Romantisme Semu Dari Lelaki Yang Tegar Mengejar

Sekitar sebelas tahun lalu saya datang ke cabang sebuah bank dekat kantor. Saya mendaftar untuk membuat deposito. Setelah mengisi beberapa formulir, tanda tangan, saya pun mendapatkan slip tanda deposito. Selesai. Atau saya kira selesai.

Beberapa hari setelah itu, saya mendapat SMS dari seorang lelaki yang mengajak berkenalan. Sebut saja namanya Asep. Dia berkata mendapatkan nomor telepon dari temannya yang melayani saya membuka rekening deposito. Saya tertegun. Data-data itu seharusnya privat. Kok, Asep bisa dapat akses dan menggunakannya untuk keperluan pribadi? Saya mengatakan keberatan dengan caranya berkenalan. Tapi dia tetap percaya diri bilang ingin berkenalan dan mengajak ketemuan. Saya sangat terganggu dengan hal ini hingga akhirnya curhat ke Mama. Mama saya langsung naik pitam dan mengajak tempat kerja Asep untuk komplain. Saya datang ke bank tersebut untuk mengadukan perilaku Asep. Sayangnya Asep sedang tidak di tempat. Akhirnya saya bertemu atasannya dan menceritakan segalanya. Atasannya memohon maaf dan berjanji akan menegurnya.

Beberapa jam kemudian seorang perempuan menelepon saya. Ia adalah customer service yang melayani dan menyimpan data-data saya. Dia meminta maaf karena telah memberikan nomor telepon saya kepada temannya.

Sekitar sejam berlalu, giliran Asep menelepon. Dia minta maaf dan berkata bahwa tidak ada maksud untuk menganggu. “Saya cuma pengin kenalan,” ujarnya. Sejujurnya ada sedikit rasa bersalah terbit di hati saya. Ada suara hati yang bilang, ‘Dia cuma mau kenalan, lho. Kok lo tega? Pasti dia kena surat peringatan dari kantornya gara-gara aduan elo.’ Namun Alhamdulillah suara logika saya lebih kuat, “Hih, ngapain ngeladenin lelaki kayak gitu? Kalau mau ajak kenalan caranya jangan melanggar aturan gitu, dong.” Jangan-jangan Asep, nih, yang menginspirasi penyebarluasan database customer ke orang-orang yang menawarkan KTA, gadai BPKB dan kartu kredit.

via GIPHY

 

Di tahun 2017 modus perkenalan semacam ini kembali mewabah melalui jasa transportasi online. Beberapa teman perempuan bercerita soal ketidaknyamanan yang dialami ketika ada driver yang mengajak kenalan lebih lanjut. Ada yang sudah di-block nomornya, tapi tetap kekeuh menghubungi lewat Line. Makin mengerikan karena si driver mungkin sudah tahu tempat kerja atau alamat kita. Walaupun ada rasa kasihan karena bila diadukan pada perusahaan transportasi yang bersangkutan, pelaku bisa terancam dipecat. Tapi tetap jalan paling aman adalah melayangkan protes karena pelaku jelas telah melanggar etika perusahaan.

Sejak kecil saya sudah di-brain wash agar perempuan tidak boleh jadi pihak yang mengejar. “Harga diri kamu di mana kalau mengejar-ngejar laki? Dia yang harusnya mengejar kamu,” nasihat ayah kepada saya waktu remaja. Beranjak dewasa saya jadi mengerti, tekanan menjadi pihak yang mengejar membuat lelaki lebih agresif. Lebih terpicu melakukan berbagai macam cara menaklukan pujaan hatinya. Seperti singa yang sedang mengamati gerak-gerik mangsanya.

 


Saya jadi teringat film There’s Something About Mary. Mary yang diperankan Cameron Diaz, dikejar-kejar oleh banyak lelaki. Mereka berbohong, menguntit bahkan menyamar menjadi menjadi difabel. Julia Lippman, dari University of Michigan, pernah membuat studi tentang dampak menonton film komedi romantis ini kepada perempuan. Responden yang menonton There’s Something About Mary cenderung menganggap lelaki yang melakukan berbagai cara untuk membuat perempuan jatuh cinta adalah tindakan romantis.

via GIPHY

 

“Kultur mengajarkan lelaki agar menjadi pihak yang kekeuh mengejar. Sementara perempuan diajarkan supaya tersanjung bila ada lelaki yang mengejarnya,” ujar Lippman kepada The Huffington Post. Selain There’s Something About Mary, masih ada deretan film-film Hollywood lain yang meracuni konsep ‘stalking’ dengan romantisme.

Ingat film The Passenger? Saya misuh-misuh selama nonton film ini. Bodo amat sama setting luar angkasa dan kolam renang yang memesona. Saya ngeri banget dengan cara Jim Preston (Chris Pratt) memanipulasi Aurora Lane (Jennifer Lawrence) agar mau jatuh cinta dan mati bareng dengannya.

https://studentedgeapplication.azureedge.net/articles/b657f960-42e9-4ef1-8011-db098443baba.jpg

 

Atau film The Notebook saat Noah (Ryan Gosling) menulis surat setiap hari selama 365 hari dan membeli serta merenovasi rumah yang disukai mantan pacarnya, Allie (Rachel McAdams) yang saat itu masih menikah dengan lelaki lain. Creepy af.

via GIPHY

Cerita yang dibawa oleh film-film semacam ini jelas menujukkan perempuan awalnya tidak tertarik berhubungan si lelaki. Tapi ketekunan dan kegigihannya akhirnya membuat si perempuan luluh, jelas D. Hall dalam penelitiannya The Victims of Stalking (1998). Apakah ada perbedaan sudut pandang terhadap perilaku menguntit atau stalking antara perempuan dan lelaki? Eric G Lambert PhD dan tim risetnya di tahun 2013 membuktikan lelaki cenderung menganggap perilaku stalking tidak berbahaya. Penelitian berjudul Do Men and Women Differ in Their Perceptions of Stalking: An Explotary Study Among College Students ini juga memperlihatkan bahwa lelaki cenderung menyalahkan korban dalam hal stalking.

 

Lelaki memang berhak untuk melakukan tindakan-tindakan PDKT yang sekiranya bisa meluluhkan hati perempuan yang ditaksirnya. Anggap saja kebebasan berekspresi meski itu kadang melanggar aturan. Hanya saja, harus dibedakan antara yang terjadi di film dan kejadian nyata. Apakah kamu Ryan Gosling atau Chris Pratt? Kalau yha, berarti mungkin saja perempuan klepek-klepek pada kharismamu. Tapi kalau kamu bukan, ya mohon maap, enggak perlu sok-sokan heroik sekaligus pura-pura bego saat ada perempuan menolak hasratmu.

 

Nah kalau lelaki ingin kebebasan berekspresi diberlakukan, perempuan juga berhak berekspresi menolak toh. No means no. Diam saja bukan iya. Kalau si perempuan tarik ulur dan terlihat ragu, beri ruang dan waktu untuk menentukan. Hargai batasan yang dia berikan. Bukan dipepet terus sampai sesak napas. Perempuan itu manusia bukan obyek yang harus dikejar-kejar.

 

Bagi para perempuan, bila merasa terganggu, maka sebaiknya bersikap tegas pada lelaki tersebut. Meskipun ada rasa bersalah atau kasihan, tapi kita berhak menolak dan terbebas dari kejarannya. Pembiaran terhadap perilaku lelaki yang tidak menghormati ruang aman kita rentan memicu terjadinya kekerasan atau pelecehan. Mari saya ingatkan lagi. Perempuan itu manusia bukan obyek yang harus dikejar-kejar.

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan keenam dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *