Tragedi dr. Letty dan Kegagalan Mayoritas Media Membongkar Akar KDRT

 

 

Masih segar dalam ingatan kita insiden tewasnya Dr. Letty diberondong peluru senjata api yang dinyalakan suaminya. Pelaku menyerahkan diri kepada polisi dan diduga pembunuhan dipicu oleh tuntutan bercerai Dr. Letty yang kerap mengalami KDRT. Dr. Letty bahkan sempat mengadukan KDRT yang dialaminya pada polisi.

 

Kasus KDRT lain yang menyita perhatian publik terjadi pada Ni Putu Kariani. Suaminya tega memotong kaki Putu di hadapan anaknya. Tindakan membabi buta tersebut dilakukan karena curiga Putu berselingkuh dengan lelaki lain.

 

Selama sepuluh tahun terakhir, Komnas Perempuan mencatat bahwa jenis kekerasan yang paling umum dialami perempuan adalah kekerasan terhadap istri. Proporsi jumlah kekerasan terhadap istri bisa mencapai 30-40% dari seluruh jenis kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Sebagai contoh di tahun 2016, dari 13.602 pengaduan tentang kekerasan terhadap perempuan yang masuk, 5,784 di antaranya adalah kasus kekerasan terhadap istri.

Menurut Undang-undang No 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), jenis kekerasan yang termasuk KDRT adalah:

  1. Kekerasan Terbuka
    Yaitu kekerasan fisik yang dapat dilihat, seperti perkelahian, pukulan, tendangan, menjambak, mendorong, sampai pada membunuh.
  2. Kekerasan Tertutup
    Biasanya dikenal dengan kekerasan psikis atau emosional. Kekerasan ini sifatnya terselubung, seperti perselingkuhan, ancaman, hinaan, atau ejekan yang menyebabkan korban depresi, terteror, tidak percaya diri bahkan memiliki keinginan bunuh diri.
  3. Kekerasan Seksual 
    Kekerasan yang dilakukan untuk memuaskan hasrat seks (fisik) dan verbal (fisik). Secara fisik contohnya pelecehan seksual pelecehan seksual (meraba, menyentuh organ seks, mencium paksa, memaksa berhubungan seks dengan pelaku atau orang ketiga, memaksa berhubungan intim. Sedangkan verbal seperti membuat komentar, julukan, atau gurauan porno yang sifatnya mengejek, juga membuat  ekspresi wajah, gerakan tubuh, atau pun perbuatan seksual lain yang sifatnya melecehkan dan atau menghina korban.
  4. Kekerasan Finansial
    Kekerasan yang dilakukan dalam bentuk eksploitasi, memanipulasi, dan mengendalikan korban dengan tujuan finansial. Serta memaksa korban bekerja, melarang korban bekerja tapi menelantarkannya, atau mengambil harta pasangan tanpa sepengetahuannya.

 

Letupan-letupan klimaks kasus KDRT yang berakibat fatal seperti Dr. Letty dan Putu menjadi viral dan diangkat oleh banyak media. Dalam momen seperti ini peran media seharusnya tidak hanya riding the wave menyebarkan informasi tentang insiden Dr. Letty dan Putu, tapi juga mengambil peran sebagai solusi untuk mengurangi angka KDRT di Indonesia yang memprihatinkan.

Patricia Easteal dan tim peneliti dalam laporannya, How Are Women Who Kill Portrayed in Newspaper Media? (2015) mengatakan, media berita memegang peran penting dalam membentuk diskusi publik karena melaporkan kejadian terbaru dan memberikan kerangka interpretasi. Apalagi di zaman now, media berita daring yang banyak disebarkan melalui media sosial, bisa sangat mudah diakses oleh orang banyak, terutama anak muda. Dengan mengekspos isu KDRT, media berita dapat membantu mengkonstruksikan dan mengatur pemahaman publik. Bahwa kasus KDRT bukan kasus privat atau memalukan, tapi problem sosial yang serius dan bisa dicegah.

Mengapa konteks sosial penting untuk menjelaskan latar belakang kekerasan terhadap perempuan? Ahli sosiolog, C. Wright Mills, berkata, “Neither the life of an individual nor the history of a society can be understood without understanding both.” Hidup individu dan sejarah suatu masyarakat dapat dimengerti dengan cara memahami keduanya. 

 Mills menjabarkan banyak problem kita yang sebetulnya bukan semata kesalahan personal, tapi diakibatkan latar belakang sosial. Berbagai penelitian sudah menunjukkan framing atau sudut pandang berita yang memfokuskan kasus kekerasan terhadap perempuan (contoh, pemerkosaan, KDRT, kekerasan dalam pacaran) sebagai fenomena yang independen dan bukan bagian dari konstelasi kasus kekerasan, akan mengaburkan opini publik terhadap akar kekerasan yang sesungguhnya.

 Ketika media sedang berlomba-lomba memberitakan tentang kasus Dr. Letty dan Ni Putu Kariani, mayoritas menekankankan pada insiden penembakan dan ‘potong kaki’ yang sensasional. Berdasarkan data dari Buzzsumo, search engine yang bisa mendeteksi berita paling banyak disebar netizen. Berita tentang dr. Letty yang paling banyak disebar adalah:

 

 

 

 

Berita di Brillio.net ini sudah disebar sebanyak 2000 kali. Sayangnya berita ini hanya memaparkan kesadisan yang dialami para korban, tanpa memberitahukan pemicu terjadinya pembunuhan oleh suami mereka. Ini bentuk berita yang hanya menekankan pada sensasi tanpa berusaha menjabarkan mengapa insiden ‘sensasional’ bisa terjadi dan banyak dialami perempuan.

 

 

Insiden fatal yang dialami dr. Letty dan Ni Putu Kariani bukan kasus langka ketika suami tega melukai istrinya. Kasus mereka adalah bagian dari angka KDRT yang menjadi penyebab utama kekerasan terhadap perempuan di Indonesia. Mengapa banyak lelaki menjadi pelaku KDRT? Bagaimana seorang istri rentan menjadi korban KDRT? Data-data seperti ini penting untuk melengkapi berita tentang dr. Letty dan Ni Putu Kariani agar seperti anjuran Mills, membuat publik berpikir keluar dari kotak. Ini bukan insiden yang terjadi sesekali. Tapi bagian dari kekerasan yang mewabah di masyarakat.

 Seperti yang sudah pernah saya tulis di sini, berbagai riset menunjukkan akar kekerasan dalam hubungan personal berasal dari kebiasaan memandang perempuan sebagai pihak yang berada di bawah lelaki. Kata patriarki berasal dari bahasa Yunani, patriarkhes, yang berarti aturan dari ayah. Secara historis istilah patriarki didefinisikan dengan ayah sebagai kepala keluarga. Giddens, Anthony dan Griffiths, Simon dalam buku Sociology memaparkan di masa modern, patriarki merupakan simbol sistem sosial dengan kekuasaan yang kebanyakan dipegang lelaki dewasa.

 

via GIPHY

 

Implikasinya kultur patriarki yang menempatkan dominasi lelaki di segala ruang, terutama keluarga. Menurut penelitian Komnas Perempuan, ‘kekuasaan’ pada laki-laki tersebut, berpotensi berujung pada amarah, jika sang lelaki mulai merasa inferior atau merasa tidak berdaya. Mariana Amiruddin dalam wawancaranya dengan bbc.com berkata, “Mereka (laki-laki) tidak sadar sudah melakukan kekerasan karena budayanya seperti itu. Banyak yang melihat bapak memukuli ibunya sebagai hal yang biasa.” Lelaki yang agresif dan kasar dianggap ‘biasa saja’ karena bagian dari sifat maskulinnya.

 

Bila kita mencari berita tentang Ni Putu Kariani, identitasnya telah berubah menjadi, ‘istri yang kakinya dipotong suami.’

 

 

 

 

Media terus menerus fokus pada sisi sensasi ini daripada menyelidiki adakah budaya patriarki di Bali yang mendukung terjadinya KDRT? Dikutip dari balisruti.com, perempuan di Bali sering disimbolkan sebagai pradana atau feminitas (lembut, memelihara), sementara lelaki adalah Purusa atau maskulinitas (tegar, melindungi). Praktek sehari-harinya sering ditafsirkan secara ngawur. Lelaki cenderung menunjukkan perilaku macho-isme atau kasar dan brutal. Sementara perempuan harus tetap berdedikasi menjadi istri yang berbakti pada suami.

Tanpa berusaha meringankan tanggung jawab pelaku KDRT, rasanya penting bagi jurnalis untuk menganalisis bahan berita yang viral dengan menggunakan sociological imagination yang ditawarkan Mills. Yaitu kesadaran nyata bahwa ada hubungan antara pengalaman pribadi dengan masyarakat lebih luas.

 

 

Bahwa di setiap insiden mengenaskan yang viral, ada proses sosial yang membentuk sistem dan berkelindan dengan kasus yang lain. Ada kaitan antara insiden dr. Letty dengan Ni Putu Kariani dan kasus-kasus lain yang menewaskan istri, seperti istri yang tewas dicekik suaminya di Bekasi (Agustus 2017), istri yang dibacok suaminya hingga tewas di Indramayu (Oktober 2017).

Mills berkata, jurnalis jangan sekadar menjadi jurnalis, tapi jadilah jurnalis yang akurat dan teliti. Karena jurnalisme yang luhur dan baik bisa membawa kemajuan sosial bagi masyarakat. Ya sebagai eks jurnalis, saya cuma bisa berdoa, semoga ini bukan utopia semata di tengah gempuran komodifikasi informasi.

Image dari sini.

 

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan kedelapan dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *