Sebagai Turis Perempuan Indonesia, Ini 16 Hal Mengejutkan Dari Menghabiskan Tiga Minggu Di Amerika

 

Sejujurnya saya tidak terlalu memiliki mimpi untuk pergi ke Amerika. Satu-satunya kota di Amerika yang sangat ingin saya datangi adalah New York. Thanks to Sex And The City, Gossip Girl, Breakfast At Tiffany’s, Spiderman dan yang terbaru serial Younger yang settingnya di Brooklyn (plus Nico Tortorella).

Di bulan Desember 2017 saya berkesempatan pergi ke negara yang sedang dipimpin presiden yang doyan ngomel di Twitter ini. Selama tiga minggu saya jalan-jalan di New York dan Washington DC. Kenapa cuma dua kota ini? Karena saya turis sudra doyan nebeng. Di New York ada rumah om yang saya inapi. Di Washington DC saya tinggal di rumah teman saya, Dian, yang bekerja untuk Voice Of America.

 

Postingan ini sebenarnya bentuk kekaguman sekaligus keheranan saya pada Amerika. Negara adikuasa yang banyak menjadi impian, pujaan dan junjungan orang. Negara yang telah mem-brainwash kita dengan kemilau keberagaman, penghormatan hak azasi manusia, cinta sejati ala Mr Big dan Carrie, persahabatan penuh keseruan seperti Friends, pesona Broadway, Sephora, Apple, Starbucks, McDonalds, patung Liberty, Central Park, The White House dan masih banyak lagi pencitraan yang telah membombardir kita selama puluhan tahun. Sebagai turis perempuan dari negara berkembang, sudah saatnya mencecap isi Amerika, bukan sekadar memandang bungkusnya dari kejauhan. Berikut 16 kejutan yang diberikan Amerika pada saya:

 

  1. Tuna wisma di mana-mana.

 

Mereka duduk di antara gemerlap toko-toko di Manhattan yang berhias menyambut Natal, membawa anjing mereka sambil menenteng signage yang kadang isinya witty tapi intinya meminta uang atau teriak-teriak di subway tentang derita dirinya dan pacarnya yang tuna wisma. Sekali waktu saya melihat ada yang sedang makan di foodcourt sebuah mal sembari membawa troli berisi tumpukan barang mereka. Kadang kita kasihan dan memberikan uang padanya, kadang orang-orang menyingkir karena overwhelmed dengan aroma yang menguar dari tubuhnya.

Musim dingin adalah musim yang paling menantang bagi para tuna wisma di Amerika. Strategi menghangatkan diri yang mereka lakukan adalah berada di subway. Baik itu tertidur di kursi stasiun atau duduk manis tanpa tujuan di dalam kereta. Untuk masuk dalam stasiun kereta, mereka acap kali akan berdiri di depan tempat penumpang men-tap metro card-nya. Memohon agar salah satu dari para commuters yang pada umumnya tergesa-gesa (most American are always always in a rush!), untuk mau menyisihkan 3USD dari total kredit yang dimiliki metro card-nya.

Pemandangan ini mengejutkan buat saya karena pada umumnya tuna wisma di Jakarta tidak bisa seenaknya masuk ke area transportasi publik atau mal. Selain itu banyak di antara tuna wisma Amerika yang saya lihat sebenarnya secara fisik masih muda, terlihat sehat dan bukan penyandang disabilitas. US Department of Housing and Urban Development mencatat di tahun 2017 ada 553,742 orang yang pernah menghabiskan satu malam tanpa atap rumah yang menaunginya. Naik 0,7 persen dari tahun lalu dan terbesar sejak Great Recession menghantam Amerika di tahun 2007-2013. Meskipun pemerintah Amerika menyediakan shelter buat tuna wisma, banyak di antara mereka yang menolak masuk karena tidak suka dikontrol.

  1. Subway New York Yang Mirip Kereta Jakarta

 

Yang ini agak bikin kaget, sih.  Kursi plastik berwarna oranye, biru atau silver, lantai berwarna abu-abu gelap dengan titik-titik putih yang seringkali ada bercak noda. Beda paling terasa di tiap kereta ada papan elektronik yang menunjukkan lokasi kereta dan stasiun-stasiun lintasannya. Enggak kayak di commuter line Jakarta yang harus manjangin leher lihat ke luar jendela untuk tahu sekarang kita ada di mana. Zad. Di beberapa stasiun di New York juga keadaannya mirip sama di Jakarta dengan coretan-coretan vandalisme dan sampah di pojokan.

 

  1. Museum-Museum Kelas Dunia Yang Gratis Atau Bayar Semau Kita

 

Bukan rahasia lagi kalau museum-museum di negeri Paman Sam ini sungguhlah warbiyasa menakjubkan dan kelas dunia. Lumayan banget menghabiskan sekitar 2-3 jam di museum-museum ini sambil menghangatkan badan, wifi-an sekaligus kasih makan otak. Memang betul, kebanyakan museum menetapkan harga tiket yang cukup mahal yaitu rata-rata 20an USD. Akan tetapi, kaum sudra jangan bersedih. Mereka memiliki hari saat pengunjung bisa masuk dengan gretong atau pay as you wish (bayar sesuai kemauan kita).

Contoh yang kudatangi:

Museum of Modern Art harga tiket normal untuk dewasa 25 USD. Di hari Jumat jam 4-8 malam disponsori oleh Uniqlo (one of my favorite brand btw), semua orang bisa masuk dengan gratis.

New-York Historical Society harga tiket normal untuk dewasa 21 USD. Di hari Jumat jam 6-8 malam kita bisa masuk dengan membayar berapapun. Satu dollar aja diterima. Mayan kan.

American Museum of Natural History memiliki kebijakan pay as you wish admission kalau membeli langsung di tiket counter. Akan tetapi tidak termasuk special exhibition yang sedang berlangsung.

Brooklyn Museum juga memiliki kebijakan pay as you wish. Mereka hanya memberikan suggested admission 16USD. Kalau kita mau membayar kurang dari itu juga tak masyalah.

9/11 Memorial Museum: Gratis setiap hari Selasa jam 5 sore sampai tutup. Hari Selasa dipilih karena merupakan hari terjadinya insiden 9/11.

Smithsonian Musems di Washington DC: semua gratis! Termasuk di antaranya Air and Space Museum, American Indian Museum, American Art Museum, Natural History Museum, Smithsonian Castle, Smithsonian Gallery dan yang paling baru serta ramai, African American Museum. Untuk yang terakhir ini kamu hanya harus booking jadwal kedatangan di websitenya.

 

  1. Only One Catcall

Saking seringnya digoda, dipanggil, disiul-siul, atau ditatap kayak orang abis puasa seharian ngeliat orange juice, saat di Jakarta, saya pun siap-siap akan mengalami hal yang kurleb sama di Amerika. Kenapa? Soalnya saya kebayang-bayang video ini.

Nyatanya selama tiga minggu di Amerika, cuma sekali saya dipanggil-panggil sama mas-mas pinggir jalan, yaitu saat jalan kaki siang bolong di Colombia Road, Washington DC. Dia memanggil, “Hey beautiful!” sambil melangkah ke arah saya. Mungkin dia, seperti halnya para lelaki di Indonesia yang suka catcalling, pikir kalau ada perempuan dipanggil-panggil cantik, maka ini sebuah pujian yang sungguh membuatnya terbang ke langit ketujuh. Tak pernah terpikir kalau kita justru merasa harus segera ambil langkah seribu atau sekalian siap-siap mau perang.

 

  1. New Year’s Eve di Times Square itu Seperti Di Neraka

Bayangkan berada di suhu -12 derajat Celcius dengan hembusan angin berkecepatan 27 km/jam. Pernah merasa disilet-silet di muka? Ya begitulah rasanya ketika angin membelai mencambuk muka kita. Itulah suhu saat tahun baru di New York yang menjadi terdingin setelah tahun 1962. Bhay!

Ekspetasi

sumber foto dari sini

Realita

 

Demi keamanan tahun baru, sejak siang hari Times Square sudah ditutup barikade. Selain mobil enggak bisa lewat, orang jalan kaki pun belum tentu bisa ke jalanan tertentu. Kalaupun bisa, siap-siap seluruh barang diperiksa oleh polisi yang berjaga. Memeriksanya pun enggak kayak di mal Jakarta yang cuma asal nempel metal detector, ini beneran tasnya dibuka dan diudek-udek. Saking teliti dan konsentrasinya polisi yang mau memeriksa saya, dia enggak sengaja menyenggol kamera dan membuat tutup lensa jatuh ke gorong-gorong bawah jalan. Goodbye tutup lensa kameraku.

 

Semua pemeriksaan dilakukan di tengah suhu lebih dingin daripada freezer. Jadi mereka yang bela-belain berdiri di Times Square sejak sore demi melihat the ball drop on New Year’s Eve sesungguhnya sedang latihan menuju neraka zamharir (dingin yang amat beku) yang sudah diriwayatkan oleh HR Bukhari nomor 3260 dan Muslim nomor 617.

  1. Melamar Pacar Di Depan Orang Banyak Is Still A Thing

Rockefeller Centre di saat Natal sama kayak Monas di musim liburan. Bedanya di Rockefeller saya dan ribuan orang dalam sehari antri demi foto dengan background pohon Natal setinggi 38 meter yang dihiasi lampu-lampu mewah. Di antara antrian itu tiba-tiba saya mendengar orang-orang bertepuk tangan kencang dan berteriak-teriak. Ternyata saat giliran sepasang kekasih berfoto, si lelaki berlutut di depan perempuan di hadapan orang banyak seraya menyodorkan cincin. Lamaran pun diterima. Adegan serupa saya saksikan di layar lebar Times Square ketika detik-detik menjelang pergantian tahun.

 

 

Saya pikir adegan-adegan semacam ini hanya ada di film-film romantis buatan Hollywood. Yah saya cuma berdoa semoga si perempuan beneran mau menikah dengan si cowok, bukan hanya karena lagi diliatin orang banyak aja.

 

 

 

 

  1. Subway New York Yang Tidak Ramah Bagi Disabilitas dan Kaum Manula

sumber foto dari sini

Solusi subway sebagai alat transportasi yang murah, cepat dan aman, tidak berlaku untuk para disabilitas dan manula. Kebanyakan stasiun kereta terdiri dari tangga-tangga yang tinggi tanpa lift atau eskalator. Keamsyongan harus saya rasakan ketika membawa koper seberat 21 kg dari rumah om di Queens menuju halte bus di Manhattan. Dari Google Maps sebenarnya bisa terlihat apakah stasiun yang dituju menyediakan lift atau tidak. Akan tetapi Google Maps hanyalah aplikasi buatan manusia yang ada kalanya khilaf. Stasiun tempat saya berhenti ternyata tidak menyediakan lift. Jadilah saya harus susah payah membawa koper menaiki puluhan tangga daaaan menyeretnya sepanjang lebih dari 1 km di suhu udara -8 derajat Celcius.

Saya baru sadar akses subway New York bermasalah bagi golongan tertentu ketika berada dalam satu bus yang isinya nyaris para nenek dan kakek semua. Ada rasa iba terbit di dada karena seharusnya mereka juga bisa menikmati transportasi yang lebih cepat. Jadi saya sarankan bila kamu ke New York bersama mereka yang berusia lanjut atau disabilitas, sebaiknya pakai bus atau Uber sekalian.

 

8. Diversity di Apple Store

 

Sumber foto dari sini.

Namanya juga ke Big Apple, maka belum sah kalau enggak ke Apple Store #garing. Bertandang ke tokonya kita enggak cuma terkagum-kagum dengan interior tokonya yang simpel tapi modern, acara-acara workshop gratisan yang ditawarkan, kebebasan mencoba berbagai produk Apple. Hal paling utama yang sangat mencolok justru ada pada keberagaman pegawai yang melayani kita. Mereka disebut sebagai Geniuses. Ada perempuan berambut cepak dengan gaya tomboy, lelaki kulit hitam berambut corn row, bapak-bapak berkacamata, cowok hipster berkulit putih, lelaki keturunan Meksiko yang pastinya fasih berbahasa Spanyol, sebagian di antara mereka memiliki tato yang terlihat jelas. Paling mengejutkan saat saya dilayani seorang lelaki berumur sekitar 25 tahun, berperawakan tinggi kurus yang mengenakan anting di kedua kupingnya. Lelaki bernama Allen ini tuna wicara dan tuna rungu. Kami berkomunikasi via iPad-nya. Dia sempat meminta bantuan seorang temannya yang lain yang bisa berbahasa isyarat. Bandingkan dengan sales di Indonesia yang harus memiliki dandanan serupa, bahkan sebuah airlines terkemuka tega menegur customer service-nya bila berat badannya dirasa berlebihan. Sekarang pertanyaannya, siapkah kita, orang Indonesia, sebagai customer dilayani oleh staf dengan aneka ragam penampilan, bahkan sampai yang berkebutuhan khusus?

9. Lebay

Seandainya ada orang kasih saya satu dollar setiap secara tidak sengaja mendengar ada percakapan, “That is the best thing I’ve ever seen,” atau, “Man you’re the coolest ever!”, dipastikan sudah ada ribuan dollar di kocek saya. Dalam percakapan kebanyakan orang Amerika, terutama yang kaum muda, segala hal menjadi ‘paling.’ Bombastis dan dramatis. Lebay. Padahal gitu doang.

 

10. Budaya Kasih Tip

Ini seolah menjadi keharusan di tempat makan atau ngopi. Minimal 18 persen dari total tagihan, lebih bagus kalau sampai 25%. Ini berlaku di tempat ngopi sampai restoran mahal. Beberapa restoran dengan sigapnya langsung memberi tahu berapa tip yang bisa diberikan pada waiter-nya di bon pembayaran. contoh kewajiban ngetip di restoran tempat saya makan.

Memberikan tip adalah sebuah kewajiban di tempat makan karena konon dari situ para waiter justru mendapatkan pendapatan yang besar. Akan tetapi kalau dipikir-pikir sebenarnya kurang adil. Bagaimana dengan mereka yang bergerak di bidang kesehatan, seperti suster atau dokter. Kalau dasar berpikirnya memberikan tip untuk orang yang melayani kita, maka seharusnya mereka juga diberi tambahan uang, dong.

 

11. Ketipu Harga

Hampir setiap state di Amerika menerapkan pajak setiap kali kita membeli sesuatu. Namanya sales tax. Siap-siap dikenakan pajak sebesar 8,75% bila membeli barang atau makan dan minum di New York. Sementara di Washington DC sebesar 5,75%. Apa yang tertera di label harga barang yang ada di rak toko, harganya akan berubah di meja kasir. Seperti apa yang kelihatan dari luar, belum tentu isi hati seseorang #lah. Ada toko-toko kecil yang tidak kasih pajak, seperti toserba di dekat rumah om saya yang barang-barangnya buatan Cina. Jadi kalau mau titip barang dari Amerika, perhatikan ada pajak yang berlaku. Buat kamu yang sudranya udah enggak ada obat, silakan datangi empat state yang tidak memberlakukan pajak, yaitu Delaware, Montana, Oregon, and New Hampshire.

 

12. Konsumerisme Gila-Gilaan

Ada pengakuan dosa yang harus saya lakukan di sini. Saya belanja lebih dari yang saya bayangkan saat berada di Amerika. Jauh lebih banyak.

 

Ya gimana enggak, segala macam beauty products yang mahal bets dipasang harganya oleh online shop seller di Indonesia, bisa didapatkan dengan harga jauh lebih murah di Amrik! Belum lagi kalau kita ke outlet premium brands macam Woodbury. Pergi ke drug store aja nyenengin banget karena banyaknya brand-brand yang bisa ditemukan dengan harga affordable. Enggak heran di musim Natal, orang Amerika belanja gila-gilaan. National Retail Federation Survey mencatat rata-rata setiap orang Amerika belanja 795USD atau sekitar 11 juta rupiah saat menjelang Natal. Di bulan November 2017 saja, Bureau of Labour Statistics melaporkan hanya dari sektor retail dan makanan, Amerika sudah menghabiskan 492 milyard USD atau sekitar 688 trilyun rupiah! Salah satu penyebab utama konsumerisme begitu menjamur di Amerika karena…

 

13. Kemudahan Mengembalikan Barang Yang Sudah Dibeli

Pada akhir Desember saya membeli satu set berisi delapan mini lipstick Kat Von D yang merupakan holiday edition mereka di Sephora cabang Pentagon Fashion Centre, Washington DC yang terletak di depan apartemen Dian.

 

 

Ketika dibawa pulang, tiga di antaranya tidak bisa dibuka. Saya pikir ini persoalan suhu dingin yang ekstrim. Akan tetapi dua bulan kemudian setelah membawanya ke negara-negara tropis di Amerika Latin, tiga lipstick ini tetap tidak bisa dibuka. Kemasan lipstick dan bonnya sudah saya hempaskan ke tong sampah. Kalau di Indonesia, saya pasti sudah memasrahkan diri kepada Dewi Konsumerisme sambil berkata, “Apa salahku Dew?”

 

Tapi di Amerika, hak konsumen sungguh dihargai. Kita bisa mengembalikan barang bahkan sampai tiga bulan ke depan. Dian mengusulkan agar saya coba datang ke Sephora minta pertanggungjawaban mereka. Sampai di Sephora saya ke kasir dan mengutarakan masalahnya sembari mengembalikan lipstik-lipstik tersebut. Mereka sempat mencoba membuka lipstik-lipstik yang bermasalah tadi. Usaha tersebut Alhamdulillah gagal juga. Mereka lantas meminta nomor telepon sebagai bukti saya member di tokonya. Layar kasirnya langsung menunjukkan catatan saya membeli holiday edition mini lipstick Kat Von D. Setelah menyuruh saya mundur karena sebenarnya konsumen tidak boleh kepo melihat ke layar kasir yang menghadap ke arahnya, ia langsung menawarkan untuk mengganti dengan dua buah full size liquid lipstick Kat Von D yang seharga dengan paket sebelumnya. Berhubung merasa lagi enggak butuh lipstick, saya bertanya bisakah dipotong dari pembelanjaan kali ini? Si mbak langsung bilang, “No problem.”

Maka dipotonglah 45USD dari pembelanjaanku hari itu. Terima kasih wahai Dewi Konsumerisme! Saya pun sadar ini yang bikin orang gampang banget belanja. Kalau enggak suka, ya balikin. Seringkali enggak perlu bon fisik karena banyak toko akan kirim bon ke email kita. Ketika mengembalikan barang, bila membayar cash maka akan dibalikin duitnya, bayar pakai kartu kredit, akan segera di-void balik. Pengembalian pun enggak harus di cabang tempat kita membeli, yang penting masih di Amerika. Bahkan ketika kita dikasih kado oleh orang lain pun bisa balikin atau tukar. Makanya kebanyakan pemberi kado akan menyertakan bon pembelian di dalamnya. Optoro, firma yang spesialisasi di bidang pengembalian barang, memperkirakan pada Natal tahun 2017 ada 90 milyard USD barang yang dikembalikan pada penjual. Jadi kalau kado kita enggak disukai oleh si penerima, enggak perlu baper. Toh bisa ditukar atau dibalikin.

14. Donald Trump Is Truly The National Joke

 

Sebelum ke Amerika, saya tahu banyak orang ngata-ngatain Donald Trump di medsos. Setibanya di Amerika, saya jadi mengerti, First Amendment benar-benar tak memandang bulu. First Amendment yang diresmikan Konstitusi Amerika menjamin kebebasan warga untuk beragama, berpendapat dan kebebasan pers. Termasuk di dalamnya menjual secara bebas merchandise yang menyindir Donald Trump. Sebenci-bencinya sama presiden atau politikus tertentu, manalah mungkin kita bisa jualan barang-barang yang menjelek-jelekkan dia? Namun seberapa pun absurdnya Donald Trump, akan selalu ada pendukungnya. Sebagian malah di luar akal sehat kita, seperti…

  1. Ada Imigran Pendukung Donald Trump

Ini adalah sebuah fakta yang sangat mengejutkan saya. Polling nasional menunjukkan di kalangan Latino, 65% memilih Hillary Clinton dan hanya 29% untuk Donald Trump. Di antara 29% ini entah apa maksud alam semesta, lah, kok, bisa-bisanya saya kencan sama salah satunya. Dia generasi kedua imigran Meksiko yang tinggal di Amerika dan pernah jadi tentara. Cover photo di Facebook menunjukkan dirinya lagi tengkurap sambil bersiap menembak dengan senapan laras panjang di tangannya.

 

 

Gleg.

 

But I’m sorry, ‘keseruan’ kencan dengannya di sebuah rooftop bar terkemuka di New York tidak akan saya ceritakan di sini. Saya akan bagikan ceritanya di buku dari travel memoir yang sedang digodok. Jadi nantikan ya geng #sekalianngiklan. Meskipun begitu ini bonus foto dengan dia.

 

 

  1. Dihargai Sebagai Perempuan

New York dan Washington DC tidak punya pemisahan area perempuan dan laki-laki di semua transportasi publiknya. Tapi mereka memiliki kampanye sosial agar korban pelecehan seksual tidak ragu melaporkan kejadian yang dialaminya. Para penumpang perempuan diyakinkan dirinya berharga dan patut dihormati. Ini jauh lebih efektif ketimbang memberikan area khusus wanita di transportasi publik yang diberlakukan di Indonesia. Bisa saja saat melapor si korban yang berada di gerbong biasa malah disalahkan, “Lah kamu kenapa enggak naik gerbong perempuan?”

Museum-museum pun mulai mengenali pentingnya mengikutsertakan perempuan sebagai bagian sejarah. Di bagian Center for Womens’s History di New York Historical Society kita bisa membaca sejarah gerakan suffragate yang dimulai di akhir abad 18 untuk memperjuangkan hak politik perempuan di Amerika.

 

 

Bayangkan gerakan perempuan di Amerika yang sudah ada dari dua abad lalu aja sampai sekarang mereka masih harus bergulat dengan pelecehan seksual di tempat kerja. Gimana di negara kita ini?

Brooklyn Museum punya Elizabeth A. Sackler Center for Feminist Art yang menampilkan instalasi The Dinner Party karya Judy Chicago yang luar biasa indah. Di tahun ‘70an Judy berambisi agar seniman perempuan bisa dihargai dan diakui di dunia seni. Melalui seni keramik Judy menciptakan karya seni berupa piring dengan siluet berbentuk vagina yang didedikasikan pada tokoh-tokoh perempuan inspiratif, baik nyata maupun mitos. Seperi Virgina Woolf, Emily Dickinson, Ishtar, Primordial Goddess. Ada 39 setting di sebuah meja besar berbentuk segitiga yang menandakan kesetaraan yang diatur oleh Judy Chicago. Dalam bayangan Judy, semua perempuan inspiratif ini sedang makan malam bersama untuk kesetaraan perempuan di dunia. Aseli lah sebagai perempuan bakal senang banget lihat pameran ini.

Judy Chicago seniman perempuan asal Amerika, punya cara unik memprotes dunia di tahun ’70an yang sangat patriarkis. Melalui medium keramik, ia sengaja menciptakan karya seni berbentuk piring yang jadi simbol domestifikasi perempuan. Piring-piring tersebut dihias simbol bernuansa siluet vagina dengan ornamen yang terinspirasi perempuan tertentu. Judy Chicago menciptakan mahakarya bernama The Dinner Party. Meja berbentuk segitiga yang bermakna kesetaraan. Di meja tersebut ada 39 tempat yang diatur khusus untuk perempuan-perempuan inspiratif, baik mitos maupun real, yang mengubah dunia. Seperti Virgina Woolf, Ishtar, Primordial Godess, Georgia O’Keefe. Lantai instalasi seni yang terbuat dari keramik putih juga dihiasi 999 nama perempuan yang memberikan kontribusi pada masyarakat. Sebuah karya yang sangat mengagumkan. Rasanya pengin berlama-lama berada di dalamnya, mengamati setiap detail, mencari makna tersembunyi sembari meresapi semangat perjuangan perempuan yang berkobar kuat.

A post shared by Trinzi Mulamawitri (@trinzi) on

Setiap ke toko buku kita bakal melihat banyak deretan buku tentang feminisme. Dari The Second Sex oleh Simone de Beauvoir, Bad Feminist-nya Roxane Gay, On The Road-nya Gloria Steinem, Americanah-nya Chimamanda Ngozi dan masih banyak lagi buku tentang isu perempuan dari penulis yang berasal dari berbagai latar belakang ras serta negara. Saya juga sempat mampir ke toko Bulletin di New York yang isinya barang-barang lucu berslogan feminis. Di toko-toko lain pun kita akan sering menjumpai merchandise feminis, seperti pouch, tshirt, magnet. Semua adalah bukti bahwa wajah perlawanan Amerika adalah perempuan. Dan sangat penting untuk melawan ketika negaramu dipimpin oleh presiden yang mengatakan cara mendekati perempuan itu, “Grab ’em by the pussy.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *