Mengapa Perempuan Suka Menjuluki Perempuan Lain ‘Murahan?’

Beberapa hari lalu saya mengunjungi mal yang menyimpan banyak sekali kenangan saat masih duduk di bangku SMA. Mal tersebut bernama Blok M Plaza.

sumber foto dari sini

Menginjakkan kaki di mal yang sudah berdiri sejak tahun 1990 ini membuka kotak Pandora di kepala saya. Berterbangan memori yang sudah lama tak teringat. Inilah tempat nongkrong setelah sekolah, cabut dari sekolah, ngecengin kakak kelas yang lagi beli McD melalui fasilitas drive thru, mentraktir teman-teman saat ultah di McD, nonton, dan lain sebagainya. Tapi salah satu yang paling menghentak benak adalah saya teringat jelas momen melabel perempuan lain dengan sebutan ‘pecun.’

Pecun adalah istilah yang merebak di akhir ‘90an sebagai julukan perempuan yang bisa dibayar untuk jasa seks dan atau yang banyak ditiduri lelaki. Pada masa itu banyak pekerja seks komersial yang terang-terangan berdiri mencari klien di kawasan Jl. Mahakam yang mengelilingi Blok M Plaza. Sehingga setiap kali saya dan teman-teman melihat perempuan berpenampilan seksi (rok mini, celana hot pants, hak tinggi, tank top) bersama bapak-bapak berada di Blok M Plaza, maka kami menduga mereka sedang melakukan transaksi seks.

via GIPHY

Saat SMA, ada seorang teman yang sering diejek dengan sebutan, ‘bispak.’ Singkatan dari ‘bisa dipakai.’ Sejujurnya saya tidak pernah melihat dia bermesraan dengan lelaki. Tapi rok seragam yang ia pakai ukurannya sekitar 10 cm di atas lutut, bajunya memeluk erat tubuhnya, rambutnya dicat pirang dan sering terlihat memakai lipgloss serta maskara ke sekolah.

Pecun, bispak, perek, lonte, cabe-cabean, pelacur, jalang. Ada lagi yang lebih spesifik dan memasukkan konteks yaitu, ‘ayam kampus.’ Ketika kita mempermalukan perempuan lain karena seksualitasnya maka ini disebut slut shaming. Menurut Alon Levy, ini dilakukan untuk membuat perempuan yang memiliki kehidupan seksual yang tidak disetujui oleh masyarakat tradisional merasa bersalah atau minder. Slut shaming menggunakan berbagai kata, dan tidak harus menggunakan istilah ‘pelacur’ atau sebangsanya.

Karena pada dasarnya istilah-istilah yang bermakna ‘perempuan murahan’ ini dilemparkan begitu saja tanpa kita tahu lagi arti sesungguhnya. Kata ini bisa berarti perempuan yang melakukan hubungan seks di luar pernikahan untuk mendapatkan imbalan uang, barang atau jasa. Kata ini juga mengandung makna perempuan yang memiliki banyak pasangan, seksual maupun non seksual. Bisa pula bermaksud perempuan yang suka memakai pakaian minim sehingga menarik perhatian orang.

Dua profesor sosiologi, Elizabeth Armstrong dari University of Michigan dan Laura Hamilton dari University of California, melalui penelitian longitudinalnya, menemukan perempuan adalah kunci yang menyebarkan istilah ‘slut shaming.’ Perempuan bisa menjadi yang dituduh ‘slut’, atau justru pelaku yang menuduh orang lain ‘slut.’ Analisis yang dilakukan oleh Demos, lembaga survei dari Inggris, pada tahun 2016  dari 1,5 juta tweet yang mengandung kata ‘slut’ dan ‘whore’  dalam periode 23 April – 15 Mei 2016. Ternyata 50% dari tweet yang menyerang cewek ini berasal dari cewek juga.

Bukti ada kecenderungan perempuan suka slut shaming perempuan lain didapatkan dari polling di Instagram Story saya yang diikuti sekitar 100 responden.

 

 

 

 

Meskipun slut shaming marak dilakukan, riset membuktikan ada ketidakjelasan dalam mendefisinikan kata ‘slut, whore, hoe, bitch.’ Bahkan seringkali tidak ada bukti yang pasti perilaku ‘murahan’ bisa terjadi. Elizabeth Armstrong berkata, “Perempuan yakin bahwa ‘slut’ itu ada dan berusaha sekali agar tidak mendapat label tersebut. Tapi juga tidak tahu apa yang harus dilakukan supaya menghindarinya. Istilah ini sangat buram dan mudah disalahgunakan.”

Contoh penyalahgunaan istilah ‘perempuan murahan’ terjadi pada Nerizza.Saat masih duduk di kelas 7, ia pernah menjadi sasaran istilah ‘cewek murahan’ oleh para kakak kelasnya, “Tiba-tiba saja cewek kelas 9 tiap aku lewat nyinyir dan memanggil pelan dengan sebutan-sebutan murahan. Makin lama makin heboh. Tiap aku lewat kelasnya, mereka teriak-teriak.”

Gangguan tersebut berlangsung hampir sepanjang tahun ajaran tanpa Nerizza tahu apa yang memicu perilaku kakak kelasnya. “Ketahuan karena ada salah satu senior cewek yang baik hati nanya langsung ke aku. Baru terkuak ternyata ada yang SMS ngaku dari aku, ke senior cowok yang disukai banyak junior, yang aku pun enggak tahu orangnya yang mana.” Istilah murahan ternyata juga dilekatkan pada perempuan yang dianggap agresif mendekati lelaki. Terlepas itu adalah kenyataan atau bukan.

Sejak fitnah berhasil dipatahkan, Nerizza terbebas dari bullying seniornya. “Teman-teman juga heran kenapa sampai seheboh itu. Aku sedih karena enggak mengerti tiba-tiba digituin. Tapi karena enggak merasa ngapa-ngapain, makin kulewatin kelas mereka, just so they know I’m not afraid. Kirain mereka sebal tanpa alasan, bukan ada fitnah.”

via GIPHY

Masih di masa SMP, Dian (bukan nama sebenarnya), bersama teman-temannya (cewek dan cowok), pernah mem-bully teman lain dan menyebutnya, ‘pecun.’ Dian menuturkan alasannya mem-bully, “Ada teman perempuan yang gaya berpakaiannya beda banget. Di sekolah swasta Katolik biasa pakai rok di bawah lutut, kaos kaki panjang dan baju longgar. Sementara dia kebalikan banget. Pakai rok di atas lutut, baju ketat dan gayanya menurut kita dulu ‘kecentilan.’” Meski berupa ejekan verbal dan bukan fisik, teman tersebut sempat menangis di WC sekolah. “We’re good now. Tapi selepas itu bahkan sampai sekarang gue masih merasa bersalah sama dia,” cerita Dian yang kini berusia 25 tahun.

Lain lagi dengan Amanda. Ia pernah marah dan kelepasan menjuluki ‘murahan’ kepada perempuan yang mendekati pacarnya. “Tiba-tiba dia chat cowokku bilang mau ketemu karena kangen banget. Padahal dia tahu aku pacarnya dan dia juga punya cowok. Dia sering ngajak ketemu dan suruh ke kostannya.” Amanda mengaku khilaf karena emosi, “Aku berasa jahat. Cowokku juga menasihati jangan bilang begitu. Karena dia juga enggak meladeni.”

Kasus-kasus di atas menunjukkan semua perempuan bisa menjadi korban ‘slut shaming.’ Tak perlu tidur dengan banyak lelaki. Tak perlu berpakaian seksi. Tak perlu merebut pacar orang. Setiap perempuan yang berperilaku dengan cara tertentu yang tidak disukai orang lain, maka ia berisiko mengalami slut shaming.

Menurut penelitian Armstrong dan Hamilton, perempuan menggunakan kata ‘slut’ untuk membedakan kelas sosial. Perempuan dari kelas sosial atas menganggap diri mereka lebih elegan. Sementara mereka menilai perempuan dari kelas sosial bawah sebagai ‘trashy’ atau ‘slutty’ karena diasosiasikan dengan barang-barang murah yang dipakai. Armstrong menyimpulkan ini merupakan cara perempuan menunjukkan kekuasaannya, “Kalau kamu mau membuat perempuan merasa sedih, menjuluki mereka dengan kata ‘slut’ adalah cara paling gampang. Itu bermakna, ‘Dia bukan geng kita. Dia berbeda dan kita enggak suka dia.’” Kami suci, kamu penuh dosa. Kami terhormat, kamu norak. Kami orang baik, kamu jahat.

via GIPHY

 

Nine Deuce dalam websitenya Rage Against the Man-chine, melalui seksisme yang sudah terinternalisasi, perempuan telah dikondisikan untuk tidak mempercayai satu sama lain demi mendapatkan perhatian lelaki. Sehingga, slut shaming dilakukan karena dalam dunia patriarki yang memandang harga diri perempuan dari penampilan fisik, perempuan saling berkompetisi untuk berusaha diterima lelaki. Ketika ada perempuan lain yang berpotensi merebut perhatian banyak lelaki, maka muncul dorongan untuk melawannya.

Dalam dunia patriarki yang mengelu-elukan dominasi lelaki, maka persetujuan dari mereka berarti ‘kekuatan’ yang meningkatkan harga diri perempuan. Dan ini sudah kita brainwash kepada perempuan sejak mereka kecil. Bahwa lelaki boleh mengekspresikan seksualitasnya, sementara perempuan harus tunduk pada norma sosial.

 

Sumber foto dari sini.

Slut shaming tidak hanya merusak rasa percaya diri perempuan. Tapi membuat perempuan lebih rentan mengalami kekerasan seksual. Label ‘murahan’ yang mengikutinya seolah berarti ia mudah diajak berhubungan seks. Mereka yang dianggap ‘murahan’ pun dinilai ‘pantas’ diperkosa atau dilecehkan. Tanpa disadari, ketika perempuan terlalu sibuk melabel perempuan lain ‘murahan,’ pihak yang paling diuntungkan adalah lelaki.

 

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan kesebelas dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

1 Comment

  1. Perempuan memang terkadang susah menahan mulutnya ketika berhubungan dengan saingan. Saingan untuk mendapatkan cowok,lalu terlontarlah kata kata perek,jablay,cabe dan sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *