Memutus Rantai Kekerasan Terhadap Perempuan Dimulai Dari Kode Cinta Orangtua Pada Anak Lelaki

 

Setahun lalu saya bersama tim di cewekbanget.id sedang mencari media partner untuk mempromosikan acara grand launching website kami, Digiday. Pemimpin redaksi sebuah media remaja lelaki meminta kami membuat content yang lebih mendalam tentang Digiday. Rekan kerja saya mengusulkan content tentang bahaya catcalling. Apa jawaban yang ia terima? “Wah enggak bisa. Itu sudah kebiasaan cowok. Kita enggak bisa ganggu. “

 

Saat membuat tulisan ini, saya mencari adakah artikel dari situs parenting di Indonesia yang memberikan tips agar anak lelaki tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan atau memperkosa. Hasilnya mengezutkan. Di antara ribuan artikel tentang tips pengasuhan di jagat maya Indonesia, nyaris tidak ada tips yang membantu orangtua membesarkan anak lelaki yang tidak akan melakukan kekerasan terhadap perempuan. Kebanyakan mencegah anak menjadi bully. Agak mirip, sih, tapi kurang spesifik.

Intervensi terhadap anak dan remaja lelaki untuk tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan justru mulai sangat digalakkan di luar negeri. Jargon teach men not to rape cukup kuat bergaung. Berbagai organisasi sosial membuat gerakan-gerakan yang targetnya lelaki. Coaching Boys Into Men  memberikan pelatihan pada para atlet lelaki di sekolah tentang pelecehan seksual, dari dampak catcalling sampai consent. Materi training disebarkan langsung oleh para pelatih tim.

 

Men Can Stop Rape didirikan sejak tahun 1997 di Amerika. Mereka mengadakan training dan kampanye social media bertujuan membebaskan para remaja pria dari konsep tradisional maskulin dan menciptakan relasi sehat dengan perempuan.

Mengapa harus menargetkan pada lelaki? Komnas Perempuan  mendapatkan data dari 359 Pengadilan Agama di 34 provinsi, bahwa pada tahun 2016 ada 245.548 adalah kasus kekerasan terhadap istri yang berujung pada perceraian. Can you imagine that? Ini berarti setiap hari ada 672 kasus perceraian karena istri mengalami kekerasan dari suami pada tahun 2016! Dan kamu masih berpikir kekerasan terhadap perempuan itu tidak ada?

 

 

Studi yang dilakukan Thomson Reuters Foundation menempatkan Jakarta di kota kelima yang paling tidak aman bagi perempuan pengguna transportasi umum.

Menurut Verauli, psikolog keluarga, mencegah anak lelaki agar tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan akan sangat efektif bila dimulai sejak anak pra sekolah. Verauli menekankan pentingnya kode cinta yang diterima anak sejak kecil. “Kenapa disebut kode cinta, karena penghayatan soal cinta yang akan menentukan bagaimana anak akan berespon terhadap sosial,” ujar ibu dua anak lelaki ini.

Kode cinta yang diterima anak terdiri dari kode cinta primer dan sekunder. Kode cinta primer terjadi melalui penghayatan anak terhadap kasih sayang yang diberikan kepadanya. Pelukan, pujian, kehangatan serta kepercayaan yang ditunjukkan langsung. Sementara kode cinta sekunder dipahami dari cara ibu dan ayahnya berelasi.Sometimes ada ibu yang agresif atau kedua orangtua agresif. Artinya orangtua sedang mengajarkan pola agresivitas pada anaknya,” jelas Vera. Studi yang dilakukan National Domestic Violence Hotline menemukan lelaki yang menyaksikan KDRT di masa kecilnya, memiliki kemungkinan dua kali lebih tinggi menjadi pelaku kekerasan terhadap pasangannya.

Apa saja contoh-contoh kode cinta yang bisa diajarkan pada anak lelaki agar tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan?

  • Mengajarkan sentuhan yang baik dan buruk

Kode cinta primer dari mengajarkan anak tentang kasih sayang atau kekerasan tidak bisa dilakukan dengan semata mendikte. Ada anak kecil yang terlatih mengekspresikan diri dengan memukul. Karena ketika dia memukul, orangtuanya hanya melarang untuk mengingatkan jangan memukul dan agresif. Akhirnya anak hanya tahu itu memukul dan agresif tanpa tahu apa sentuhan yang lebih baik. “Waktu anakku masih kecil kalau dia memukul, aku bilang ke dia, ‘Itu kan sakit.’ Aku pegang tangannya, mengusap-usap dengan lembut dan bilang, ini kan enak. Ini love. Emotion word yang diperkenalkan bukan tentang yang pukul dulu, kita kenalkan yang lembut-lembut dan positif,” ungkap pengarang buku Cerita Cinta: Memahami Cinta Sejati ini.

Sumber foto dari sini.

Vera mengkritisi metode parenting yang langsung mengajarkan anak agar menolak disentuh. “Enggak bisa strict dan kaku. Karena dia akan bertemu dengan situasi-situasi yang menuntutnya untuk bersentuhan. Dengan mengajarkan mana bad touch dan good touch sejak usia pra sekolah, anak mampu menunjukkan kasih sayang dengan tepat sekaligus tahu ketika ada orang yang menyentuhnya dengan tidak baik.

  • Melatih otoritas tubuh diri sendiri dan orang lain.

Pemahaman tentang otoritas tubuh bisa dipupuk sejak dini dengan memberikan otonomi pada anak. Dalam bahasa psikologi anak disebut autonomy granting. Morris SJ Silk dan koleganya dalam jurnal Psychological Control and Autonomy granting: Opposite Ends of a Continuum or Distinct Constructs?, menyebutkan autonomy granting sebagai dorongan orangtua pada anaknya agar mau mengekspresikan diri dan mengambil keputusan. Ini merupakan kode cinta karena berarti memberikan kepercayaan kepada anak.

Berdasarkan kasus-kasus yang diterima Vera, pemberian otonomi bagi anak sulit dilakukan orangtua. Penyebab utamanya karena Indonesia memiliki pola pengasuhan feodalisme karena pernah terjajah selama ratusan tahun dan budaya patriarki. Orangtua sulit bernegosiasi dan memberikan kendali pada anak. Padahal anak mulai belajar memiliki otonominya sejak umur 2-3 tahun saat mengembangkan konsep aku-nya dan belajar menggunakan toilet.

“Sekitar usia 4 tahun, bila anak tidak mengalami gangguan, ia akan naturally mampu toilet training. Dia mulai punya otoritas atas diri dan tubuhnya. Dia mau pipis atau buang air besar. Dibersihkan oleh siapa,” jelas Vera. Kadang anak akan menolak pakai celana setelah buang air kecil atau besar. Vera menyarankan agar orangtua jangan langsung memarahi. Anak diberi pemahaman celana dipakai agar tidak malu. “Orangtua yang hangat mampu menerapkan disiplin dengan mengarahkan dan menjelaskan. Anak tetap punya kendali atas dirinya,” ungkap Vera. Implikasinya lama kelamaan anak pun sadar otoritas tubuh tentang dirinya sekaligus orang lain. Anak juga mengerti bahwa dia bisa berkata tidak atau ya, yang akan didengarkan dan diikuti oleh orang lain.

 

  • Berikan kesempatan speak up saat ada yang salah.

Alan Berkowitz dalam studinya tentang A Complete Guide to Bystander Intervention (2009) mencatat 80% dari lelaki yang melihat perempuan dilecehkan merasa tidak nyaman tapi enggan melaporkan. Ada perasaan seolah cuma mereka sendirian yang merasakan. Menurut Verauli, melatih anak lelaki menjadi bystander yang mau bersuara, dilakukan di proses pemberian otonomi oleh orangtua. Dengan mengajarkan anak mau berbicara atau beropini, maka ia akan lebih terpanggil menjadi kritis bila melihat sesuatu yang menurutnya salah.

  • Membagi pekerjaan rumah tangga dengan pasangan secara adil

Kathleen McGinn, professor dari Harvard Business School berkata, “Lelaki yang dibesarkan oleh ibu bekerja cenderung lebih egaliter dalam sikap tentang gender.” Anak butuh sekadar kata-kata, mereka melihat aksi. Orangtua sebaiknya menunjukkan pembagian peran tugas rumah tangga yang tidak terpatok gender. Ayah maupun ibu semuanya bisa memasak, mencuci, menyapu sekaligus punya kesempatan bersantai sambil baca koran.

  • Stop berkomentar sexist di depan anak

Ketika anak melihat ayah mengejek ibu dengan becandaan sexist seperti, “Ibu kerjanya di dapur sajalah, enggak usah kerja di luar,” atau, “Jadi istri itu harus cantik, dong. Biar ayah senang di rumah,” ia akan merekamnya menjadi kebenaran. Hubungan dengan pasangan yang hangat seharusnya tidak diwarnai becandaan yang merendahkan gendernya. Kalau harus mengkritik pasangan di depan anak, lakukan secara konstruktif. Misal, “Ibu cantik kalau pakai lipstick merah, deh. Tapi kalau lagi pengin pakai lipstick cokelat juga enggak apa-apa.” Orangtua juga harus berhenti mengurangi penggunaan stereotype negatif yang justru membatasi anak mengekspresikan emosinya secara sehat. Seperti, “Anak lelaki enggak boleh menangis!” Karena riset membuktikan sampai berumur 5 tahun anak perempuan maupun laki-laki memiliki frekuensi menangis yang sama. Pada umur 5 tahun anak lelaki mulai mendapat pemahaman bahwa menunjukkan ekspresi marah lebih diterima daripada perasaan lain, seperti menangis, ujar Tony Porter, co founder A Call To Men.

  • Beri contoh figur yang baik

Riset David Autor dan Melanie Wasserman menemukan tren anak lelaki secara akademis dan karir mengalami stagnasi dibandingkan perempuan karena tidak melihat sosok ayah yang bertanggung jawab. Sehingga penting bagi ayah menunjukkan bahwa ia tidak hanya menafkahi tapi juga mau membantu ibunya sebagai bukti kasih sayang pada keluarga. Tim King, founder dari Urban Prep Academis untuk keluarga pra sejahtera, menemukan anak dari single mother biasanya menghargai perjuangan perempuan. Beri contoh sosok perempuan yang sukses dan bicarakan prestasinya, seperti Sri Mulyani, Susi Pudjiastuti. Sodorkan panutan sosok lelaki yang berhasil tapi juga menghormati perempuan. Sebutkan bentuk penghormatannya pada perempuan, contoh Habibie yang sangat menyayangi istrinya dan Quraish Shihab yang memberikan kebebasan pada anak-anak perempuannya.

  • Kehangatan interaksi antar ayah dan ibu

“Ketika relasi orangtua hangat, ayah lebih terlibat pada pengasuhan anak. Peran ayah dan Ibu yang seimbang meningkatkan kesejahteraan sosial anak,” ungkap Vera yang sudah belasan tahun menjadi psikolog. Vera mengaku setiap ada pasien yang mengeluh kenapa suaminya tidak terlibat pengasuhan anak, maka ia akan menggali hubungan pasien dengan suaminya. Kehangatan relasi terjalin karena banyak hal, satu yang menurut Vera penting tapi sering diabaikan adalah adanya kepuasan hubungan seksual antara ayah dan ibu. “Kehidupan seks yang saling memuaskan itu tidak mudah. Makanya jangan GR dulu punya istri banyak. Satu istri bisa kamu puasin secara seksual belum?” kata Vera yang sering menerima kasus kekerasan seksual suami terhadap istri. Istri berhak mendapatkan kenikmatan seksual, tapi untuk mencapainya diperlukan komunikasi yang baik dengan pasangan. Bila dalam hal tempat tidur suami mau menghargai kebutuhan istri, maka begitu pula di aspek kehidupan lain.

Sebagai penutup, sejujurnya saya bukan ibu dari anak lelaki. Saya hanya memiliki keponakan lelaki berumur setahun bernama Razata. Dengan memasukkan sumber psikolog dan hasil riset mudah-mudahan saya enggak sotoy sih. Karena saya berharap bisa menjadi bude yang sedikit banyak bisa memberikan pencerahan terhadap Razata bahwa perempuan memiliki posisi yang setara dengan lelaki dan memanusiakan perempuan. Saya berharap saat Razata tumbuh besar, ketika ada temannya yang catcalling perempuan, ia akan berkata, “Bro, lo norak deh.

 

 

 

Sumber foto utama dari sini.

 

Ini adalah tulisan ke enam belas dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017. Mohon maap telat sehari karena pada tanggal 10 Desember ada banyak kegiatan, yaitu menjaga booth di Festival Relawan bersama Jakarta Feminist dan menonton drama musikal yang diperankan penyintas Ode Tusuk Konde. Terima kasih sudah membaca keenam belas tulisan saya selama 16 hari. Pengalaman menulis secara maraton ini telah memberikan saya banyak hal yang berharga, seperti waktu itu berharga  (begadang mulu cuy!) dan menerima curhatan dari teman-teman baru melalui direct message atau email. Saya juga sadar masih banyak kekurangan atas semua tulisan. Blog ini hanya sebuah langkah kecil agar teman-teman sadar bahwa kekerasan terhadap perempuan nyata adanya. Dan perjuangan saya bersama teman-teman penggiat isu perempuan akan terus berlanjut.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *