Menggunakan Model Bule = Merendahkan Perempuan Indonesia

Peraturan pertama yang saya terapkan saat sempat menjadi pemimpin redaksi kaWanku adalah mengurangi memakai model bule di rubrik fashion dan beauty. Alasannya simpel, agar pembaca tidak merasa ‘jauh’ dengan model yang dilihatnya. Jelas-jelas kulit Indonesia itu kebanyakan pesona kulit kayu bakar, lah, kok, model-model yang ditonjolkan berkulit putih dan dari ras yang berbeda. Saat itu, di tahun 2010, model dari ras Kaukasia mulai berjaya di Indonesia. Hampir semua majalah perempuan yang memiliki rubrik mode dan kecantikan dipastikan memakai model dari ras ini. Tidak cuma di majalah, iklan produk dan desainer-desainer Indonesia berlomba-lomba memanfaatkan model ras Caucasia yang umumnya berkulit putih, tulang pipi tinggi, bertubuh langsing dan tinggi.

Beberapa foto dari pagelaran Jakarta Fashion Week 2010. Dari kiri ke kanan: model desainer Hannie Hananto, model desainer Stella Rissa, model desainer Geraldus Sugeng dan model desainer Dian Pelangi. Foto diambil dari Getty Images.

 

 

Tidak hanya di Jakarta, Surabaya juga keranjingan memakai model asing. Dikutip dari Tribun, puncaknya terjadi sejak tahun 2012, “Hampir semua event fashion, selalu ada model mancanegara yang terlibat,”  kata Agoeng Soedir Poetra, pengamat mode sekaligus pendiri agensi model Colors Model Inc. Hingga kini model-model bule yang umumnya berasal dari daerah Eropa Timur (contoh, Rusia, Uzbekistan, Ukraina), masih bersliweran di catwalk, majalah, produk iklan.


Tidak cuma di media dan panggung fashion. Belakangan desainer atau e commerce lokal yang menjual pakaian atau produk kecantikan melalui internet juga banyak menggunakan model bule.

 

 

 

Dikutip dari Bisniswisata, Sonny Muchlison, desainer sekaligus pengamat mode, mengemukakan ada beberapa hal yang menyebabkan model bule laku di Indonesia.

  1. Model bule dijadikan bonus. Biasanya karena agensi model ingin mempromosikan model baru dari luar negeri. Misal, desainer sudah pesan delapan model lokal, kemudian agen memberi bonus satu model luar negeri yang baru dengan diskon 50%.
  2. Tarifnya lebih murah daripada model dalam negeri. Seorang teman stylist pernah bilang kalau model Indonesia yang sering dipakai catwalk atau muncul di media akan cenderung lebih mahal dibanding model bule.
  3. Ada kesan desainer Indonesia merasa model luar negeri mampu mengangkat prestise produknya. Faktor ketiga ini pun diakui oleh Ian Kamil, mantan pemilik agensi yang semua modelnya bule. “Kiblat kita masih sok kebarat-baratan. Jadi begitu pakai model bule, kesannya produknya sudah internasional.”
  4. Secara fisik, model Kauskasia dianggap lebih proporsional. “Ada pendapat yang menyatakan model luar itu tidak usah gaya macam-macam saja sudah bagus, karena secara fisik lebih proporsional. Mereka [model luar] memiliki hidung mancung, tinggi, dan mata biru. Sementara itu, tidak semua model-model lokal memiliki fisik seperti itu,” ujar Sonny.

 

Alasan pertama tidak perlu dibahas karena merupakan keputusan bisnis dan kegiatan marketing bagi agensi model.

 

Alasan kedua perlu dikritisi lebih lanjut. Misalnya majalah Kinclong standar tarifnya sejuta untuk model. Harga tersebut tidak cukup bila membayar model lokal yang memiliki jam kerja tinggi. Sementara harga ini sesuai tarif untuk model bule yang tidak selaku si model lokal. Sehingga stylist majalah Kinclong memutuskan mempekerjakan model bule. Mengapa? Alasan ini nyambung ke alasan ketiga yang dikemukakan Sonny, yaitu adanya persepsi bahwa perempuan kulit putih sudah diberi kodrat memiliki wajah yang cantik. Mau bengong sambil boker juga tetap cakep. Julukannya, effortlessly beautiful.

Sementara model lokal, selain dituntut cantik, harus bisa luwes bergaya. Tidak cuma itu, sebagian pengarah gaya, make up artist dan fotografer, menilai memakai model lokal berarti kerja lebih keras untuk menghasilkan foto fashion atau beauty yang berkualitas baik. Misalnya, make up harus lebih rapi, lighting lebih membuat struktur wajah lebih tajam. Sonny Muchlison dan Ian Kamil menilai ini karena model bule dianggap memiliki wajah yang lebih internasional dan proporsional.

 

Wajah yang lebih internasional dan proporsional. Hmm….

 

Konstruksi kecantikan berupa kulit putih, hidung mancung, tinggi, bermata biru yang merupakan representasi perempuan Kauskasia disebut sebagai standar kecantikan Eurocentric. Semua bermula ketika negara-negara Eropa melakukan usaha kolonialisasi ke seluruh dunia. L. Ayu Saraswati dalam bukunya yang berjudul Putih: Warna Kulit, Ras dan Kecantikan di Indonesia Transnasional secara gamblang menjabarkan putih Kaukasia sebagai ideal kecantikan selama puncak kolonialisme Belanda (1900-1942). Belanda tidak hanya sekadar mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia untuk mendapatkan keuntungan. Belanda juga menanamkan norma-norma yang ‘sesuai bagi masyarakat Eropa.’ Salah satunya menetapkan kecantikan dan perilaku perempuan Eropa sebagai standar ideal.

 

Tidak heran pada masa itu muncul iklan-iklan produk kecantikan yang menggambarkan perempuan Kauskasia disertai teks yang menandakan mereka adalah standar ideal kecantikan.

 

 

Ayu Saraswati lebih jauh lagi menjelaskan,”Lebih dari sekadar menjual produk kecantikan, iklan-iklan tersebut menjual gagasan mengenai putih sebagai warna kulit yang diinginkan, dan dengan warna kulit putih yang dilekatkan dengan ras kulit putih, sebuah kategori rasional yang merepresentasikan emosionalitas yang terkendali berdasarkan gender. Ini berbeda dengan ideal kecantikan selama abad ke-9 dan awal abad ke-10 di Jawa prakolonial, dalam hal perempuan berkulit terang yang dianggap cantik pada waktu itu tidak harus putih, apalagi anggota ras kulit putih Kauskasia. Hanya pada era kolonial Belandalah putih, sebagai warna kulit, mulai mengacu pada kaum kulit putih.”

 

“Seperti halnya bahasa Inggris menjadi bahasa universal dunia, begitu pula kulit putih, payudara berukuran sedang, rambut pirang, hidung kecil, tubuh langsing dengan kaki jenjang menjadi standar tubuh ideal dari seluruh jenis tubuh manusia di muka bumi,” sindir Susie Orbach, psikoterapis terkemuka asal Inggris. Seiring globalisasi, industri media dan kecantikan tidak pernah absen mencekoki perempuan dengan standar kecantikan Eurocenteric di seluruh dunia. Akibatnya banyak perempuan berusaha mengubah dirinya mengikuti konstruksi kecantikan ideal yang ditetapkan masyarakat. Suntik vitamin C agar kulit lebih putih, operasi lipatan mata, operasi memperbaiki bentuk hidung, sedot lemak di pipi. Dari ujung rambut sampai ujung kaki, semua bisa diperbaiki agar sesuai konstruksi kecantikan masyarakat global.

Lalu siapa yang paling diuntungkan dari rasa tidak percaya diri yang dialami perempuan? Pastinya industri kapitalisme.

via GIPHY

 

Ketika suatu produk atau media lokal menggunakan model bule dengan alasan agar terlihat ‘internasional’ dan ‘berestetika tinggi’ itu sama dengan menghina perempuan Indonesia, yang notabene konsumen utama produk atau media tersebut. Fitur umum yang dimiliki perempuan Indonesia, seperti warna kulit sawo matang, rambut ikal, tinggi tubuh sekitar 155 cm, hidung yang tidak setajam ras Kaukasia secara konstruksi sosial dianggap tidak ‘proporsional.’

Ini juga menandakan adanya rasa tidak percaya diri dari produsen atau desainer produk tersebut. Seharusnya kalau produknya memang berkualitas bagus, siapapun yang memakai akan terlihat lebih baik dengan produk tersebut. Bukan malah karena produknya so so makanya butuh model ‘internasional’ atau ‘terkesan mahal’ untuk mengangkat kualitasnya. Saya pernah kebingungan membeli lipstick produksi Indonesia yang memakai model bule. Ini gimana mau milih warna mana yang cocok dengan saya, kalau warna kulitnya jauh berbeda?

Standar estetika tinggi yang diterapkan pengarah gaya atau fotografer juga perlu dipertanyakan. Benarkah ini karena faktor estetika yang sebenarnya sangat subyektif sifatnya, atau kemalasan tim artistik menciptakan hasil foto berkualitas bagus? Kalau memang tim artistiknya jagoan dan mau repot, mereka tidak harus memakai model bule. Mereka seharusnya bisa menciptakan foto yang bagus dengan memakai model gelandangan di pinggir jalan yang enggak mandi tujuh hari tujuh malam

Secara teori sains tidak ada formula yang kaku terhadap kecantikan. Bahkan teori matematika golden ratio yang mengukur simetri wajah sudah ditolak oleh para ilmuwan karena memperkuat unsur rasisme. Kita harus menghadapi kenyataan bahwa struktur fisik orang Indonesia berbeda dengan ras Kaukasia. Perbedaan itu juga tidak berarti ras Indonesia lebih rendah atau jelek dibanding ras Kauskasia. Kecenderungan kita minder dan menganggap ras Kaukasia sebagai ras lebih baik disebut white supremacy.

Saya sangat menghargai langkah Indonesia Fashion Week 2017 yang tegas menyatakan tidak memakai model bule untuk perhelatannya karena ingin mengedepankan keunggulan Indonesia. Ian Kamil juga menjelaskan, “Sekarang makin banyak desainer yang balik lagi ke wajah Indonesia. Perkembangan model lokal juga bagus. Bahkan sudah ada model lokal yang ikut fashion show Yves Saint Laurent di Paris (Laras Sekar-red). Jadi pola pikir dan kebiasaan lama sudah mulai ditinggalkan.”

 

                                  Laras Sekar. Foto diambil dari sini. Perhatikan ciri-ciri fisiknya yang umum ditemui di perempuan Indonesia.

 

Jadi netizen, kalau merasa kurang sreg dengan model-model bule yang dipakai desainer atau online shop tertentu, jangan ragu menegur atau sekalian enggak usah beli. Karena seharusnya konsep kecantikan tidak lagi fokus pada apa yang ideal. Tapi justru merayakan keunikan-keunikan yang dimiliki setiap manusia. 

 

 

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan ketujuh dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *