Perempuan Indonesia Rentan Dibunuh Karena Dia Perempuan

 

Pertama kali membuka Facebook page Menghitung Pembunuhan Perempuan, saya bergidik ngeri. Apakah situasi sudah segawat itu sampai harus menghitung satu persatu pembunuhan terhadap perempuan? Adakah perbedaan antara pembunuhan terhadap lelaki dan perempuan? Jawabannya, ya.

Selama ini perhatian publik selalu diarahkan pada sisi bombastis sebuah pembunuhan terhadap perempuan. Cara pelaku membunuh korban, foto-foto rupawan saat korban masih hidup, perilaku korban sebelum maut menjemput, alasan pelaku membunuh, lokasi pembunuhan. Satu persatu kasus dikuliti unsur kedasyahatannya. Seolah setiap kasus pembunuhan terjadi secara unik dan tidak mengancam publik.

Mayoritas media pun luput menggali bahwa kasus-kasus lelaki membunuh perempuan itu sebenarnya memiliki kesamaan penting, yaitu merupakan puncak keganasan budaya pemerkosaan. Puncak kekerasan ini disebut femicide. Penulis dan aktivis, Diana E. H Russel PhD di tahun 1976 menjabarkan femicide sebagai pembunuhan perempuan oleh lelaki karena mereka perempuan. Sebagai perempuan, ada serangkaian konstruksi sosial dan tradisi yang dilekatkan. Perempuan harus lembut, patuh pada lelaki, suci dan lainnya. Ketika perempuan dianggap tidak memenuhi konstruksi sosial ini, lelaki merasa berhak melakukan kekerasan, bahkan pembunuhan. Femicide tidak cuma terjadi pada perempuan dewasa, tapi juga anak dan bayi perempuan.

“Contoh femicide adalah hukuman melemparkan batu pada perempuan sampai mati, perempuan dibunuh karena alasan ‘mulia,’ pembunuhan setelah pemerkosaan, pembunuhan yang dilakukan suami, pacar atau pasangan kencan dengan alasan selingkuh, enggak patuh atau alasan-alasan lain, kematian akibat sunat perempuan, pekerja seks dibunuh klien atau germonya, perempuan korban perdagangan orang yang dibunuh ‘pemiliknya,’ perempuan yang jadi korban pembunuhan oleh orang tak dikenal atau kenalan yang misoginis, serta korban pembunuhan berantai.”

Dalam buku, Femicide in Global Perspective, yang ditulis Russel bersama Roberta A Harmes femicide terjadi adanya kepercayaan bahwa lelaki merasa lebih superior daripada perempuan dalam berbagai macam hal. 

Femicide terjadi ketika pembunuhan didasari keyakinan bahwa lelaki merasa memiliki hasrat seksual lebih besar dari perempuan. Sehingga lelaki harus selalu dilayani apapun situasinya. Hasrat seksual perempuan pun harus dikendalikan, seperti melalui sunat perempuan.

Ketika perempuan diperlakukan sebagai properti milik lelaki. Harus patuh, nurut dan pasrah. Ini yang menyebabkan banyak perempuan tewas ketika ingin putus atau cerai dari pasangan.

 

 

Karen Ingala Smith, direktur eksekutif organisasi anti kekerasan di Inggris mulai menghitung pembunuhan perempuan yang dilakukan lelaki dalam blognya Counting Dead Women di tahun 2012. Ia mencatat di Inggris ada 126 perempuan dibunuh lelaki di tahun 2012, 144 korban di tahun 2013 dan 148 korban di tahun 2014.

Ingala Smith ingin seluruh lapisan masyarakat, perempuan maupun lelaki, menghadapi situasi yang mendesak ini. “Saya ingi kita berhenti melihat pembunuhan perempuan oleh lelaki sebagai insiden yang saling terpisah. Insiden-insiden ini harus dikelompokkan. Lihat pola dan hubungan yang terjadi. Sehingga kita bisa tahu akar masalah yang nyata. Kalau kita terus menyangkal masalah ini, maka tidak akan pernah selesai.”

 

Femicide tidak cuma fokus pada pembunuh dan korban, tapi juga pada keseluruhan sistem yang mendorong terjadinya kultur ini sekaligus kegagalan menghukum pelaku. Ruth Glenn, Executive Director of the National Coalition Against Domestic Violence di Amerika berkata, “Ketika kita membicarakan ‘genosida’ dan istilah lain untuk menggambarkan pembunuhan massal, kata ‘femicide’ lahir. Ini tidak hanya memberikan urgensi politik, tapi membantu orang sadar akar perbuatan kriminalitas yang memakan korban perempuan dan dampaknya terhadap perempuan di seluruh dunia.

Berkat bantuan Women’s Aid, firma hukum Freshfields Bruckhaus Deringer LLP and Deloitte LLP, Smith mengembangkan Femicide Sensus. Sebuah platform yang mengumpulkan jumlah dan profil pembunuhan perempuan yang dilakukan lelaki. Proyek ini menginspirasi gerakan-gerakan lain di seluruh dunia. Di antaranya Counting Dead Woman di Australia, #NiUnaMenos di Argentina dan Menghitung Pembunuh Perempuan di Indonesia.

Kate Walton, pengagagas Menghitung Pembunuh Perempuan memulai gerakan ini sejak Januari 2016. Ia melihat Catatan Tahunan dari Komnas Perempuan terbatas pada jumlah kasus, sementara ada kebutuhan laporan informasi kekerasan terhadap perempuan yang lebih mendalam. Perempuan asal Australia yang sudah tinggal di Indonesia sejak tahun 2011 ini menggunakan laporan media massa untuk menghitung jumlah pembunuhan terhadap perempuan. “Semua pembunuhan perempuan dihitung, termasuk pembunuhan oleh perempuan. Supaya mendapatkan data lengkap yang bisa digunakan untuk menggambarkan bahwa hampir semua pembunuhan perempuan dilakukan oleh laki-laki,” jelas Kate. Di tahun 2016, dari 193 kasus, hanya empat pembunuhan perempuan yang dilakukan oleh perempuan di Indonesia.

 

 

Umumnya kasus pembunuhan perempuan yang dilakukan lelaki di Indonesia terjadi karena norma yang biasa diterima masyarakat bahwa perempuan dianggap lebih rendah daripada pria, seperti yang dikemukakan Diane Russel. Kate membeberkan alasan perempuan Indonesia dibunuh lelaki adalah cemburu, curiga, tidak dilayani, tidak dihormati, “Laki-laki menjawab ‘kesalahan’ perempuan dengan kekerasan, termasuk pemerkosaan sampai pembunuhan.” Sementara menurut catatan Kate, alasan yang sangat berbeda terjadi pada kasus pembunuhan lelaki yang dilakukan lelaki. Biasanya alasannya lebih personal seperti pencurian, utang, mabuk dan bertengkar atau berhubungan badan dengan istri pembunuh.

Laporan UN Women di tahun 2012 memaparkan dari seluruh pembunuhan terhadap perempuan di seluruh dunia, setengahnya dilakukan oleh anggota keluarga dan pasangan. Sementara kasus semacam ini hanya terjadi pada 6 persen lelaki. Femicide masih umum terjadi karena banyak negara tidak memiliki sistem hukum yang kuat dalam menjerat pelaku. Perempuan di Amerika Latin mengalami ancaman pembunuhan tertinggi di dunia. Enam perempuan terbunuh di Meksiko setiap hari. Kasus femicide di El Salvador naik dari 200 di tahun 2000, menjadi lebih dari 600 kasus di tahun 2011. Extrajudicial killing atau ekskusi pembunuhan ilegal yang disponsori pemerintah di Honduras banyak mengancam anak perempuan, dari 447 di tahun 2009 menjadi 1068 kasus di 2011. Diperkirakan ada 1800 perempuan terbunuh di Argetina sejak tahun 2008.

Jenis femicide paling umum terjadi di India diakibatkan tradisi mahar. Perempuan dibunuh pasangan atau keluarganya karena tidak mampu memberikan mahar yang cukup bagi keluarga lelaki. Menurut sebuah studi, 21 persen anak perempuan di India akan meninggal sebelum berusia enam tahun.

Femicide telah menjadi epidemik global yang mengancam banyak perempuan. Menghitung Pembunuh Perempuan adalah langkah awal penting untuk menyingkap struktur sosial di Indonesia yang menempatkan posisi perempuan sebagai sasaran empuk kekerasan. Kate berharap data korban perempuan bisa dimanfaatkan media untuk menyajikan berita yang lebih komprehensif tentang penyebab kekerasan terhadap perempuan. Media juga tidak berhenti memberitakan kasus sebatas pada awal kasus terjadi, tapi memaparkan proses hukumnya. “Makanya saya kurang tahu apa yang terjadi pada akhirnya untuk mayoritas kasus – apakah pembunuhnya ditangkap? Apakah dia divonis? Bagaimana keluarga korban? Tidak tahu karena tidak diberitakan,” cerita Kate.

Hingga saat tulisan ini diturunkan, Menghitung Pembunuh Perempuan mencatat ada 120 pembunuhan terhadap perempuan yang terjadi di Indonesia di tahun 2017. Sudah saatnya kita tidak hanya fokus pada unsur brutal pembunuhan perempuan yang viral di mana-mana. Kita harus mulai melihat ada kesamaan antar kasus pembunuhan. Dari hubungan korban dan pelaku, lokasi pembunuhan, senjata yang digunakan, cara membunuh. Satu dari tiga perempuan di negara kita pernah mengalami kekerasan. Ada penyakit sosial menjangkiti Indonesia yang harus segera disadari dan dihentikan.

 

 

Note:

Bila kamu menjadi korban kekerasan dan butuh tempat konsultasi, hubungi:

  • Yayasan Pulih: Jl. Tlk. Peleng No.63, RT.5/RW.8, 8, Ps. Minggu, Jakarta Selatan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12520. Telp: (021) 78842580
  • Unit Pengaduan Rujukan Komnas Perempuan: Jl. Latuharhari No.4B, RT.1/RW.4, Menteng, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10310. Telp: (021) 3903963
  • Pusat Krisis Terpadu Untuk Perempuan dan Anak RSCM Lokasi: Instalasi Gawat Darurat RSCM Lantai II, Jl.Diponegoro 71 Jakarta Pusat
    Telp/Fax: 021- 316 2261
  • Layanan Darurat Jakarta Siaga, 112.

Kalau kamu tertarik menjadi relawan untuk gerakan Menghitung Pembunuhan Perempuan hubungi Kate di katewalton.au@gmail.com.

 

Ini adalah tulisan ke empat belas dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *