tapi seringkali ketika seseorang mengangkat topik tentang keadilan gender, yang terjadi para hadirin pada walk out atau stres duluan.

Padahal isu feminisme itu sendiri sebenarnya sangat lekat dengan keseharian kita. Dari konsep pernikahan, fenomena ‘valakor’, pemisahan area perempuan di transportasi publik, tekanan memiliki anak bagi pasangan yang sudah menikah, bahkan sampai kewajiban memakai bra.

Meski sudah berusaha membuat isu feminisme semembumi mungkin, suatu hari teman saya tiba-tiba bilang, “Trinz, banyak yang nanya sama gue, nih. ‘Trinzi itu lagi kenapa, sih?’” Kemudian bergulirlah percakapan bahwa menurut pendapat orang-orang yang disampaikan pada dia, saya itu feminis ekstrimis.

Baique.

Padahal aku mah apa atuh, hanya remah-remah feminis yang masih harus terus belajar. Remah-remah yang pernah diserang fans selebgram tertentu karena kurang sensitif membedakan antara beropini dan menuding. Remah-remah yang belum selesai baca buku The Second Sex. Remah-remah yang enggak punya gelar S2. Remah-remah yang enggak pernah kerja untuk organisasi sosial tentang gender. Modal saya cuma passion dalam hal menulis, feminisme dan perasaan resah.

Tapi harus diakui, anggapan orang-orang bahwa para feminis itu gengges, sungguh tidak asing bagi para penggiat isu feminisme. Malahan cenderung ‘ketaker.’ Makanya saya menghabiskan malam Minggu yang mana keesokan harinya kudu kerja pagi-pagi (curhat*) dengan menulis 13 Pertanyaan Tentang Feminisme Yang Sering Diajukan Pada Diriku, Si Remah-remah Feminis. Yang mana saking semangatnya jadi puanjang bats lalu lebih baik dibagi jadi dua bagian. Daripada pemirsa udah keburu….

 

Kenapa sih nulis beginian? Ya tujuannya supaya sedikit banyak orang jadi mengerti apa sebenarnya makna menjadi feminis. Sekaligus kalau ada orang yang melempar pertanyaan yang udah jadi template ini, bisa saya arahkan ke blog supaya traffic-nya naik *ada maunya

1. Kenapa, sih, feminis itu galak?

Naila Rizqi (salah satu feminis lokal panutanque btw), pernah melempar pertanyaan ini di sebuah acara yang melibatkan saya, Vivi dan Arie Keriting sebagai pembicara. Vivi dengan tegas berkata, “Gimana kita enggak marah kalau setiap hari keluar rumah kita diopresi hanya karena kita perempuan?” Menurut kamu lebay, enggak? Menurut saya, sih, enggak. Coba para perempuan jalan kaki keluar di pinggir jalan, pakai baju biasa aja (jeans dan tshirt misalnya) dan silakan countdown sampai menit keberapa ada lelaki yang iseng melihat atau menegur kita. Dari kecil perempuan sudah di-brain wash bahwa posisi kita ada di bawah lelaki. Sehingga yang terjadi kita buta akan opresi yang dibicarakan oleh Vivi. Arie Keriting mengakui bahwa, “Feminis itu cerewet! Ada aja pendapatnya!” Saya pun mengamini hal tersebut. Shirley Chilsom, aktivis perempuan Afrika Amerika pernah berkata untuk menjadi feminis yang berdaya guna maka haruslah, “Organize the rage.”

Brittany Packnett menimpali dengan sangat jenius:

 

 

Gerakan #metoo yang mendunia adalah hasil dari mobilisasi kemarahan perempuan yang sudah muak dijadikan objek seksual oleh lelaki. Organisasi PEKKA (Perempuan Kepala Keluarga) dibentuk karena menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 tahun 1974, dalam kehidupan sosial politik dan kemasyarakatan di lndonesia, kepala keluarga adalah suami atau laki-laki. Ini berakibat sulitnya bagi perempuan memperoleh akses ekonomi seperti permohonan kredit bank, pemilikan lahan dan warisan. Perempuan kepala keluarga di antaranya adalah para perempuan yang berstatus mengambang karena suami pergi merantau tak ada berita, perempuan hamil dan mempunyai anak setelah ditinggal suaminya atau yang menghamilinya, lajang yang belum kawin dan menanggung beban keluarga dan para istri yang suaminya cacat atau sakit permanen.

Jadi, ya, feminis memang galak dan marah. Tapi kami tidak sekadar marah. Bagi saya blog ini adalah penyaluran keresahan yang setidaknya bisa membuat orang yang awalnya enggak paham feminis, jadi sedikit lebih membuka mata dan hatinya terhadap isu kemanusiaan yang dihadapi setengah populasi dunia.

2. Feminis itu mendukung seks bebas?

Ada sebuah istilah bernama sex-positive feminism yang diluncurkan para feminis di tahun 1980an. Tema yang ditekankan seputar kebebasan mengekspresikan seksualitas adalah komponen penting bagi kebebasan perempuan. Karena selama ini patriarki memenjara perempuan yang ingin mengekspresikan seksualitasnya. Contoh, perempuan yang sudah enggak perawan dianggap sudah tidak berharga.

Pada dasarnya ada tiga prinsip utama yang dibahas dalam sex positivism:

  • Jangan ngejaj
  • Menghargai preferensi setiap orang
  • Mendorong orang menjadi pihak yang aktif untuk menentukan apa yang membuatnya terangsang dan tidak terangsang.

Sehingga yang perlu ditekankan di sini adalah bukan tentang mendorong orang berhubungan seks di luar pernikahan. Tapi justru mendukung apapun pilihan yang dibuat selama dilakukan secara sadar dan berdasarkan consent. Suka BDSM? Fine, silakan selama dilakukan secara mau sama mau dan enak sama enak. Ingin menjaga keperawanan sampai menikah? Monggo. Emily Nagoski, pakar pendidikan seks Amerika mengatakan aneka pertanyaan yang paling sering diajukan padanya sebenarnya semua bermuara pada, “Am I normal?” Emily menekankan bahwa seharusnya dalam hal perilaku seksualitas, kita tidak perlu tertekan untuk merasa normal. “Kamu lebih pengin punya kehidupan seks yang normal atau awesome?” tanyanya balik. Hal yang empowering buat seseorang, belum tentu empowering buat orang lain. Seksualitas adalah spektrum yang luas dan bersifat sangat personal. Ini makanya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual adalah sesuatu yang sangat penting. Jangan cuma dilihat sebagai alat mempromosikan seks bebas.

 

 

3. Feminis itu enggak mau kawin dan punya anak?

Di sini, aku akan mengutip tulisan Siti Aminah Tardi, Peneliti Indonesian Legal Resource Centre tentang Feminisme dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual.

Gerakan feminisme itu dinamis sesuai dengan dinamika sosial politik di mana sebuah aliran feminis muncul. Kita sepertinya harus membaca ulang karya Naomi Wolf yang berjudul Gegar Jender. Naomi merujuk pada gerakan feminisme radikal pada tahun 70-an yang salah satunya mengkampanyekan ‘anti laki-laki,’ karena mereka menilai sumber ketertindasan perempuan adalah laki-laki. Namun, di sisi lain banyak perempuan menginginkan keluarga dan anak.

Menurut analisisnya, kampanye itu digunakan oleh kapitalisme dan patriarki untuk menghantam balik gerakan perempuan, sehingga kemudian gerakan perempuan akan di-streotipe-kan sebagai gerakan anti keluarga, anti anak, lesbi dan pro aborsi, dan hal ini membangun phobia yang disebut Feminist-Phobia (F-Phobia). Mitos yang dibangun oleh kapitalisme dan patriarki ini juga diimpor ke negara-negara dunia ketiga, sehingga kemudian bertambah sebagai ide yang berasal dari barat.

Prof. Dr. Euis Sunarti dalam makalahnya yang berjudul Urgensi Pengaturan Kekerasan Seksual, Akar Masalah dan Alternatif Solusinya, menambahkan:

Paradigma feminis justru memberikan kebebasan pada perempuan yang memiliki kehendak untuk berkeluarga dan menikah, sebagai pilihan yang sadar, bukan atas paksaan. Dalam pilihan tersebut feminis mengembangkan prinsip keluarga yang harmonis melalui prinsip kesadaran, kesetaraan, dan nondiskriminasi, di mana setiap anggota keluarga berhak diperlakukan adil, ramah, saling meyayangi, memiliki etika kepedulian, dan menerapkan kerjasama antaranggota keluarga yang egaliter, yang akan saling meringankan beban masing-masing anggota keluarga, dan menciptakan orangtua yang bertanggungjawab dan berwawasan. Anak-anak dalam anggota keluarga adalah pihak yang berhak mendapatkan perlindungan, dan hak yang sama baik anak laki-laki maupun perempuan dalam hal kebutuhan pendidikan, perhatian, dan kesehatan fisik serta mental. Hal ini telah disampaikan pula dalam Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928 tentang hak-hak perempuan terutama soal perkawinan anak, pendidikan, poligami, dan eksploitasi seksual.

4. Feminis cuma pengin kebebasan pakai baju seksi?

Tepatnya feminis mendukung konsep integritas tubuh. Bahwa tubuh seseorang tidak boleh diganggu gugat, memiliki otonomi personal serta kebebasan menentukan nasib atas tubuh yang dimiliki. Ini yang sering mengganggu pikiran masyarakat. Perdebatan soal aurat dan pakaian yang seharusnya dikenakan perempuan.

Kenyataannya kekerasan seksual bisa menimpa siapa saja dengan pakaian apapun. Lihat saja kasus Amanda yang mengenakan jilbab dan tetap dilecehkan di jalanan. Sementara pihak pembuat aturan tetap asyik bikin segala macam ketentuan yang semuanya dilihat dari sudut pandang lelaki. Nih, contohnya aturan di Universitas Diponegoro kiriman salah satu teman saya yang kuliah di sana yang melarang perempuan pakai legging dan merokok. Sementara lelaki boleh-boleh saja merokok.

Mereka-mereka ini yang kerap menganggap seluruh tubuh perempuan itu mengandung fitnah (yang ujung-ujungnya dimanfaatkan sebagian orang buat jualan jilbab. Ehm).

Tapi saya juga setuju dengan argumen Kalis Mardiasih bahwa kampanye tubuhku otoritasku agak utopis dan agak berat bila diwujudkan secara sepenuhnya di Indonesia yang memiliki keberagaman dan unsur komunal yang kuat. Pakai hot pants ke acara pengajian itu namanya jajal jimat. Pakai bikini di Ancol? Ya kuatkanlah hati jadi santapan mata para mas-mas yang enggak pernah lihat mbak-mbak bikinian.

Dari observasi puluhan tahun sebagai perempuan, kami tahu, kok, cara menempatkan diri di berbagai kesempatan. Tapi, ya, jangan semua-semua jadi tanggung jawab kami lah. Masa demi enggak kena pelecehan seksual, ujung jari sampai ujung kepala harus diatur? Sementara yang pelaku ogah tanggung jawab dan lagi-lagi ngandelin alasan nafsu seksual tinggi?

 

5. Kalau mau kesetaraan gender, berarti perempuan harus disamain sama laki dong?

Inilah sumber malapetaka dari meme-meme sampah tentang gender equality. Nih, contohnya:

 

Kesetaraan gender bukan tentang sameness atau perlakuan yang sama. Lelaki dan perempuan emang beda, cuy. Makanya kebutuhannya juga beda. Menurut Christine Littleton, Professor dari UCLA, kesalahpahaman tentang kesetaraan gender berasal dari mathematical fallacy bahwa setara berarti nilai yang sama.

Banyak orang menganggap kesetaraan gender adalah saat lelaki dan perempuan sama-sama mendapat tiga toilet. Tapi tidak melihat bahwa secara biologis dan sosial budaya ada perbedaan dari perilaku perempuan dan lelaki yang menyebabkan antrian di toilet perempuan lebih panjang dibanding lelaki. Perempuan mengalami menstruasi, harus duduk agar nyaman buang air kecil, pakai baju yang lebih ribet dibuka dari lelaki, belum lagi kalau bawa anak kecil. Riset membuktikan bahwa perempuan rata-rata menghabiskan waktu 90 detik di toilet dan 5-10 menit bila bersama anaknya. Sementara lelaki hanya butuh 35 detik untuk buang air kecil dan total bisa sudah rapi dalam 60 detik.

Mbak Littleton bersabda bahwa kesetaraan itu justru tentang legowo menerima memang ada perbedaan biologis dan sosial budaya antar gender. Sehingga fokusnya adalah kepada usaha seluruh masyarakat (catet ya, seluruh bukan sebagian) untuk meminimalisir segala macam biaya atau energi yang terbuang akibat perbedaan tersebut. Ibu bekerja bisa membagi beban mengurus keluarga kepada pasangannya. Kewajiban menyediakan ruang laktasi di kantor. Buruh perempuan tidak terancam dipecat karena hamil. Lelaki tidak terbebani kewajiban jadi pemberi nafkah utama. Ya kalau mau muter-muter ngomongin perbedaan laki dan perempuan aja sih…

 

6. Feminis ini pada marah-marah karena enggak pernah have sex atau enggak punya pacar?

Ya kalau enggak pernah get laid, terus kenapa banyak pencetus sex positivism itu para feminis?

 

Status pernikahan atau hubungan juga enggak ada hubungannya dengan menjadi feminis. Mungkin pertanyaan sebenarnya yang ingin diajukan adalah apakah ketika feminis pacaran atau menikah maka ia berhenti menjadi feminis?

Menjadi feminis memang memiliki tantangan tersendiri. Seperti yang tertulis di Jurnal Perempuan edisi Feminisme dan Cinta.

“Jatuh cinta bagi feminis perempuan adalah membiarkan dirinya berada di persimpangan antara pemikirannya yang feminis dan perasaannya sebagai pencinta yang seringkali membuatnya bergesekan dengan kultur patriarki.”

Di sini memang nilai-nilai feminismenya ditantang untuk bertahan atau luntur. Untuk memberikan gambaran konsep pasangan ideal bagi feminis, izinkan saya mengutip quotes fenomenal dari junjunganque Simone De Beauvoir yang bukunya belum kelar dibaca itu

The day when it will be possible for the woman to love in her strength and not in her weakness, not to escape from herself but to find herself, not out of resignation but to affirm herself, love will become for her as for man the source of life and not a mortal danger.

7. Apakah jadi feminis bikin laki ilfil?

Oh ya tentu saja! Tapi laki mana dulu, nih, yang ilfil. Saya pernah bekerja di sebuah tempat yang karyawan lelaki di dalamnya suka mengobjektifikasi perempuan. Dalam satu kesempatan mereka terang-terangan bertanya apakah dokter yang akan menjadi narasumber kami penampilannya cantik atau tidak. Saya membentak mereka, “Penting banget dia cantik atau enggak?” Yang dijawab ramai-ramai sambil cengengesan, “Ya penting dong!” Sambil melengos saya bilang, “Enggak bakalan, ya, gue kasih tahu dia cantik atau enggak. Norak lo semua!”

 

Lain waktu bahkan seseorang di antaranya sampai berujar, ““Gue penasaran pacar lo kayak gimana? Kok, bisa tahan sama elo.”

 

Yang membawa kita pada kemungkinan selanjutnya, ada lelaki yang justru sangat tertarik pada feminis. Tapiiii, tertarik ini bisa berarti dua hal. Merasa tertantang menaklukan si feminis, padahal dalam hatinya dia sebenarnya masih menganggap perempuan sebagai subordinat. Lelaki ini lebih akrab disebut, lelaki modus.

 

Saya pernah bercerita di sini, tentang lelaki yang awalnya tertarik dengan pemikiran kesetaraan gender, namun saat hubungan semakin serius, justru menunjukkan pemikirannya yang sangat patriarkis.

Tipe yang kedua, mereka yang secara sejati mendukung kesetaraan gender. Ini bisa terlihat dari pandangannya tentang sebuah hubungan, apakah ia melihatnya sebagai sebuah partnership, atau layaknya bos dan asisten. Serta apakah ia mendukung kita untuk terus jadi feminis. Seperti teman saya, founder komunitas feminis di Cirebon, Nurul Bahrul Ulum. Bersama suaminya, KH Marzuki Wahid, mereka aktif mengadakan kajian tentang feminisme dan Islam di Institut Fahmina. Nurul pernah cerita pada saya bahwa sang suami mulai mendekatinya saat melihatnya aktif di organisasi yang membela hak perempuan.

Awalnya saya juga merasa risiko sebagai feminis berarti lelaki akan menjauhi karena alergi dengan isu ini. Akan tetapi, sama seperti halnya ketika kita passionate akan sesuatu hal (apapun itu, musik, olahraga, teknologi), somehow we have a fire that makes us more alive and interesting.

Menjadi feminis justru membuat saya lebih efisien dalam hal memilih pasangan Dari awal sudah ada filter yang segera membuang jauh-jauh lelaki yang suka mengobjektifikasi perempuan atau yang menganggap jenis kelaminnya lebih superior. Saya jadi bersyukur ketika putus dari para lelaki yang terobsesi jadi ‘kepala keluarga’, merasa minder dengan jurang pendapatan kami, posesif, dan gemar melakukan kekerasan verbal. Tantangan selanjutnya sebagai feminis adalah membedakan antara lelaki feminis modus dan lelaki feminis asli. Itu yang akan menjadi bahan postingan saya selanjutnya. Tentunya setelah part kedua dari tulisan ini saya share. Secepatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *