Perpanjangan Cuti Ayah Adalah Isu Penting Bagi Keadilan Gender di Indonesia

 

Apakah jatah cuti dua hari bagi ayah baru cukup? Semua istri yang baru melahirkan pasti berteriak, Tidaaaaak! Dua hari itu sih si istri masih terkulai kecapekan setelah melahirkan plus ditambah zombie harus mengurus anak yang kebangun malam-malam.

Peraturan tenaga kerja di Indonesia memberlakukan jatah cuti dua hari bagi ayah baru di Indonesia. Menurut riset situs Citation, dibandingkan 167 negara lain di dunia, Indonesia termasuk yang terburuk dalam memberikan cuti bagi ayah baru.

Jatah cuti ini setara dengan durasi yang disediakan oleh pemerintah Paraguay, Guatemala, Argentina, Tunisia, Belanda dan Argentina. Sementara itu Islandia didapuk sebagai negara terbaik penyedia paternal leave. Islandia memberikan jatah cuti 91 hari dengan gaji dibayar penuh bagi ayah baru. Posisi kedua ditempati oleh Norwegia sebanyak 70 hari. International Labour Organization (ILO) mencatat sejak tahun 1994 ada 40 negara yang mulai menerapkan cuti untuk ayah baru.

Di Amerika, cuti bagi ayah dimulai sejak seorang guru, Gary Ackerman, pada tahun 1970 menuntut hak cuti tanpa dibayar untuk mengurus anaknya yang masih berusia 10 bulan. Atasan Ackerman tidak menyetujui permohonan ini. Berulang kali Ackerman berusaha naik banding, tapi terus menerus diberitahu bahwa cuti untuk mengurus anak yang diizinkan Dewan Pendidikan hanya berlaku bagi perempuan. Ackerman dan istrinya kemudian melaporkan hal ini kepada Federal Equal Employment Opportunity Commision dan menuntut Dewan Pendidikan. Mereka menggugat pemberian cuti untuk merawat anak yang hanya diberikan pada perempuan merupakan bentuk pelanggaran privasi. Karena artinya memaksa ibu menjadi pengurus rumah tangga dan penanggung jawab pengasuhan anak serta menghalangi suami dan istri berbagi peran sesuai kemampuannya.

via GIPHY

Tuntutan Ackerman berhasil dikabulkan. Aturan pun diubah dengan tidak lagi menggunakan kata ‘her’ dan menggantungkan pada jadwal kelahiran, sehingga memperluas kesempatan ayah dan orangtua anak adopsi mengambil jatah cuti.

Sebenarnya juga, nih, kalau dipikir-pikir, jatah cuti ayah di Indonesia yang hanya dua hari itu diskriminatif bagi lelaki. Masa perempuan bisa dapat tiga bulan, lalu ayah cuma dua hari? Kan ayah berhak, dong, turut mengasuh anaknya yang baru lahir, sekaligus membantu istrinya.

Ternyata kerisauan ini dialami juga di Indonesia. Di tahun 2016 ada lebih dari 32 ribu orang menandatangani petisi untuk memperpanjang jatah cuti ayah untuk kelahiran anak hingga dua minggu. Adalah Ahmad Zaini, yang akrab disapa Zein dan Adie S Nugroho yang menjadi pencetusnya.

Sebenarnya keinginan Zein dan Adie sederhana, mereka bercita-cita lebih banyak ayah berpartisipasi dalam pengasuhan anaknya. Zein menjadi saksi pembagian kerja urusan rumah tangga yang setara sejak kecil. Ayahnya yang berprofesi sebagai lurah di Lamongan, biasa kerja di rumah sehingga menghabiskan lebih banyak waktu bersama Zein. “Bapak terlibat terus. Dari memandikan sampai mengajarkan belajar Al Quran,” ungkap Zein dari wawancara dengan saya melalui telepon. Pengaruh pengasuhan ayahnya menginspirasi Zein menjadi sosok bapak yang ingin lebih terlibat pengasuhan anak.

“Dari awal hamil anak pertama, saya dan istri sudah berkomitmen bahwa ini bayi kita berdua. Kita berdua yang mengurus,” jelas ayah tiga anak ini. Zein tidak segan turut belajar kemampuan dasar merawat bayi. Selama masa kehamilan anak pertama, Zein dan istrinya rutin datang ke berbagai pelatihan, seperti cara memandikan bayi, persiapan ASI, pijat bayi dan lain sebagainya. Ia percaya kemampuan yang berguna di masa-masa awal kelahiran akan menjadi modal kuat kelekatan dengan anak-anaknya di masa depan.

                       Zein bersama istri dan ketiga anaknya. Foto dari sini.

Kebiasaan Zein turun tangan sejak anak-anak masih bayi membuat istrinya lebih leluasa memiliki waktu luang di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. “Kebetulan kalau hari libur anak-anak maunya sama saya. Dari mandi, sarapan dan jalan-jalan. Ini bisa memberikan me time untuk ibunya. Bahkan sejak anak-anak masih bayi, kalau dia stres mau ketemu sama teman-temannya, ya boleh saja. Enggak masalah karena saya sudah terbiasa,” kata Zein sambil tertawa.

Berbagai temuan ILO menunjukkan pentingnya membangkitkan kesadaran pria atas hak cuti ayah. Sebagai ayah baru, mereka berhak meluangkan waktu lebih banyak dengan istri dan anaknya. Sebuah inisiatif bernama State of The World’s Father (SOWF) di tahun 2015 merilis riset tentang dampak menguntungkan dari cuti bagi ayah baru. Chelsea Clinton sebagai salah satu speaker yang melaporkan hasil riset berkata, “Cuti bagi ayah yang istrinya melahirkan mengirimkan pesan filosofis yang kuat bahwa orangtua memiliki hak yang sama dalam merawat anak-anaknya. Bukan cuma di hari-hari pertama, tapi minggu-minggu pertama dan bulan-bulan pertama.”

via GIPHY

 

Dalam laporan SOWF pun turut disebutkan, cuti bagi ayah meningkatkan kesehatan ibu, termasuk kesehatan mental dan mengurangi stres. Di Norwegia yang menerapkan cuti ayah selama maksimal 10 minggu, tingkat absen ibu bekerja karena sakit turun antara 5-15 persen.

World Economic Forum menyimpulkan negara-negara dengan kekuatan ekonomi terkuat adalah yang memberikan dukungan untuk ibu bekerja, mempersempit kesenjangan pendapatan antara gender dan meningkatkan kesempatan karir perempuan. Salah satu strategi efektif yang dilakukan di negara-negara maju adalah memberikan jatah cuti melahirkan yang mumpuni bagi ayah.

Peterson Institute for International Economics pernah membuat survey terhadap 22.000 perusahaan di seluruh dunia pada tahun 2016. Negara-negara dengan prosentase pemimpin perempuan terbanyak menawarkan 11 kali jatah cuti ayah lebih banyak dibanding negara-negara di belakangnya. Para peneliti ini menyimpulkan ibu bekerja jadi lebih aman secara karir dan mendapat kesempatan untuk meningkatkan jabatannya ketika cuti ayah diterapkan.

Bila cuti melahirkan bagi ibu diciptakan atas dasar pemulihan kondisi serta pemberian ASI. Cuti bagi ayah sesungguhnya tidak cuma menguntungkan anak atau pria. Manfaat utama justru dipetik oleh perempuan. Karena ketika ayah memiliki waktu untuk berbagi urusan rumah tangga dengan pasangannya, maka sebagian besar beban ganda ibu yang harus terpecah konsetrasinya mengurus anak dan pekerjaan, akan hilang. Ibu bisa lebih konsentrasi bekerja atau meraih kebahagiaan personalnya, seperti yang terjadi pada hubungan Zein dan istrinya.

Kabar baiknya, petisi yang dilemparkan Zein tahun lalu telah telah menjadi bola salju yang semakin membesar. Perlahan-lahan berbagai perusahaan di Indonesia mulai menerapkan durasi cuti yang lebih panjang agar pekerja pria bisa mendampingi istrinya yang baru melahirkan. Misal kebijakan Johnson & Johnson Indonesia yang per Oktober 2017 mengikuti peraturan pusat dengan memberikan jatah cuti menemani istri melahirkan selama dua bulan bagi pegawai pria. Sandiaga Uno dan Anies Baswedan juga berencana menuntaskan janji kampanye mereka untuk memberikan cuti ayah. “Karena kalau ayah hebat, keluarga hebat, bukan hanya peran ibu dibebani untuk membangun keluarga, tapi ayah juga harus berperan,” kata Sandiaga Uno dikutip dari Kompas.com.

 

Semoga janjinya terealisasi bukan sekadar omongan maniez. Karena yang namanya pembagian peran rumah tangga itu masalah kesepakatan, bukan kodrat.

 

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan kesembilan dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

3 Comments

  1. Setuju sekali dengan artikel ini. Tidak ada cuti ayah itu juga merugikan ayah sendiri. Dulu kebetulan kita urus anak berdua. Suami pulang kerja harus urus anak supaya saya bisa istirahat dan dia bisa bonding sama anaknya. Alhasil dia suka kecapean besoknya. Belum lagi kalau pagi dia mau membantu mandiin jemur dan lain-lain harus kejar2an sama jam kantor. Jadi cuti ayah yang layak itu baik untuk kesehatan ayah dan ibu.

  2. Waktu pertama baca judulnya, saya berharap negara Swedia bakal tercantum di salah satu paragraf di artikel ini. Karna Swedia negara pertama di dunia yang memberlakukan ‘paternal leave’. Dan terkenal sebagai negara yang menjungjung persamaan hak wanita dan laki laki. Hihi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *