Yakin Kamu Mau Ke Kuba? Nih, 21 Foto Ngeri-ngeri Sedap Tentang Negara Ini

 

Setiap kali saya cerita habis ke Kuba, banyak orang akan bilang, “Waaah, Kuba. Gue pengin banget ke sana.” Biasanya saya akan berkata balik, “Yaaa, bagus, sih. Tapi kamu udah siap? Kuba itu yang menarik bukan pemandangannya. Tapi ideologi dan cara mereka hidup.” Kuba memang negara yang sangat menantang karena sejarah revolusi dan kegagahannya menentang Amerika yang menerapkan embargo sejak tahun 1958. Sebagai turis perempuan yang bepergian sendirian, saya merasakan keperkasaan negara ini di setiap sudutnya. Tapi sekaligus kegetiran yang diam-diam merayap. Foto-foto tentang Kuba dengan mobil-mobil kuno berwarna-warni memang benar adanya. Akan tetapi coba lihat mesin di dalamnya, maka akan kau temui mesin rakitan karena pemiliknya umumnya tak punya uang membeli suku cadang import.

Prinsip sosialisme yang diterapkan oleh Fidel Castro intinya berarti kesejahteraan buat semua. Pemerataan pendapatan untuk seluruh rakyat. Gaji pegawai yang bekerja di perusahaan milik pemerintah pada umumnya sama, tak peduli jabatan maupun senioritas, yaitu sekitar 25 CUC atau 25USD sebulan. Prinsipnya senasib sepenanggungan. Untuk membantu rakyat, pemerintah memberikan subsidi kupon kebutuhan dasar yang bisa ditebus, namanya Libreta de Abastecimiento.  Kupon ini menyesuaikan dengan komposisi orang di tiap keluarga. Misalnya, subsidi susu hanya bisa diberikan kepada anak umur tujuh tahun ke bawah dan mereka yang berumur 50 tahun ke atas.

Pun berhubung sumber daya alam yang dimiliki Kuba tidak terlalu banyak, turisme menjadi sumber yang paling menggiurkan. Ini yang mendorong mereka mengembangkan dua mata uang yang membedakan lokal dan turis. Sebagai turis, kita akan memakai mata uang CUC yang setara dengan USD (1 CUC = 1 USD). Sementara lokal memakai mata uang CUP yang jauh di bawah CUC. 1 CUC itu sama dengan 24 CUP. Otomatis harga untuk turis jauh lebih tinggi daripada lokal. Supir taksi di Havana akan cenderung ngejeplak harga antara 5-10 USD. Mau jalan-jalan pakai mobil kuno? Siapkan uang 30 USD per satu jam perjalanan.

Enggak heran orang lokal yang ingin mendapatkan kesejahteraan lebih biasanya akan membuka usaha di bidang turisme, seperti casa de particular, yaitu menyewakan kamar untuk turis ala Airbnb. Btw memesan kamar Airbnb di Kuba bisa banget kamu lakukan dari mana saja, kok.

Berikut 21 foto ngeri-ngeri sedap yang sebagian besar saya ambil dan bisa memberikan kekuatan hati bagi kamu yang pengin ke Kuba.

 

  1. Pilihan Terbatas

Seperti yang kutulis di atas, di negara sosialis ini kamu akan dipaksa belanja sesuatu karena kebutuhan, bukan keinginan. Supermarket di Kuba itu seperti Indomaret mau bangkrut alias barang-barangnya sedikit. Kamu hanya akan menemukan satu merek shampoo bernama Sedal (dengan font yang mirip Sunsilk). Satu jenis biskuit bermerek Nacional. Satu jenis minuman bermerek Ciego Montero yang mirip Coca Cola Company (FYI Kuba melarang import Coca Cola) karena ada variasi air mineral, soft drink dan jus. Air mineral Ciego Montero seberat 500 ml harganya 0,5-1 CUC atau 0,5-1 USD.

 

2. Siap Dipalak

Berhati-hatilah bila sedang berada di Old Havana. Banyak orang yang mengenakan pakaian khas Kuba, termasuk si mbak di atas. Warna putih yang dikenakan dari ujung kaki sampai ujung rambut merupakan bagian dari ritual agama Santeria yang dipraktekan di Kuba. Santeria adalah perpaduan agama Katolik dan kepercayaan Afrika yang berkembang di abad ke-15 saat Spanyol menginvasi Kuba. Para budak yang berasal dari Afrika berusaha mempertahankan kepercayaannya dengan memasukkan simbol-simbol dewa yang disembah Afrika pada agama Katolik yang dibawa Spanyol. Anywaaay, si mbak ini pas tahu aku mau motret dia, langsung ngomel dan minta dibayar 1CUC. Polisi yang berdiri di sampingnya pun ikut mendukung. Selain berpakaian putih-putih, kamu juga akan menemukan yang berpakaian warna-warni cerah ceria lengkap dengan aksesoris tambahan, seperti bunga dan cohiba (cigar). Siapkan uang 1-2 CUC atau 1-2 USD demi bisa berfoto seperti ini.

3. Nyaris Tanpa Internet

 

Ini bukan antrian sembako atawa diskon brand terkemuka. Beginilah pemandangan orang-orang yang antri demi beli kartu internet. Iyak betul kartu internet yang bentuk fisiknya semacam voucher yang harus digores pakai koin. Diperkirakan hanya sekitar 5% warga Kuba yang bisa menikmati akses internet di rumahnya. Yang lainnya harus bela-belain mengeluarkan uang 1CUC atau 1USD untuk membeli kartu internet yang bisa digunakan selama sejam. Setelah memiliki kartu internet pun kita harus pergi ke public wifi spot, seperti yang terlihat dari para mas dan mbak yang duduk-duduk di depan kantor provider telekomunikasi Etecsa di atas. Sejak 2014, pemerintah Kuba sudah membuka 240 public wifi spot di berbagai tempat, contoh taman dan Malecon di Havana. Bagian Malecon ini lumayan asyik sih, bisa sembari Insta Live lagi duduk-duduk di pinggir pantai Havana.

Kadang kala kantor yang menjual kartu internet tutup sebelum waktunya karena stok sudah habis. Pernah juga kartu internetnya bermasalah sehingga enggak bisa mengakses dunia maya, jadilah mubazir tuh kartu-kartu. Ditambah lagi kita tidak bisa melakukan transaksi online bila berada di Kuba. Saya mengalaminya saat hendak booking kamar di Lima, Peru. Ketika tiba di bagian hendak membayar kamar, AirBnb dan Booking.com langsung memunculkan pesan yang berisi keberadaan saya di Kuba membuat transaksi tidak bisa dilanjutkan. Traveloka pun memunculkan pesan error di bagian pembayaran. Terpaksalah saya harus minta tolong teman saya untuk bookingin kamar.

Jadi sebagai turis, monmaap siap-siap deh dengan akses internet yang sangat terbatas dan lupakan transaksi online apapun saat berada di Kuba. Koneksi internet yang nyaris tiada ini memaksa kita balik ke tahun ’90an, apalagi buat saya yang enggak punya sim card Kuba sehingga enggak bisa SMS atau teleponan. Tapi ini yang membuat perjalanan menjadi sangat seru. Azas kepercayaan harus bisa diterapkan saat janjian dengan seseorang. Janjian ketemu di taman jam 12 siang, ya percaya saja dia bakal datang jam segitu. Melupakan ponsel sebagai organ tubuh tambahan juga membuat kita lebih meresapi pengalaman yang ada di depan mata sekaligus melakukan hal-hal yang enggak kepikiran. Seperti bengong sambil duduk di jalanan kerikil khas tahun 1950an lalu ketawa-ketawa sendiri memandangi lima anjing lagi orgy.

 

4. Old School Tourist

One of my favorite thing to do while in Cuba is having mojito in broad daylight while listening to live Cuban music. It was such an elixir for the body. Alcohol is very common in Cuba. People here like to play music, party and drinking. The price for mojito is between 1-3 USD, tergantung resto dan tempat. Semakin murah semakin gak kerasa alkoholnya. Yang paling enak di resto Ananda, Trinidad (no pic thou, sorry), karena mereka menambahkan sirup dengan rasa rum. Tapi anehnya selama seminggu di sana aku gak pernah liat orang lokal ngejoprak. Enggak kayak waktu di Kaimana, Papua yang orang2nya juga suka minum. Selain mojito, ada juga cuba libre, yaitu rum dan coke. Rumnya khas sana, merek Havana Club. Lalu ada juga yang dikasih honey, namanya Chancancara. Pero mi favorita sigue siendo mojito (but my favorite one is still mojito).

A post shared by Trinzi Mulamawitri (@trinzi) on

Tolong jangan ikuti kebodohan saya yang lupa mendownload peta Kuba yang bisa diakses offline di handphone. Tapi kalau kamu tipe old school dan suka treasure hunt, mari menikmati menjadi turis circa tahun 1990-an yang menggenggam peta ke mana-mana. Oya harap diperhatikan nama jalan di Havana bentuknya bukan ditaruh di tiang tinggi. Melainkan kita harus waspada memandang trotoar tempat melangkah. Karena di sanalah nama jalan dan nomor blok yang berbentuk prisma segitiga dan kotak.

 

                                                      sumber foto dari sini.

sumber foto dari sini.

5. Jangan Norak LIhat Perempuan Berpakaian Terbuka

Seriously jangan norak dan kaget. Kalau di Indonesia ada sekolah negeri yang tega ‘memaksa’ murid perempuan memakai jilbab dan rok panjang. Maka di Kuba, kamu bakal menemukan pelajar perempuan mengenakan seragam yang kemungkinan besar bila dipakai di sekolah di Indonesia bisa membuat yang bersangkutan disuruh pakai sarung. Para perempuan lokal pun tidak takut pulang malam mengenakan pakaian yang oleh sebagian orang dipandang sebagai provokatif. Dari taksi yang membawa saya menuju penginapan ketika jam menunjukkan pukul 1.30 malam, saya melihat perempuan mengenakan gaun ketat hitam sepanjang pangkal paha dengan bagian punggung terbuka sedang menyetop taksi di pinggir jalan sendirian. Di sekitarnya nampak ada segerombolan orang yang berjalan kaki. Tak satupun dari gerombolan tersebut melirik atau menggodanya. Perempuan bergaun hitam ini mengacungkan tangannya di jalan tanpa terlihat sungkan, lebih-lebih takut. Sejujurnya saya ingin bisa sebebas perempuan ini. Hanya saja, kebebasan ini nampaknya tidak berlaku pada turis perempuan, karena…

6. Cowok Kuba Suka Gengges

“Bonita!” ujar seorang lelaki berjalan mendahului sambil menatap saya.“You’re beautiful, where are you from?” kali yang lain lelaki mengenakan kaos hitam menyeringai ke arah saya. “The future is ours!” salah satu lelaki berusia belasan tahun tiba-tiba setengah berteriak membaca tulisan di kaos yang saya pakai. Leering atau pandangan yang terang-terangan diarahkan pada saya dan membuat tidak nyaman seperti foto di atas, juga kerap dilemparkan. Untungnya (khas orang Indonesia banget pakai kata ini) dari pengalaman saya, tidak ada yang sampai di tahap gengges seperti nekat mengejar. Tapi seorang turis kulit putih perempuan asal Inggris sempat bercerita pada saya tentang tindakan-tindakan agresif dari lelaki Kuba. “Ada yang pernah sengaja berdiri menghentikan langkah saya. Mereka benar-benar beraksi, enggak cuma sekadar memanggil-manggil,” kata dia. This is super ngeselin.

Apalagi kalau mengingat menurut Global Gender Gap, indeks kesetaraan gender Kuba menduduki peringkat 27 yang salah satunya ditandai dengan 49% anggota kongresnya adalah perempuan. Indeks kesetaraan gender di Kuba lebih baik dibanding musuh bebuyutannya, Amerika yang berada di posisi 45. Akan tetapi kesetaraan gender di Kuba memiliki sisi lain yang tetap dihantui patriarki. Saya jadi ingat kata-kata Maria Ileana Faguaga Iglesias, antropolog dan sejarawan, yang menyatakan kemajuan kesetaraan gender di Kuba itu terlalu dilebih-lebihkan. “Kita harus membedakan akses pendidikan ke universitas tidak berarti memberikan kekuasaan. Terlebih lagi berada di posisi yang seharusnya berkuasa, tidak selalu berarti memiliki kesempatan mempraktekkan kekuasaan,” tulis Iglesias dalam laporannya. Machismo atau harga diri lelaki yang dipandang dari agresivitas dan dominasi, masih kental berlaku di Kuba. Meski kesempatan berkarir bagi perempuan terbuka lebar, isu seksisme masih umum dihadapi di rumah, tempat kerja maupun area publik. Serupa dengan patriarki yang berlaku di Indonesia.

7. Pizza Basah Pinggir Jalan Is The Best

Harganya cuma 0,5-1 CUC atau 0,5-1 USD untuk satu slice yang berukuran personal pan pizza di Pizza Hut. Kita bisa memilih toppingnya. PIzza con queso (keju) harganya 0,5 CUC sedangkan pizza con hamon (sosis) sekitar 1CUC. Kedai yang menjual bentuknya mungil atau bahkan cuma sekadar jendela dan tidak menyediakan tempat duduk. Habis pesan, silakan makan sambil berdiri. Saat saya membeli pizza di Trinidad, si penjual berulang kali meminta adonan pizza yang sudah jadi dari dapur di belakang warungnya. Si asisten akan memberikan tumpukan adonan yang sudah jadi. Adonan ini dimasukkan ke dalam pemanggang sederhana.

Sekitar lima menit kemudian, satu persatu pizza dikeluarkan, dialasi kertas cokelat seperti pembungkus gado-gado, lalu diberikan pada pembeli. Tekstur pizza ini lembab dan basah. Tapi rasanya, muah banget dan mengenyangkan. Enggak heran orang bela-belain antri demi si pizza basah ini. Ada sejarah yang menarik dari munculnya warung pizza dan resto kecil Italia lain. Saat krisis ekonomi melanda Kuba, makanan Italia dianggap paling mudah dibuat karena kebanyakan hanya butuh tepung dan keju.

 

8. Bangga Dengan Nasionalismenya

Grafiti tiga serangkai pejuang revolusi Kuba, Che Guevara, Fidel Castro dan Camilo Cienfuegos. 

Lagi grafiti tiga serangkai pejuang kemerdekaan Kuba.

Kuba sangat bangga pada benderanya. 

Bendera Kuba berkibar gagah di Hotel Nacional de Cuba. Salah satu hotel termewah dan tertua di negara ini.
Bendera segede alaihim di Museo De Revolucion.
Selain foto-foto di atas, sebenarnya kita juga bisa menemukan grafiti berisi slogan-slogan sosialisme. Sayangnya saya tidak sempat memotret karena biasanya melihat saat perjalanan dengan mobil.
9. Miras murah dan budaya cohiba 
Mojito cuma antara 1-3 CUC/USD. Mojito di resto yang bagus itu cuma 3CUC. Harga yang sama berlaku untuk miras lain seperti Cuba Libre (rum campur coca cola) dan Canchanchara (rum campur madu dan lemon). Satu botol Havana Club berisi 750 ml seperti yang terlihat di belakang si bapak ini harganya cuma 6,95 USD. Ntap!
Untuk cigar atau setempat menyebutnya cohiba, harganya bervariasi tergantung merek dan kemasan. Ada yang 45 CUC/USD dengan isi 6 cigar yang dikemas dalam kotak kayu, ada juga yang 55 CUC/USD untuk 3 cigars dalam kemasan kayu.
10. Kepala Babi Terpampang Nyata
Kepala babi yang berarakan di pasar-pasar Kuba memang suka bikin kaget. Mungkin kita berpikir apakah segitunya banget orang Kuba suka daging babi? Alasannya ternyata jauh lebih kompleks. Pemerintah hanya mengizinkan rakyat Kuba memakan ayam dan babi. Bahkan banyak orang Kuba yang enggak pernah makan daging sapi seumur hidupnya. Sapi adalah binatang yang jumlahnya tidak banyak sehingga dikontrol ketat oleh pemerintah. Semua peternak sapi wajib melaporkan sapi yang dimiliki. Kalau sapi beranak dan pemiliknya telat melaporkan, maka pemerintah akan datang memberikan denda sebesar 500 CUP. Lebih absurd lagi, hukuman bagi orang yang memotong sapi lebih besar dibanding bila dia membunuh orang. Pemerintah secara de facto adalah pemilik semua sapi di Kuba.  Sapi boleh diperas susunya, tapi tidak bisa dipotong oleh pemiliknya. Tapi jangan khawatir, turis masih bisa makan daging sapi. Masih ada menu hamburger (di atas 5 USD), taco carnitas (beef) (sekitar 10USD) dan enchiladas steak (sekitar 15 USD) yang bisa dipesan. Selama mau merogoh kocek lebih dalam.

Liburan ke Kuba selama 7 malam 8 hari meninggalkan kesan yang mendalam untuk saya. Masih banyak cerita-cerita lain tentang Kuba yang menempel di kepala. Ada air mata yang diam-diam meleleh dalam perjalanan saya menuju bandara. Kekaguman, kesedihan dan kemarahan berkecamuk di dada. Dari dalam taksi, ujung mata saya menangkap tulisan besar, ‘Defendiendo el Socialismo,’ atau Membela Sosialisme. Saya teringat mereka yang harus mengeluarkan 10% dari gaji bulanan agar bisa mengakses dunia maya. Seorang lelaki lokal yang berprofesi sebagai petugas cleaning service apotik sekaligus guide yang berkata, “Sandwich seharga 1USD itu mahal buat saya.” Single mother yang anaknya berumur empat tahun mengidap kelainan sistem imun tapi tidak bisa mendapatkan obat yang manjur karena, “Obat itu harus diimport dari Meksiko. Saya yang harus pergi ke sana. Tapi saya tidak punya uang.” Cerita pemilik rumah tempat saya menginap di Havana tentang populasi generasi di Kuba yang semakin menua sebab banyak yang memilih hengkang dari tanah airnya. Arogansi Amerika yang semakin diperparah dengan presiden terbaru yang kembali menghalangi warganya berkunjung ke Kuba untuk alasan berlibur. Kuba, negara perkasa yang malang.

3 Comments

  1. keren artikelnya!. Sebelumnya gak kepikir buat jaddin Kuba sbg destinasi jalan2, tapi abis baca artikel ini sptnya jadi brubah pikiran…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *