‘Sesak Napas’ Mengunjungi Museum Sejarah Kelam Kulit Hitam di Amerika

Sejak dulu saya suka musik R&B yang dinyanyikan penyanyi kulit hitam. Dari Shanice, TLC, Whitney Houston, Lauryn Hill, Usher. Saya tahu ada sejarah perbudakan di Amerika hanya melalui film-film yang pernah ditonton. Seperti, 12 Years of Slave, Get On The Bus, Ali. Saya tahu kaum kulit hitam masih menghadapi isu rasisme dari tagar #BlackLivesMatter. Perempuan kulit hitam yang rentan mengalami tak hanya rasisme, tapi juga seksisme. Tengok saja puisi-puisi Warsan Shire yang dipakai Beyonce. Saya tahu budaya kulit hitam yang sering mengalami cultural appropriation. Seperti Kylie Jenner yang bangga memamerkan rambut corn row-nya, tapi sedikit pun tak pernah menggunakan pengaruh besarnya angkat bicara tentang insiden tewasnya beberapa lelaki kulit hitam di tangan polisi kulit putih. Ironis melihat budaya kulit hitam baru dianggap keren bila dipakai oleh kulit putih. Tapi seolah nyawa mereka tak ada artinya.

Adalah teman saya, Dian, yang berkata bahwa National Museum of African American Cultural History (NMAAHC) banyak dikunjungi orang karena masih terbilang baru, yaitu berdiri 24 September 2016. Layaknya orang Jakarta pada umumnya yang gampang terpancing dengan hal-hal baru agar bisa dibilang ‘trend setter,’ saya lantas tertarik mengunjunginya. Yeah, well selain itu karena saya cukup tertarik dengan isu feminisme yang diusung perempuan kulit hitam. Dari feminisme permen karet ala Beyonce, sampai feminisme Vodka ala Audra Lorde.

Salah satu hal paling menyenangkan di Washington DC adalah tidak ada biaya apapun untuk sebagian besar museum yang ada di sini, termasuk (NMAAHC). Suatu hal yang sangat mewah, mengingat museum ini sangatlah megah dan menarik. Tidak hanya dalam hal fasilitas, tapi juga cara bercerita. Tidak hanya memberikan pengetahuan kepada otak, tapi juga menyentuh rasa. Sesuatu yang sangat jarang dimiliki oleh museum-museum lain. Tidak cuma diorama dan foto-foto, tapi juga patung, kereta dengan tempat duduk yang dibedakan dari warna kulit, pos penjaga penjara. Pengunjung tak cuma dikasih asupan, tapi juga bisa interaktif berpartisipasi. Seperti mengikuti kuis digital interaktif tentang gerakan-gerakan perjuangan kulit hitam. Oya, walaupun gratis, kita tetap harus booking free pass melalui websitenya. Kalau mau datang langsung bisa, tapi metode ini tidak berlaku saat wiken.

 

Perjalanan rasa dimulai dari menaiki lift sebesar dua puluh meter persegi bersama sekitar 20 orang. Kami diantar ke level paling awal, C3- Slavery and Freedom 1400-1877. Lorong ini menampar saya bolak balik depan belakang. Perbudakan di Amerika dimulai dari abad ke-14 saat Eropa mulai berusaha menguasai dunia. Mereka butuh orang-orang kuat yang mau membangun infrastruktur sekaligus menggali sumber daya alam. Pertukaran uang terjadi antara pemerintahan Amerika dan Afrika. Ribuan warga Afrika dikirim melalui perahu menuju benua Amerika di abad ke-16 untuk mengembangkan usaha tembakau di Virginia. Sebuah lorong pameran didedikasikan untuk menunjukkan perjalanan malang yang harus dilakukan para calon budak ini. Narasi dari tulisan-tulisan bersejarah yang memuat testimonial budak-budak yang mengikuti perjalanan menggema dalam ruangan. Dua buah kayu sisa perahu yang pernah dipakai perjalanan pada masa tersebut turut terpajang menambah merinding suasana.

 

Era ini juga memperlihatkan perjuangan kulit hitam menjadi prajurit saat perang Amerika melawan Inggris. Warga Afrika dihadapkan pada pilihan akan membantu bangsa yang mana. Baik Amerika maupun Inggris berlomba-lomba menawarkan kemerdekaan bagi para budak. NMAAHC meng-highlight paradoks kemerdekaan yang diperjuangkan Amerika. Satu sisi mereka ingin merdeka dari penjajahan, tapi di sisi lain, mereka masih menjajah bangsa lain.

Kabin yang pernah berada di ladang pinus Pulau Edisto, South Carolina pada 1853-2013. Di masa perbudakan, kabin ini dijadikan tempat berlindung, berteduh, dan berkumpul.

 

Nyatanya setelah perang, masih ada 697.897 Afrika Amerika yang masih menjadi budak, dan hanya 59.466 yang sudah merdeka.

Patung Phillis Wheatley. Pada umur tujuh tahun (1761), ia dikirim dari Senegal ke Amerika. Sebagai budak perempuan, ia menguasai bahasa Inggris, Latin dan Yunani dan dianggap sebagai simbol prestasi anti perbudakan.
Borgol yang dipakai para budak pada abad ke-17.

 

Dr. J Marion Sims dianggap sebagai ‘bapak ginekolog Amerika.’ Usahanya dimulai dari melakukan eksperimen terhadap sepuluh budak perempuannya selama empat tahun tanpa obat bius. Ini alat-alat yang dipakai bereksperimen. Gilaa! Fakta ini beneran sih bikin merinding!
Ada jejak-jejak perbudakan di seantero Amerika yang tidak bisa disangkal.

 

Masuk ke level C2 – Defending Freedom, Defining Freedom: The Era of Segregation 1876 – 1968. Meski masa perbudakan sudah berakhir, alih-alih mendapat kewarganegaraan, Afrika Amerika menghadapi bentuk baru penjajahan. Dari pemisahan ruang antara kulit hitam dan putih di transportasi publik, sekolah yang dibedakan, kesenjangan fasilitas, ancaman kriminalisasi, gerakan Klu Klux Klan. Di sini saya jadi tahu istilah lynching atau main hakim sendiri oleh kulit putih pada kulit hitam dengan hukuman mematikan. Banyak terjadi kasus lelaki kulit hitam dibunuh di depan umum karena dituduh memperkosa atau melecehkan perempuan kulit putih. Hukuman dijatuhkan tanpa proses hukum sama sekali. Lynching is a way to protect womanhood, kata salah satu video yang dimainkan. Lynching merupakan aksi teror yang diarahkan pada kulit hitam untuk menciptakan ketakutan sehingga membatasi gerak mereka.

 

 

Salah satu korban lynching yang mendapat porsi khusus di NMAAHC adalah Emmet Till. Bocah berusia 14 tahun yang tewas dimutilasi setelah diculik dari rumah pamannya karena dituduh sudah catcalling perempuan kulit putih. Ibu Emmett, Mamie Till, bersikeras mengadakan pemakaman dengan membuka peti mati agar hadirin bisa melihat bukti penyiksaan yang dilakukan terhadap mendiang anaknya dan membandingkan dengan foto terdahulunya. Keberanian Mamie menggugah semangat kulit hitam sehingga menggelorakan unjuk rasa di berbagai daerah.

sumber foto dari sini.

Peti mati Emmett Till secara khusus dihadirkan di NMAAHC. Pengunjung tidak boleh memotret. Di dalamnya ada foto jasad Emmet Till. Tapi peti mati sengaja diletakkan dalam posisi yang tinggi, sehingga pengunjung harus berjinjit untuk melihat sekilas. Hanya dari sekilas pandangan kita pun sudah dapat menangkap penyiksaan sadis yang menewaskan Emmett Till. Bagian ini benar-benar membuat bulu kuduk merinding.

Mamie Till adalah salah satu dari deretan perempuan-perempuan kulit hitam perkasa yang menorehkan sejarah di Amerika. NMAAHC sangat menghargai perjuangan mereka yang selama ini jarang disorot. Di setiap lantai selalu ada perempuan yang menorehkan sejarah Afrika Amerika.

Ada satu tempat khusus kita bisa duduk menyaksikan pemutaran film singkat yang diproduksi Smithsonian Gallery tentang gerakan-gerakan perempuan yang mendorong kemerdekaan kulit hitam. Di antaranya Daisy Bates yang memperjuangkan sembilan murid kulit hitam untuk masuk ke Little Rock Central High School, yang dulunya hanya untuk kaum kulit putih, pada tahun 1957.

 

Layar interaktif untuk pengunjung menjawab serangkaian pertanyaan.

Aroma semangat dan positivisme menyambut kita di level C1 – A Changing America 1968 and Beyond. Nuansa desain berwarna oranye dan hitam berpadu kontras melambangkan unsur modernisme. Budaya kulit hitam mulai masuk dalam kultur pop mainstream. Dari Michael Jackson sampai Oprah Winfrey. Yang mana yayasan Oprah Winfrey turut menyumbang lebih dari 20 juta dollar untuk museum ini. Pada era ini terlihat Afrika Amerika menampakkan eksistensinya di segala bidang, bahkan mampu menjadi presiden Amerika.

One of my favorite spot!

 

Tapi benarkah Afrika Amerika sudah terbebas dari segala bentuk rasisme? Apakah artinya menjadi kulit hitam di Amerika sekarang? Bagaimana dengan generasi selanjutnya yang semakin banyak keturunan biracial? Bagaimana posisi warga kulit hitam dengan imigran dari negara-negara lain yang menetap di Amerika? Tantangan selanjutnya menurut Naomi Murakawa bukan sekadar rasialisme, tapi ‘colorblindness’ atau buta warna. Yaitu menolak memahami penyebab dan konsekuensi terjadinya rasialisme yang sudah sistemik. Ada akar rasisme yang sudah terbangun sejak ratusan tahun lalu. Stereotipe yang telanjur menyebar. Ada white washing dan white supremacy yang menyebar ke seluruh dunia. Ada white privilege yang memberikan keuntungan dan fasilitas pada kulit putih tapi tidak pada kulit berwarna. Bisa dibilang tantangan Afrika Amerika sama dengan tantangan kita, warga Indonesia, sebagai bagian people of color. Bagaimana kah kita mendefinisikan kemanusiaan dan keadilan di tengah globalisasi yang semakin menghilangkan sekat-sekat kasat mata?

Berada di NMAAHC selama dua setengah jam rasanya tidak cukup. Otak seolah digegarkan dan kembali diingatkan bahwa manusia adalah binatang paling biadab di muka bumi. Violence is man made indeed. Beberapa kali saya harus menahan tangis membaca pelbagai fakta sejarah. Terutama yang berhubungan dengan nasib perempuan dalam perbudakan. Saya melihat sekeliling juga terpekur, saling memeluk dan menguatkan.

Museum ini mengerti kegalauan kita. Di akhir area, silakan merefleksikan diri di Contemplative Court. Air deras turun dari langit-langit dalam bentuk lingkaran. Bersama gema air yang berjatuhan dan kilatan lampu LED yang menghiasinya, duduklah di samping kolam yang berisi koin-koin dari pengunjung. Seraya membaca quotes Martin Luther King Jr di depannya, We are determined… to work and fight until justice runs down like water and righteousness like almighty stream.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *