Tentang Hasrat Seksual Lelaki Yang Sering Dijadikan Pembenaran

 

Yha, segudang riset telah membuktikan lelaki memiliki hasrat seksual yang lebih besar dibandingkan perempuan. Lelaki lebih sering memikirkan seks (19 kali) daripada perempuan (10 kali) dalam sehari. Lelaki memiliki fantasi seksual lebih banyak dibandingkan perempuan. Fantasi seksual lelaki lebih banyak melibatkan orang tak dikenal atau tanpa nama, pasangan seks lebih dari satu, fokus pada adegan seks tertentu atau organ intim tertentu. Sementara fantasi seksual perempuan lebih melibatkan pasangan yang dikenal disertai kasih sayang dan komitmen.

Menurut peneliti, menelaah frekuensi masturbasi menggambarkan intensitas hasrat seksual yang cukup valid karena tidak tergantung ada tidaknya pasangan. Lelaki lebih sering masturbasi dan memulainya di umur yang lebih muda dibandingkan perempuan. Dalam hubungan heteroseksual, lelaki lebih sering berinisiatif mengajak berhubungan seks daripada perempuan. Sebuah studi menarik pernah dilakukan dengan mengirimkan asisten peneliti berkeliling kampus untuk mendekati lawan jenis yang dianggap menarik secara random. Mereka akan bertanya pada orang tersebut, “Sudah lama saya melihat kamu di sekitar kampus dan menurut saya kamu menarik banget. Maukah kamu tidur sama aku malam ini?” Lebih dari 75% lelaki yang diajak akan berkata, ‘Ya.’ Sementara tak satu pun perempuan mau.

Testosteron disebut sebagai hormon yang membuat lelaki memiliki hasrat seks lebih besar daripada perempuan. Banyak trans lelaki yang terkejut dengan gejolak seks yang menggelora karena asupan testosteron yang diterimanya.

 

Akan tetapi dengan berbagai hasil riset tersebut, apakah ini berarti lelaki berhak mendapatkan seks terus menerus? Seperti halnya manusia berhak mendapatkan air, udara, makanan? Apakah dengan tidak mendapatkan seks akan mengancam nyawa lelaki, seperti jika ia tidak memiliki akses pada air, udara dan makanan? Nyatanya tidak berhubungan seks tidak akan memiliki dampak biologis apapun pada lelaki. Kalaupun masih nabirong (nafsu birahi merongrong-red), kan, bisa masturbasi. Nda harus merkosa atau melecehkan orang lain, toh.

Sayangnya banyak orang menganggap kecenderungan lelaki memiliki hasrat seksual yang tinggi menjadikan mereka berhak mendapatkan seks atau dalam bahasa canggihnya male sexual entitlement. Kita melihatnya di berbagai macam kejadian, contoh kebiasaan lelaki menggoda perempuan di jalanan, pelecehan seksual di tempat kerja dan pemerkosaan dalam pernikahan. Kita memaknainya dari korban yang disalahkan karena pakaiannya, konsumsi alkohol, jalan sendirian tengah malam, mau diajak kenalan via Facebook dan aneka alasan lain. Media melanggengkan ‘hak’ lelaki memperoleh seks dari penggambaran tokoh lelaki yang dianggap keren karena berhasil meniduri banyak perempuan, seperti James Bond, Batman, Iron Man, dan masih banyak lagi.

 

 

Kultur sosial melestarikan keistimewaan lelaki mendapatkan seks melalui (lagi-lagi harus saya bahas)  analogi kucing garong dan ikan asin.

 

Dalam male sexual entitlement tersirat pesan, “Lelaki itu memiliki nafsu seks besar, jadi perempuan harus hati-hati supaya tidak jadi objek seks.”

 

 

Menurut salah satu komen di postingan saya di sini, masyarakat harus ‘mengamankan ikan asin.’

 

Hmmm… mengamankan ikan asin…

Sumber foto dari sini.

 

Mengamankan ikan asin paling enak pakai sambal terasi dan sayur asem. Sumber foto dari sini.

 

Kalau ada yang masih menganggap perempuan adalah ikan asin, lelaki kucing garong, maka sorry dory strawberry, kalian adalah bagian dari masalah. Kalian bukan solusi dari usaha mengurangi angka kekerasan terhadap perempuan. Kalian hanya akan menjadi orang-orang yang senantiasa menyalahkan korban makanya 93% korban pemerkosaan tidak mau melaporkan kasusnya. Kalian hanya akan fokus mengatur calon korban berperilaku daripada berusaha mencegah calon pelaku beraksi. Kalian hanya akan menghormati dan mempercayai pelaku, tapi tidak memberikan empati kepada korban.

Dikutip dari everydayfeminism.com, lelaki yang percaya perempuan ‘berutang’ jasa seks kepadanya berada pada sebuah spektrum. Ada yang ekstrim banget, yaitu lelaki yang merasa perempuan ada untuk kenikmatannya. Bila perempuan tidak memberikan kepuasan seks, maka mereka tidak berhak mendapatkan perhatian atau bahkan dianggap tidak ada.

Agak sedikit geser titik ekstrimnya, ada lelaki yang percaya bersikap baik pada perempuan akan membuatnya mendapatkan seks. Lelaki di titik ini sedikit lebih baik daripada mereka yang melakukan catcalling. Ini tipe lelaki yang suka protes kenapa cewek lebih suka pada cowok bandel daripada baik-baik. Mereka tetap termasuk lelaki dengan male sexual entitlement karena hanya ‘berakting’ baik demi mendapatkan seks. Lelaki yang memiliki sikap, “Aku cowok baik-baik, ayo dong tidur sama aku,” saat berkencan memang tidak terlihat berbahaya. Tapi dalam kepala mereka, seks adalah sesuatu yang seharusnya diberikan perempuan, terlepas dari sebenarnya mereka mau have sex atau enggak.

Newsflash, seks bukan balasan dari berbuat baik. Idealnya seks terjadi karena mau sama mau dan enak sama enak. Sesederhana itu.

via GIPHY

Kita jungkir balik mencari alasan mengapa kekerasan seksual terhadap perempuan banyak terjadi di Indonesia. Selama ini jawabannya sudah ada di depan mata. Lelaki mendapatkan pembenaran dari hasrat seksualnya yang tinggi lalu mereka pun merasa berhak menginvasi tubuh perempuan.

Kita bisa lihat dari kasus EP yang tewas dibunuh memakai gagang pacul karena menolak berhubungan seks dengan tersangka. DC, gadis difabel yang menjadi korban perampokan sekaligus pemerkosaan saat sedang sendirian di rumah. Anak perempuan berusia tujuh tahun di Papua yang menjadi korban pelecehan seksual. Perempuan yang masih duduk di bangku SMP asal Manggarai Timur yang diperkosa oleh ayahnya. Perempuan asal Gombong yang diperkosa tiga orang lelaki karena menolak cinta salah seorang tersangka.

Kita harus berusaha mengenali pola yang terjadi. Kultur sosial kita menganggap maskulinitas terpancar dari kemampuan lelaki menaklukan perempuan. Banyak lelaki Indonesia dibesarkan untuk percaya bahwa perempuan ada untuk kenikmatannya. Lantas perempuan pun dipandang berbahaya karena mudah membangkitkan nafsu primitif yang membuat lelaki tak bisa mengontrol dirinya.

Tulisan ini tidak dibuat untuk menyerang lelaki, melainkan sebuah permohonan agar kita berhenti mewariskan konsep maskulinitas yang berbahaya kepada generasi penerus. Mengajarkan anak-anak dan generasi muda agar tidak menilai perempuan berdasarkan penampilan semata, no means no (dalam segala hal, bukan cuma seks), menghargai otoritas tubuh diri sendiri dan orang lain dan terutama sekali melatih mereka menjadi manusia yang memiliki kasih sayang.

Male sexual entitlement tidak hanya melukai perempuan, tapi juga lelaki. Ada tekanan bagi pria untuk harus memiliki nafsu seks yang menggelora, punya pacar banyak, menampilkan sifat agresif dan tidak dilatih memiliki empati terhadap orang lain. Istilah masculinity so fragile menggambarkan betapa rentan ego lelaki saat menghadapi penolakan dan parno dianggap gay.

 

Sudah saatnya kita mulai mengubah pandangan dengan menghargai posisi perempuan sebagai manusia yang juga memiliki hasrat seksual bukan sekadar objek pasif yang eksistensinya ditentukan lelaki. Refleksi diri sangat penting dilakukan baik oleh lelaki maupun perempuan yang secara tidak sadar mendukung male sexual entitlement. Seperti pembiaran terhadap mas-mas yang suka sok kenal sok dekat di jalanan, ikut melestarikan atau tertawa mendengar lelucon seksis, gampang mencap perempuan lain murahan dan meributkan pakaian yang dikenakan korban kekerasan seksual.

Lelaki memang memiliki dorongan birahi yang tinggi. Tapi jangan jadikan sebagai pembenaran menyakiti orang lain. Salurkan ke masturbasi aja lah sana. Kucing jaman now aja bingung lihat ikan asin cuy.

Anjing saja bisa dilatih supaya enggak mengambil makanan tuannya secara sembarangan.

Masa, lelaki, sebagai manusia yang beradab, dibekali otak dan hati oleh Tuhan YME, tetap beralasan kamu hanyalah budak nafsu?

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan kesepuluh dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

 

 

 

3 Comments

  1. Lah.. Yang make analogi ikan asin dan kucing garong kan anda sendiri,,,

    Saya bingung anda make hasil penelitian yg kebanyakan sampelnya dr luar negeri tapi diaplikasikan ke indonesia untuk dijadikan argumentasi, tentu hasilnya tidak akan ketemu.

    Dari pemaparan anda yang panjang lebar kok sepertinya anda sendiri yg mendiskreditkan posisi perempuan?

    Konteks tulisan ini memang awalnya seperti membela hak2 perempuan tapi seolah2 opini di dalamnya seakan yg terbaik adalah kebebasan perempuan.. Namun dalam artian bisa bergaul secara bebas.. Justru itu penyebab kekerasan terhadap perempuan selama ini.

    Dr berbagai kasus yg anda paparkan jelas bahwa korban perempuan berada pada posisi yg lemah sehingga tidak memungkinkan membela diri.
    Saya setuju pendidikan moral bagi lelaki agar tidak memandang rendah perwmpuan. Hanya saja itu butuh prosea panjang.. Upaya cepat utk saat ini y tentu melindungi calon korban, karna sudah realitanya perempuan itu berada pada posisi yg lemah.

    Saya suka analogi anda bahwasanya anjing saja bisa dilatih untuk tidak mengambil makanan tuannya, masa manusia yg beradap g bisa dilatih ? Pertanyaan saya siapa tuan manusia yang beradab itu? Tentu tuhan YME kan? Makanya kita ikutin aturan tuhan.. Manusia klo diatur dengaj aturan manusia sendiri, yg ada manusia makin pintar cari celah. Sama halnya dg anjing yg tak akan mau patuh dengan sesama anjing kalo sudah masalah nafsunya.

  2. Satu lagi.. Anda katakan agar Mengajarkan anak2 muda agar tidak menilai dari penampilan semata.
    Mengajar dengan omongan aja tidak cukup, mengajar harus dengan digur dan contoh.

    Peluang kekerasan terhadap perempuan intinya adalah “salah pilih” perempuan sendiri yang memilih laki2 bejat masuk dalam hidup mereka, saat mereka berkata penampilan bukan patokan eh sebagian dr mereka malah menampilkan penampilan menggoda mereka alhasil laki yg mendekati y moralnnya sudah terdoktrin kearah fantasi seksual td.
    Makanya agama menyuruh menutup aurat agar secara tidak langsung juga menseleksi laki2 yang mendekati perempuan, tapi klo perempuan disuruh/diajari seperti itu malah sebagian perempuan lain mencemooh, kuno lah nanti ndak laku lah.. Jd pada dasarnya kekerasan perempuan bukan hanya krna prilaku laki2 namun juga de perempuan itu sendiri.

    Wajar jika perempuan berpakaian minim dirayu di jalan, namun coba liat jika perempuan bepakaian syar’i diganggu laki2 bejat maka akan banyak laki2 baik2 akan membantu.

    Jd sebelum meminta agar laki2 memuliakan perempuan, perempuan harus memuliakan diri mereka sendiri terlebih dahulu.

    Coba anda tanya laki2 diluar sana kebanyakan dr mereka akan suka melihat anda berpakaian terbuka agar bisa mereka pakai namun ego mereka tetao akan memilih wanita syar’i utk mereka jaga. Jd jika ingin menundukan pandangan laki2 bukan dengan argument a smpe z tapi dr bersikap perempuan itu sendiri, krna ini soal naluri bukan logika laki2.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *