Omong Kosong Tentang ‘Memuliakan Perempuan’

Di suatu malam yang biasa diisi dengan netizen yang browsing quotes galau dan stalking akun medsos mantan pacar. Tanpa sengaja di perjalanan stalking mencari inspirasi, saya menemukan video singkat ceramah ustadz yang ngetop di media sosial. Saya lupa namanya. Gaya ceramahnya anak muda banget Judulnya menarik perhatian, Cara Allah Memuliakan Perempuan.

Tapi kalimat berikutnya drop shay. Video itu dibuka dengan pertanyaan, “Kenapa perempuan wajib memakai jilbab?” Si ustadz lantas menjawab melalui analogi membeli rambutan. Orang-orang pasti akan memilih rambutan yang masih tertutup daripada yang terbuka. Karena yang lebih tertutup itu lebih steril.

via GIPHY

 

Heh? Sejak kapan memuliakan itu menyamakan manusia ciptaan Allah yang dibekali hati, akal pikiran dan otak dengan rambutan? Wow! Terus kenapa rambutan ya? Durian montong kek yang mahalan.

http://taniorganik.com

 

 

Saya enggan berdebat soal tafsir jilbab di sini. Tapi kepada makna ‘memuliakan’ perempuan. Sebagai perempuan saya sering sekali mendengar dan membaca kalimat ini. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan memuliakan sebagai menganggap (memandang) mulia; (sangat) menghormat; menjunjung tinggi. Contoh kalimatnya, kita wajib memuliakan perintah Tuhan.

Bisa disimpulkan memuliakan berarti memperlakukan seseorang dengan hormat. Kata ‘memuliakan’ umumnya selalu dipasangkan dengan kata ‘perempuan atau wanita.’ Selama ini saya nyaris tidak pernah dengar kata ‘memuliakan’ lelaki. Kenapa? Mungkin karena lelaki sudah dianggap sebagai makhluk yang terhormat, sedangkan perempuan belum, jadi perlu ‘dimuliakan.’

Tapi benarkah wacana ‘memuliakan’ perempuan benar-benar mengangkat martabatnya? Ada dua studi kasus tentang kemuliaan perempuan yang akan saya angkat di sini. Tentang perempuan yang ‘dimuliakan’ dengan diberikan tempat khusus di transportasi publik dan perempuan yang ‘dilarang’ melaut karena merupakan pekerjaan ‘kasar’ yang hanya cocok dilakukan lelaki.

 

Bus Transjakarta dan gerbong kereta khusus perempuan adalah salah satu cara memuliakan perempuan yang disediakan pemerintah. Perempuan diberi fasilitas khusus agar terhindar dari pelecehan seksual di ruang publik. Tapi benarkah ini strategi menghormati perempuan? Jess Phillips, politisi sekaligus aktivis pendamping korban kekerasan seksual asal Inggris, tegas menolak wacana segregasi perempuan dan lelaki di transportasi publik di negaranya. Menurutnya ide tersebut justru bentuk ketidakpedulian dan kenaifan terhadap korban pelecehan seksual. “Menawarkan pilihan tempat khusus bagi perempuan memang kelihatannya baik-baik saja. Tapi ini lagi-lagi membebankan tanggung jawab pada perempuan agar tidak dilecehkan. Bukan untuk mengajarkan lelaki supaya tidak melecehkan,” tandas Jess. Singkat kata, pada aturan pemisahan ruang perempuan di transportasi publik, tersirat makna, “Kalau enggak mau dilecehkan, naik yang khusus perempuan, dong!”

via GIPHY

 

Pemisahan ini juga membentuk anggapan bahwa lelaki melecehkan karena ada perempuan di dekatnya. Jadi kalau enggak ada perempuan, enggak ada yang bisa dilecehkan. Tentunya analogi kucing garong dan ikan asin berlaku lagi di sini. Padahal kalau kita ke Bali, banyak lelaki berada di antara perempuan berbikini atau berpakaian minim, tapi mereka tidak diam-diam menggesek-gesek penisnya atau meremas pantat tanpa izin. Beberapa kali saya ke Djakarta Warehouse Project dengan celana gemesh, rok mini atau tanktop, tidak sekalipun saya mengalami pelecehan seksual. Bahkan ketika menari dalam desakan penonton bersama para dedek-dedek jantan. Bersama-sama kami bersimbah peluh menikmati musik, tanpa ada dorongan melampiaskan hasrat seksual secara sembarangan. Jadi sebenarnya lelaki bisa, kok, mengatur hasratnya. Mereka bukan kucing garong.

 

Studi kasus yang lain saya dapatkan ketika datang ke acara Konferensi Nelayan Perempuan yang diprakarsai KIARA Indonesia bulan September lalu. Saya menyaksikan ibu-ibu nelayan mengeluhkan problemnya pada pemerintah. Masalah utama mereka adalah pihak kelurahan yang tidak mau mengubah status ‘ibu rumah tangga’ di kolom pekerjaan di KTP menjadi ‘nelayan.’ Istilahnya dalam bahasa Jawa, ‘Wong wedok kok miyang!’ Artinya, ‘Perempuan kok melaut!’ Kalimat ini sering diucapkan sebagai bentuk keheranan atau ledekan kepada perempuan yang pergi melaut. Karena seharusnya perempuan itu punya posisi mulia dalam keluarga, yaitu sebagai ibu rumah tangga. Padahal perempuan menjadi nelayan karena berusaha menopang perekonomian keluarga. Tim riset Jurnal Perempuan menemukan kalimat ini sering digunakan pemerintah level desa hingga DPRD Jawa Tengah untuk mempertanyakan ulang bahkan menjatuhkan harga diri perempuan yang pergi melaut.

 

UU no. 7 tahun 2016 menyebutkan nelayan adalah setiap orang yang mata pencahariannya melakukan penangkapan ikan. Padahal proses mendukung perekenomian pesisir tidak cuma dilakukan dengan menangkap ikan. Kegiatan nelayan juga mencakup pra produksi (menyiapkan umpan dan alat memancing) serta pasca produksi (menjual hasil tangkapan). Pengakuan perempuan sebagai nelayan berarti memberikan fasilitas kartu nelayan dan asuransi nelayan serta pelatihan-pelatihan. Jurnal Perempuan edisi 95 secara komprehensif memuat perjuangan perempuan nelayan. Alih-alih mendapat kemuliaan, perempuan nelayan justru tidak diakui eksistensinya. Data Kiara bulan Maret 2017 lalu memaparkan dari satu juta penerima kartu nelayan, hanya ada dua perempuan!

 

Karlina Supelli, filsuf feminis dan astronom, dalam wawancara yang saya lakukan untuk IBCWE mengatakan ada dua dampak berbahaya dari bentuk ‘pemuliaan’ perempuan yang membius. Pertama, berupa pagar budaya perempuan. Karlina mencontohkan salah satu mahasiswa perempuan yang kesulitan biaya karena orangtua tidak mau membantu. Dalam pandangan orangtuanya, anak perempuan tidak perlu bersekolah, yang penting berumah tangga. “Untuk membuat pemagaran ini menjadi sahih dan membesarkan hati, diberilah bunga-bunga yang indah dan harum,” ungkap Karlina.

Bahaya kedua dari ‘pemuliaan’ perempuan adalah bisa dimanfaatkan sebagai alat politik yang berbahaya. Misalnya, perempuan dianggap mulia bila belum melakukan hubungan seksual karena kehormatan ditentukan selaput dara. Ini tidak hanya menjadi kehormatan pribadi tapi juga kehormatan keluarga, bahkan masyakarat. Sehingga bisa dimanfaatkan untuk menghancurkan martabat masyarakat di kawasan tertentu dalam kondisi perang, dengan cara pemerkosaan massal. Karlina mencontohkan pada situasi yang pernah terjadi di Timor Leste, Bosnia dan Aceh.

Harus diakui konsep ‘memuliakan’ memang berhasil membius perempuan. “Perempuan tidak sadar dan seringkali menikmati perannya,” ujar Karlina. Gimana enggak nikmat, cuy. Dari kecil perempuan dicekoki dogma akan ada lelaki yang menjadi ‘penyelamat’. Masuk dunia pernikahan, bisa tinggal di rumah saja, dijamin sampai mati. Hidup enak, enggak capek. Saya jadi ingat ada teman saya pernah berkomentar setengah serius setengah bercanda, “Kalau enggak bisa jadi direktur, jadi istri direktur saja.”

Kunci memuliakan perempuan adalah menempatkan perempuan di posisi yang setara dengan lelaki. Memuliakan seharusnya bukan melemahkan. Memuliakan seharusnya bukan mengendalikan. Memuliakan seharusnya menghargai eksistensi perempuan nelayan atau perempuan lain yang harus bekerja membantu perekonomian keluarga. Memuliakan perempuan berarti mengajari lelaki tidak melecehkan, bukan mengatur cara perempuan bepergian. Memuliakan perempuan berarti berhenti melihat perempuan sebagai makhluk yang posisinya di bawah lelaki sehingga bisa diatur, dikontrol dan diena-ena sepuasnya.

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan kelima dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017

17 Comments

  1. Kira2 jika anda punya anak perempuan, anda rela anak gadis anda berpakaian minim dikelilingi oleh laki2 yang bisa jadi kucing garong?

    1. @zulfikar kalau pertanyaan anda begitu, sama aja nyalahin perempuan untuk dosa laki2. Jangan salahin ikan asinnya yg menggoda, gebuk kucing garongnya yg mencuri.. Jujur saja, saya benci dengan konsep gerbong perempuan.. Karena itu ngebuat Seakan2 semua laki2 bejad. Padahal ya… Yang namanya a$$h**e itu bisa laki bisa cewek

      1. Saya tidak faham kenapa komen saya dikatakan menyalahkan perempuan karena dosa laki2? Bisa anda jelaskan? Saya sebagai laki2 pasti marah jika di analogikan sebagai kucing garong, sama halnya perempuan juga pasti akan marah jika di analogikan sebagai ikan asin.
        Hanya saja dalam konteks secara umum naluri manusia mmg sejatinya seperti itu. Makanya Islam memberikan aturan, jilbab memuliakan perempuan? Tegas saya katakan iya. Mau di analogikan dengan rambutan atau apapun itu kan sekedar analogi agar kita faham maksud sebetulnya dr syariat jilbab.
        Persoalan gerbong khusus perempuan, klo laki2 yg bejat tidak setuju saya rasa wajar tapi klo perempuan yg tidak setuju itu yg saya pikir aneh. Coba jelaskan salahnya di mana?
        Jika “Jgn salahin ikan asin yg menggoda tapi gebuk kucing garongnya” itu berarti tunggu terjadi dlu dong? saya pikir lebih baik mencegah sebelum terjadi dengan mengamankan ikan asinnya.

    1. Jika saya katakan naluri alamiah saya mengatakan “iya” kira2 bagaimana? Masalah suatu hal menjadi tabu ataupun tercela itu karna ada adab dan adat istiadat kita sebagai sebagai masyarakat. Atau bisa dikatakan karna ada aturan yg melarang, bayangkan kalau tidak, atau bayangkan jika disuatu tempat sah2 saja terjadinya pergumulan, menjadi wajar kalau mmg prinsip budaya dsuatu t4 seperti itu. Tapi bagaimana dg keadaan masyarakat yg heterogen yg jelas budaya nya berbeda2. Tak ada jaminan semua org itu org baik, apakah salah jika ada aturan yg mengatur?

      1. Ndak salah ngatur, tapi ga menjamin ikan asin aman.. :v eh kok ikan asin =|
        karena beda-beda, maka itu harus kasi pengertian dan pengetahuan biar ga melulu perempuan jadi terbeban. Seolah-olah setiap hari setiap jam setiap detik gue (perempuan) dibuat sebagai calon korban pemerkosaan, harus pake ini itu.
        Balik lagi (kalo masih mau pake analogi ikan asin kucing garong nih yak), ikan asin ga jamin aman kalo kucing garong enggak dilatih untuk lawan nafsunya sendiri. 🙂 disitu sih ada usaha laki-laki untuk partisipasi memuliakan perempuan di sekitarannya dg mengendalikan bentuk nafsu apapun itu untuk melecehkan perempuan, selain ngatur perempuan pake outfit tertentu~ tq

  2. @untuk penulis.
    Saya heran konsep pemikiran dari si penulis sendiri, kira2 penulis laki2 atau perumpuan?
    Kenapa merasa ada yg salah dengan istilah jilbab sebagai bentuk pemuliaan perempuan?
    Padahak mmg prinsipnya seperti itu. Bukankah dg jilbab anda terlindungi? (tapi benar2 dg jilbab yg sesuai syariat y) bukankah dg berjilbab wanita bisa beraktifitas keluar rumah baik bekerja atau aktifitas lainnya dg aman? Dia akan dipandang terhormat? Lain halnya dg jika wanita keluar rumah dg berpakaian seksi. Justru dg dg jilbab wanita bisa beraktifitas hampir sama dg para laki2.
    Kenapa yg dilelukan adalah istilah memuliakan perempuan dan bukan memuliakan laki2? Karena pada dasarnya memuliakan itu juga bisa diartikan dg “menjaga” jd kenapa jarang istilah memuliakan laki2, y karena tugas laki2 itu yg memuliakan.
    Jadi jika dibuat aturan khusus utk menjaga perempuan bukan berarti menganggap sepele perempuan, namun karena ada was was dipikiran kami para laki2 kalau terjadi apa2 dengan para perempuan yg mulia itu.

  3. Klo analoginya laki2 kucing garong, harusnya perempuan adalah kucing betina garang. Bukan ikan asin yg pasif, siap diterkam, ga punya sikap. Klo laki2 punya naluri alamiahnya, emg perempuan ga punya? Klo perempuan bs mengontrol naluri, knp laki2 ga bs? Kita jg suka liat mas2 di gerbong pulang kerja keringatan di leher, lengan tersingkap memperlihatkan ototnya. Tapi apa kita suit2in, pepetin, colek2in? “Naluri alamiah” utk melakukan itu ada lah. Tapi perempuan yg jalan akal & pikirannya (yg membedakannya dgn bangsa kucing), hny sewajarnya aja menikmati dgn mata & bersyukur dlm hati atas ciptaan tuhan tsb. Please jgn merendahkan harkat martabat laki2 dgn blg mudah ngikutin naluri alamiah. Manner maketh men.

    1. @rye
      Masa perempuan dianalogikan kayak kucing betina yg garang?
      Y gak masuk lah, kalo kita main analogi y ikut sesuai fakta dilapangan lah. Mmgnya bisa semua perempuan pada setiap saat diposisikan bisa melawan kalau terancam seperti kucing betina yg garang? Ada posisinya perempuan itu adalah makhluk lemah dan tidak berdaya, makanya harus dilindungi, namun tidak pada setiap kondisi mereka bisa melindungi diri sendiri dan tidak pada setiap saat ada jaminan ada yang bisa melindungi. Makanya ada upaya untuk menghindaru kemungkinan2 sebelum terjadi hal2 yg tidak diinginkan.
      Laki2 bisa menahan naluri? Mmg ada jaminan semua laki2 bisa? Buktinya byk terjadi pelecehan yg dilakukan kaum pria pada kaum wanita. Kalau kita bicara harusnya bisa berarti kita bicara idealnya, namun dlm faktanya yg ideal itu blm terwujud, makanya perlu dilakukan upaya antisipasi agar hak buruk tidak terjadi.

      1. Wah, wah, begitu rupanya. Saya cukup berduka membaca penjelasan Mas/Mbak Zulfikar ini. Kasihan sekali anak perempuannya kelak, dididik sekedar untuk menjadi ikan asin siap santap tak berdaya dan naluri putranya diasah untuk menjadi kucing garong lapar siap menerkam mangsa. Semoga Tuhan lindungi selalu.

      2. Oke katakanlah situasinya spt itu bahwa kebanyakan perempuan masih blm bisa melindungi diri sendiri, sedangkan laki2 kebanyakan masih blm bisa mengontrol “naluri alaminya” dan cenderung akan mengganggu perempuan. Seharusnya yg dibuat adalah gerbong khusus laki-laki. Karena yg cenderung mengganggu yg dikasi tempat ke-khusus-an spt adanya ruang perokok, wc, rumah sakit.

        1. @rye
          Gerbong khusus laki2?
          Artinya gerbong tersebut khusus laki2 kan y? Ok, kita anggao begitu. Jdi yg perempuan gerbong umum gtu y? Klk gerbong umum laki2 juga boleh masuk kan y? Klo gtu sama aja bohong. Jika dibuat istilah gerbong khusus perempuan artinya gerbong tsb memang hanya utk perempuan, laki2 dilarang masuk. Lah klo perempuan mau masuk gerbong umum y silahkan. Cman setau saya kalau ada gerbong khusus perempuan Artinya jg ada gerbong khusus laki2.
          Jd dmana masalahnya?

  4. Mas/Mbak Zulfikar
    Semoga udah dapet jawaban utk pertanyaan nya, tapi kalau belum, coba baca lagi 2 kalimat terakhir dari penulis:

    “Memuliakan perempuan berarti mengajari lelaki tidak melecehkan, bukan mengatur cara perempuan bepergian. Memuliakan perempuan berarti berhenti melihat perempuan sebagai makhluk yang posisinya di bawah lelaki sehingga bisa diatur, dikontrol dan diena-ena sepuasnya.”

    Ajarin itu ke anak-cucu mu dan orang2 sekitar. Gak ada jalan instan utk mengontrol hawa nafsu sekian juta manusia. tapi dengan ngasi pengertian hal2 di atas, insya allah di masa depan dunia jadi lebih aman untuk semua makhluk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *