Wahai Media, Stop Menggunakan Embel-embel ‘Cantik’ Untuk Menerangkan Perempuan Berprestasi

Sewaktu kerja di kaWanku/cewekbanget.id, tim redaksi yang 90 persen perempuan paling sebal, kesel, bête, bosan, setiap lihat judul artikel yang mau memprofilkan deretan perempuan berprestasi yang harus ditambah kata, ‘cantik.’

“Emang kalau enggak cantik, terus prestasinya jadi enggak diakui?”

“Definisi cantik menurut mereka tuh, gimana, sih?”

“Perempuan harus cantik dulu supaya bisa ditulis di media?”

Hingga sekarang media masih sering sekali menulis kata ‘cantik’ untuk menerangkan betapa hebat prestasi seorang perempuan. Tentunya kata ‘ganteng’ juga sering digunakan untuk menarik perhatian netijen. Tapi tidak sesering kata ‘cantik’.

Paling menyedihkan bila kata ‘cantik’ harus dilekatkan pada perempuan yang memiliki profesi yang didominasi lelaki. Contoh kasus profesi ‘pilot’.

 

Jadi pilot itu sudah hebat, kenapa harus ditambah kata ‘cantik’? Isi artikelnya juga cuma deretan foto-foto ditambah komen netijen yang memuji-muji mereka dan sedikit biodata.

 

Busyet, perempuan ini kurang hebat apa coba? Perempuan pilot saja sudah hebat, tapi bisa menerbangkan pesawat pakai kaki? Epic sih. Tapi media tetap ‘gatel’ menambahkan kata ‘cantik.’ Seolah semua kehebatannya enggak berarti kalau tidak ‘cantik.’

Bandingkan kedua artikel di atas dengan artikel Huffingtonpost ini.

 

Jurnalis yang membuat artikel sama sekali tidak menyebut penampilan si pilot perempuan. Bahkan di antara para pilot ini, ada Betty Wall Strohfus saat meraih penghargaan Congressional Gold Medal atas jasanya menjadi pilot pesawat militer di perang dunia kedua. Seharusnya reporter-reporter di Indonesia pun bisa menulis hal seperti ini. Daripada terus-terusan memakai kata ‘cantik’, mending buat artikel berjudul, “Terbaik! 25 Foto Keren Pilot Perempuan Indonesia Dari Tahun 1964-2017.” Bisa jadi penulis lebih mudah menemukan foto-fotonya karena tidak harus menilai kecantikan si pilot atau disemprot sama editor, “Ngapain masukin si A, mukanya enggak cantik. Selera lo gimana sih?”

 

Ngomong-ngomong sudah pernah baca tentang Herdini Soeryanto dan Lulu Lugiyati? Mereka hebatnya keterlaluan, lho! Keduanya adalah pilot perempuan pertama di TNI AU. Herdini saat berumur 26 tahun dan Lulu Lugiyati saat berusia 23 tahun. Kalau media tertentu merasa pembacanya lebih suka membaca artikel singkat, seharusnya bisa dibuat artikel tentang bu Herdini dengan angle menarik seperti, “Perjuangan Pilot Perempuan Pertama Indonesia, Dari Misi Rahasia Sampai Ketiduran Di Pesawat.”

Saya mengetahui kisah mereka salah satu sumbernya dari sini http://nasional.kompas.com/read/2016/04/11/09145721/Kisah.Dua.Srikandi.Pilot.Pertama.TNI.AU?page=all. Tapi artikel ini pun problematis karena ada….

Harus ada kata ‘manis’ gitu ya. Biar tetap disemutin meski lagi di udara? Eeaa.

 

Memang kenapa pakai kata ‘cantik?’ Kan itu bentuk penghargaan pada perempuan?

Kita sudah terlalu sering dibombardir kata ‘cantik’ oleh media hingga tidak menyadari bahaya laten yang ditimbulkannya. Kita hidup di masyarakat patriarki yang hampir semua medianya menggunakan sudut pandang lelaki sebagai pengamat aktif dan perempuan hanyalah objek pasif yang diamati. Laura Mulvey dalam essaynya yang sangat berpengaruh di dunia feminisme berjudul Visual Pleasure and Narrative Cinema menjelaskan lebih lanjut, “Sudut pandang lelaki diterapkan dengan memproyeksikan fantasinya terhadap sosok perempuan yang dibentuk sedemikian rupa. Dalam peran tradisional, perempuan secara simultan dipamerkan dengan menekankan pada penampilan yang merangsang dan menstimulasi. Sehingga perempuan akan dianggap sengaja memancing perhatian.”

Tindakan media berulang-ulang menggunakan kata ‘cantik’ untuk menerangkan perempuan termasuk dalam tindakan objektifikasi. Fredrickson & Roberts (1997) memaparkan objektifikasi perempuan adalah menggunakan perempuan sebagai obyek seksual yang diperlakukan berdasarkan kegunaannya bagi orang lain. Perempuan dilekatkan dengan kata ‘cantik’ karena akan menarik perhatian pembaca, terutama lelaki. Pada akhirnya perempuan menjadi target komentar-komentar yang bernuansa centil, seksual atau malah seksis. Seperti pada artikel pilot perempuan, penulisnya memasukkan komentar ajakan landing di hatinya. Bukannya memuji pencapaian si pilot, yang dikomentari justru penampilan fisik semata. Totally degrading.  

via GIPHY

 

Kita tidak bisa memungkiri media masih punya pengaruh kuat, terutama bagi remaja perempuan yang sedang bergelut dengan fisiknya yang berubah. Saya masih ingat obrolan dengan pembaca kaWanku beberapa tahun silam. Ia malu mendekati lelaki yang disukainya karena merasa kulitnya tidak putih, wajahnya agak berjerawat dan tidak langsing. Problem seperti ini lazim dialami banyak perempuan di dunia. American Psychological Association dalam Report of the APA Task Force on the Sexualization of Girls (2007) mencatat banyak riset yang mengindikasikan media seringkali membangun standar kecantikan fisik yang tinggi dan menghubungkannya dengan kadar seksi serta harga diri perempuan. Di mata media, semakin cantik seorang perempuan, semakin tinggi nilainya di publik. Kepribadian, kepintaran dan lain sebagainya? Tak penting lah kalau tak cantik. Banyak perempuan pun mengambil jalan pintas mengutamakan penampilan fisik di atas segalanya.

 

Nih bukti lain-lainnya,

 

Selain ‘cantik,’ harus banget pakai kata ‘populer?’ Ini tujuan artikelnya apa sih? Apa pentingnya pembaca tahu soal ilmuwan yang terpopuler? Mereka menjadi populer karena inovasinya. Kenapa enggak langsung ke inovasinya supaya jelas faedahnya kepada pembaca?

Usul Judul Pengganti: Hidup Makin Mudah Berkat Jasa 10 Ilmuwan Perempuan Ini. Nomor 6 Penemu Program Komputer Lho!

 

Kemudian saya iseng browsing keyword, ‘Paskibra Ganteng’ dan ‘Paskibra Cantik.’ Ini yang saya dapatkan.

Perhatikan betapa sedikit artikel yang keluar di halaman pertama Google saat melakukan pencarian ‘Paskibra Ganteng.’ Sementara pencarian ‘Paskibra Cantik’ yang sampai halaman 10 pun masih ditemukan jejak-jejaknya.

 

Hormat saya pada para anggota paskibraka yang pastinya melalui seleksi ketat untuk bisa terpilih. Di mata sebagian media, proses latihan berjam-jam tiap hari di bawah terik matahari, tes pengetahuan umum, seleksi kesehatan dan masih banyak lagi yang harus dijalani untuk terpilih jadi anggota paskibraka tidak ada artinya. Paling penting faktor fisik.

 

Lebih parah lagi bila bentuk obyektifikasi dilakukan pada remaja yang masih di bawah 18 tahun. Seperti yang dilakukan artikel ini daaaan, ditulis oleh perempuan.

 

OMG mbak Meiristica Nurul, harus banget mengejar traffic sampai ‘menyodorkan’ anak umur 15 tahun kepada publik?

via GIPHY

Teman saya pernah menulis, salah satu kehebatan patriarki adalah banyak perempuan yang ‘tidak sadar’ telah menjadi agen patriarki. Mbak Meiristica ini contoh yang perlu diedukasi agar lebih jernih melihat posisi perempuan.

 

Buat kalian yang membaca atau melihat artikel-artikel mengobjektifikasi seperti yang saya tulis di atas, jangan ragu meninggalkan komen atau report artikel. Bisa juga call out dengan screen capture artikelnya ke social media tapi peringatkan teman-teman untuk jangan baca. Karena itu berarti meningkatkan clickers-nya. Saya percaya obyektifikasi yang beracun ini bisa dihentikan bila dimulai dari kesadaran kita sebagai konsumen media.

Salah satu hal yang membuat saya betah menjadi jurnalis hingga 14 tahun adalah keyakinan bahwa ini adalah pekerjaan dengan cita-cita luhur mencerahkan umat manusia melalu penyebaran informasi. Mirip seperti pemuka agama. Dan sebagai mantan pekerja media, saya juga mengerti sekali lingkaran setan yang dialami di dalamnya. Dimulai dari tuntutan menghasilkan revenue yang didapatkan dari jumlah traffic website. Yang mana berimplikasi pada tuntutan reporter dan editor untuk menghasilkan banyak artikel (15-30 artikel sehari). Formula simpelnya, semakin banyak (terutama yang kontroversial) artikel, semakin banyak audience yang didapat. Kuantitas di atas kualitas.

Akan tetapi, mau sampai kapan media berinvestasi pada usaha mendegradasi perempuan? Ada banyak hal baik tentang perempuan yang bisa menjadi bahan berita media tanpa harus mengecilkan perannya menjadi obyek pemuas hasrat lelaki. Saat ini ada lebih dari 118 juta perempuan di Indonesia. Mereka bisa jadi ibu, anak, saudara kandung, saudara sepupu, sahabat, nenek, cucu atau eyang kita yang tersayang. Mereka bermakna penting. Mereka semua cantik, dalam caranya masing-masing.

 

 

 

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan keempat dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017.

1 Comment

  1. Sebenernya selain penambahan kata ‘cantik’ di artikel sejenis ini, yang lebih meresahkan yaitu headline berita-berita kekerasan terhadap perempuan yang juga seringkali menyematkan kata ‘cantik’, misalnya “Gadis cantik meregang nyawa di tangan mantan pacar” atau sejenisnya.
    Pernah suatu hari sedang diberitakan di TV seorang perempuan dibunuh suaminya. Seperti biasa, foto-foto korban (yang kebetulan cantik) banyak ditampilkan. Saya dan teman saya lalu membincangkan kasus tersebut dan saya ingat sekali dengan perkataan teman saya, “Sayang ya, padahal istrinya cantik.” Rasa hati ingin langsung sembur mata dia pake sambel penyet :v
    Maksud lo kalo istrinya jelek, dia ga layak hidup dan pantes dibunuh gitu??? Udah ga ngerti lagi saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *