Kisah Penyintas: Di Manakah Negara Dalam Membantu Pemulihan Korban?

Trigger warning: pemerkosaan, incest.

 

Saya menjumpai ibu Intan (bukan nama sebenarnya –red) di sela-sela gladi kotor drama musikal Ode Tusuk Konde. Ia memegang botol minum berisi kacang hijau, “Ini makanan saya. Soalnya saya lagi dilarang makan makanan sembarangan,” ucapnya. Tiga hari sebelumnya janji kami dibatalkan karena ibu Intan terkena tipes. “Saya kuatkan diri datang. Sudah latihan berbulan-bulan, masa enggak jadi tampil,” sambungnya sambil tertawa. Suaranya renyah dan lantang. Tak ada tanda kelelahan nampak di dirinya meski telah menghabiskan waktu berjam-jam latihan. Antusiasmenya menjadi bagian dari penyintas yang akan tampil di Ode Tusuk Konde adalah bentuk dedikasinya pada LBH Apik yang telah mendampinginya di masa-masa tersulit dalam hidupnya. “Buat LBH Apik, apapun saya lakukan,” tegas ibu tiga ini.

Tahun 2014 menjadi tahun yang sangat melelahkan bagi Intan dan keluarganya. Bermula dari kerisauan Anak perempuan terakhirnya, Rina (juga bukan nama sebenarnya-red) yang masih berusia 15 tahun. “Dia mematikan semua lampu di kamar saya. Mengajak saya bersembunyi di balik bed cover. ‘Ibu aku takut,’ ujarnya berulang-ulang. Saya mengajak dia jalan-jalan keesokan harinya supaya dia tenang,” cerita Intan. Pada pukul 4 pagi, Rina sudah mengenakan baju rapi siap pergi dari rumah dan meminta diantarkan ke dokter. Rina mengeluhkan rasa sakit di perutnya. Dokter yang menemuinya di ruang UGD menyatakan Rina secara fisik tidak sakit, tapi mengalami guncangan jiwa.

Intan terus membujuk Rina agar mau bercerita kegelisahannya. Setelah berulang-ulang berkata ia takut, Rina akhirnya bercerita ayahnya telah memperkosanya. Bagai dihujam pedang di dada, Intan terhenyak. Ia mulai berpikir apakah yang dikatakan anaknya benar, atau jangan-jangan yang menganiayanya teman atau pacar Rina. Tapi anaknya sungkan bergaul dengan lelaki dan sehari-hari mengenakan jilbab panjang. Apakah mungkin lelaki yang sudah dinikahinya belasan tahun dan merupakan bapak dari tiga anaknya, tega memperkosa anak kandungnya?

Ajakan Intan pulang ke rumah ditolak tegas oleh Rina, “Aku enggak mau pulang. Aku mau pergi jauh.” Intan terpaksa mengungsikan Rina ke rumah adiknya. Sesampainya di sana, Intan menyaksikan semua emosi yang selama ini ditahan Rina membuncah ke permukaan. Ia menangis, berteriak dan melakukan tindakan-tindakan yang berbeda dari biasanya. Galon berisi air mineral diangkat-angkat oleh Rina dengan mudahnya. Melihat luapan emosinya, Intan mengerti pengakuan Rina adalah kejujuran yang sejujur-jujurnya. Ia sebagai ibu harus mencari keadilan bagi anaknya. Meski itu berarti harus mengancam keutuhan keluarganya.

Pernikahannya dengan Tono (bukan nama sebenarnya) yang sudah berjalan belasan tahun telah meninggalkan luka yang tak sedikit. Di tahun 1998, Tono memilih pensiun dini agar mendapatkan pesangon untuk modal usaha. Bukan keuntungan yang diperoleh, mitra usahanya malah menipunya. “Waktu itu anak masih kecil-kecil, masih butuh biaya sekolah,” cerita Intan.

Penghasilan Intan sebagai agen asuransi menjadi sumber dana utama keluarga sementara Tono bekerja serabutan sebagai supir. Tahun 2010 pernikahan mereka diterpa badai ketika anak keduanya, sebut saja bernama Dita, memergoki Tono bermesraan dengan perempuan lain,. “Ibu mati-matian cari uang untuk kita sekolah, tapi dia malah pacaran sama orang lain!” gugat Dita. Dalam puncak kekesalannya Dita mengemasi semua pakaian ayahnya dan meninggalkannya di depan rumah nenek kakeknya, mertua Intan.

Intan sudah membulatkan tekad untuk bercerai, tapi Tono kembali datang minta maaf dan memohon belas kasihannya. “Dia sempat bilang, aku bakal patuh kalau kamu tinggal di rumah,” cerita Intan. Permintaan tersebut ditolak tegas. “Mau kamu saya di rumah, anak enggak sekolah? Bapaknya saja keren bawa mobil, anaknya enggak kuliah. Gimana itu? Saya enggak mau dilecehkan,” Intan mengulangi perkataannya pada Tono. Tangannya mengepal dan sorot matanya tajam memandang kejauhan. “Kalau hidup ini kaset yang bisa diulang, saya memilih tidak menikah,” bebernya. Beberapa detik kemudian ia menambahkan, “Tapi ini sudah suratan hidup. Kalau tidak begini, saya tidak akan ada di sini, jadi bagian advokasi kekerasan terhadap perempuan.”

Tekad bulat menuntut Tono setelah mendengar pengakuan Rina adalah hal tersulit yang pernah dilalui Intan. Selain berusaha mengurus proses hukum, Intan harus berhenti kerja demi mendampingi Rina menghadapi traumanya. Pemerintah yang diharapkan bisa memberikan bantuan nyaris tidak hadir sama sekali. Dimulai dari rekomendasi polisi untuk mengadukan kasusnya ke P2TPA (Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak) Depok. Nyatanya hanya ada petugas kebersihan yang berjaga. “Ibarat burung, ini adanya kandangnya doang,” tukas Intan.

BPJS tidak bisa diandalkan berkaitan kasus darurat anaknya karena ia tetap dituntut mengikuti antrian. Intan harus membawa anaknya ke psikiater agar mendapatkan obat penenang. Kejaksaan Tinggi Depok menganggap kasusnya sebagai pasal karet yang sulit diproses. Belakangan baru diketahui bahwa Tono dan keluarganya sudah melakukan manuver yang membuat kejaksaan enggan memproses.

Harapan terang baru diperolehnya saat bertemu Nyi Imas dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak yang melakukan inspeksi mendadak kepada P2TPA Depok dan Zuma dari LBH Apik. Berkat bantuan mereka, Intan maju ke Mahkamah Agung dan melayangkan tuntutan kepada Kejaksaan Tinggi Depok yang menghambat kemajuan proses hukumnya. Para pejabat di kejaksaan tersebut pun ketar-ketir dan memperlancar jalur pengadilan.

Keadaan Rina yang masih rapuh membuatnya harus dikuatkan setiap menghadiri pengadilan. Adalah Kristi Purwandari, psikolog dari Fakultas Psikologi UI yang turun tangan memberikan dukungan emosional berkat referensi dari adik Intan. “Setiap minggu saya ke rumahnya. Bu Iput memberi tahu Rina supaya tidak melihat ke pelaku. Jaga pandangan ke hakim dan membayangkan hakim memakai baju biasa.” Proses sidang berlangsung hingga Agustus 2014. Tono akhirnya dijatuhi hukuman 14 tahun penjara dan denda kerugian satu milyar.

Bantuan-bantuan tak terduga yang diterima Intan menguatkan dirinya secara fisik maupun emosional. Selama bertahun-tahun sejak proses pengadilan, tidak sekali pun Intan jatuh sakit. “Baru sekarang saya sakit sampai ke dokter,” ujar Intan tertawa mengingat penyakit tipes yang sedang menderanya. Ia biarkan air mata menetes hanya bila sedang sendiri. Tak pernah di depan anak-anaknya karena takut akan membuat mereka patah semangat. Sekarang Intan memperoleh penghasilan melalui berjualan kue jajanan pasar. Spesialisasinya kue jongkong. Kedua anak tertuanya sudah bekerja dan memilih tinggal sendiri.

Rina yang sempat keluar dari sekolah, sekarang sudah menamatkan jenjang SMA dan terdaftar di sebuah universitas. Namun ia sedang cuti kuliah karena masih sulit masuk ke lingkungan baru. Terapi bersama psikiater masih dilakukan. Harga obat yang ditebusnya hampir dua juta rupiah setiap kali berobat. LBH APIK kerap membantu meringankan biaya pengobatan. Tapi untuk biaya kuliah Rina, Intan harus merelakan enam juta rupiah keluar dari kocek pribadinya.

“Di mana peran pemerintah pada pemulihan korban dan keluarganya? Ada banyak beasiswa untuk anak yang pintar tapi tak mampu. Bagaimana dengan anak-anak korban kekerasan?” gugat Intan. Marah dan sedih bercampur dalam nada bicaranya. Saya jadi teringat kata-kata Azriana, ketua Komnas Perempuan. Dalam kasus inses, bukan hanya anak yang diperkosa yang harus dilihat sebagai korban. Pihak yang harus dipulihkan bukan cuma anak, tapi ibunya. Bahkan mungkin satu keluarga yang telanjur mendapat stigma dari masyarakat. Banyak kasus kekerasan yang korban dan keluarganya harus kehilangan pekerjaan, menerima stigma negatif, jualan tidak laku dan lain sebagainya. Pemulihan bukan cuma faktor ekonomi, tapi juga psikologis, medis dan pemulihan posisi di masyarakat.

Salah satu tujuan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang sedang digulirkan oleh Komnas Perempuan adalah negara wajib memberikan pemulihan untuk korban dan keluarganya. Berbeda dengan denda ganti rugi memang diberikan pada pelaku. “Misalnya setidaknya negara bisa membantu lima puluh persen uang pendaftaran kuliah anak saya,” ujar Intan.

Hidup bukan dongeng yang happily ever after ketika sanksi dijatuhkan dan terdakwa diberikan hukuman seberat-beratnya. Hidup tetap berjalan bagi korban beserta keluarganya. Rina tetap harus menyembuhkan dirinya dari trauma sekaligus merencanakan masa depan yang lebih baik. Demi mendampingi anaknya, Intan harus mencari pekerjaan yang fleksibel, walaupun penghasilan tak lagi sebanyak dulu. Intan kini menjadi salah satu paralegal yang mendampingi korban kekerasan seksual. Luka itu ada. Luka itu nyata. Luka itu tak mudah sembuh.

Intan menutup wawancara dengan mengatakan meski pelbagai halangan sempat menghadangnya, ia tak pernah patah semangat menuntut keadilan. Data Komnas Perempuan mencatat sejak tahun 2012 Indonesia telah mengalami darurat kekerasan seksual. Setiap hari setidaknya ada 35 anak dan perempuan yang mengalami kekerasan seksual. Akankah pemerintah mengakomodasi rakyatnya mendapat keadilan dengan meresmikan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual?

 

Note:

Ode Tusuk Konde adalah drama musikal yang diperankan oleh penyintas. Akan diadakan di Goethe Haus hari Sabtu, tanggal 10 Desember 2017 jam 19.00.

Bila kamu menjadi korban kekerasan dan butuh tempat konsultasi, hubungi:

  • Yayasan Pulih: Jl. Tlk. Peleng No.63, RT.5/RW.8, 8, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12520. Telp: (021) 78842580
  • Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan: Jl. Latuharhari No.4B, RT.1/RW.4, Menteng, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310. Telp: (021) 3903963
  • Pusat Krisis Terpadu Untuk Perempuan dan Anak RSCM Lokasi: Instalasi Gawat Darurat RSCM Lantai II, Jl.Diponegoro 71 Jakarta Pusat
    Telp/Fax: 021- 316 2261
  • Layanan Darurat Jakarta Siaga, 112.
  • LBH Apik: Jalan Tengah Raya No.31, RT.1/RW.9, Kp. Tengah, Kramatjati, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13520. Telp: (021) 87797289

Ini adalah tulisan ke lima belas dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

Sumber foto utama dari Pinterest.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *