Segala Yang Salah dari Konsep, “Aku Milikmu, Kamu Milikku.”

 

“Aku bukan milikmu dan kamu bukan milikku. Kita ada di sini karena memilih untuk bersama dan menyayangi bukan untuk menguasai. Untuk berkompromi, bukan berkorban. Untuk rasa nyaman, bukan obat kesepian. Untuk tetap punya ruang, bukan melekat dengan sesak. Untuk meresapi segala kekurangan, bukan melulu tentang fantasi ideal. Untuk ketenangan, bukan hanya kenikmatan. Untuk bebas mengejar mimpi, bukan tentang terpaksa berubah arah. Untuk kesetiaan yang berdasarkan kemauan, bukan kewajiban.”

 

Bait di atas pernah saya dedikasikan kepada lelaki terkasih yang sempat hadir dalam kehidupan. Inspirasi datang dari buku berjudul Things I Would Like To Do With You karya Waylon Lewis. Melalui bukunya, pendiri web Elephant Journal ini, ingin mengajak kita berkontemplasi terhadap makna cinta yang baru. Tentang cinta yang memberikan ruang untuk perubahan, kemandirian, humor dan bahkan rasa sepi.

 

In light of the recent spate of news exposing our toxic sexual harassment culture… From “Things I would like to do with You,” a respectful and independent, vulnerable yet honest love: “I am not one of the boys who pushes onto you with charm and arrogance. I am better, different. So I am meek. But I am not shy, nor weak. But you will have to meet me halfway. This is what a match is: equal. There is tension in equality, a rhythmic balance, a sway that is not present if I am to dominate or be dominated. I would like neither. I want a match. I would like you. You are not mine to take, so I would not like to take you…” ~ @waylonlewis #thingsiwouldliketodowithyou 📕 Holiday gift special: at elephantjournal.com/books, get two books, gift one or both, save $10. Bonus: all books signed free for the rest of November.

A post shared by Waylon Lewis (@waylonlewis) on


Berbeda sekali dengan konsep cinta yang selama ini kita tahu. Cinta yang diwarnai dua orang yang saling tergila-gila satu sama lain. Pisah sebentar, langsung kangen. Upload wefie mesra dengan pasangan di medsos bertagar #relationshipgoals. Dia orang terpenting dalam hidup kita. Begitu pun sebaliknya. Seperti lagu-lagu cinta dan puisi yang mengagungkan konsep asmara antar dua orang dan derita bila orang tersebut tak lagi (atau malah tak pernah) menjadi pasangan.

http://hypeorlando-prod.s3.amazonaws.com/misadventures-of-victoria-wannabe-beckham/wp-content/uploads/sites/88/2015/03/tumblr_nilj2nnIO31r5snofo2_500.gif

Ketika kita sedang tergila-gila akan suatu hal atau seseorang, maka wajar sekali akan muncul keinginan berpegang, melekatkan diri dan memilikinya. “Aku milikmu, kamu milikku,” atau “Be mine.” Permainan semantik tentang hubungan sebagai sebuah properti atau kepemilikan sudah melalui proses doktrinisasi sejak kita lahir. Pokoknya kalau sudah berkomitmen, ya, berarti serangkaian kewajiban dan hak yang harus dipenuhi atau didapat. 

https://images.gr-assets.com/hostedimages/1395892772ra/9058899.gif

 

Karena kebiasaan memandang cinta sebagai konsep, ‘Aku milikmu, kamu milikku,’ kita menginterpretasi pasangan atau diri sendiri seperti sesuatu yang berhasil dimenangkan, diraih atau malah dicuri. Layaknya sukses beli handphone yang selama ini diidamkan. Ada seperangkat ekspetasi diberikan pada si handphone agar memberikan kebahagiaan dan menyempurnakan kehidupan kita.

 

David R Hawkins dalam bukunya Power vs Force (2004) mengatakan, apa yang kita anggap cinta sebetulnya keadaan emosi yang kuat yang terdiri dari ketertarikan fisik, posesif, keinginan mengontrol, ketergantungan, hasrat seksual dan rasa penasaran.

 

Lebih jauh lagi Stanton Peele, pengarang buku Love and Addiction (1975) menyatakan, “Kita sering berkata ‘cinta’ padahal maksud sebenarnya adalah rasa ketergantungan terhadap orang lain yang kita perlakukan sebagai sebagai obyek agar merasa aman.”

 

https://images.gr-assets.com/hostedimages/1395583913ra/9016270.gif

Bila di awal kita sudah memahami cinta seperti definsi di atas, maka cenderung terus berlanjut tidak hanya di tahap awal, tapi juga hingga bertahun-tahun menjalin hubungan. Mungkin nafsu seks saja yang lama kelamaan berkurang, tapi melihat pasangan sebagai ‘milik’ dengan segala ekspetasinya cenderung menetap. Menurut William Berry, psikoterapis dan pengajar di Florida University, ini mengakibatkan banyak orang merasa normal dan sehat-sehat saja ketika menggantungkan kebahagiaannya pada pasangan.

http://i4m032imkie3gak4u536h719-wpengine.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2015/11/gt7.gif

Bukannya mendapat kebahagiaan, yang tercipta justru keinginan mengendalikan. Rasa curiga yang membuncah saat dia me-like foto mantannya, memaksa istri berhenti kerja dan jadi ibu rumah tangga, memberondong pasangan dengan pertanyaan siapa saja perempuan atau lelaki yang di-follow-nya di medsos dan yang paling parah, menjustifikasi kekerasan terhadap pasangan. Seperti lagu Rihanna yang sebetulnya saya suka banget, judulnya Love On The Brain.

 

Must be love on the brain
That’s got me feeling this way (feeling this way)
It beats me black and blue but it fucks me so good
And I can’t get enough

Must be love on the brain yeah
And it keeps cursing my name (cursing my name)
No matter what I do, I’m no good without you
And I can’t get enough.

 

Penyebab kekerasan dalam hubungan personal memang beraneka ragam. Ada teori yang fokus pada pengalaman masa kecil. Riset Neil S. Jacobson & John Gottman, When Men Batter Women: New Insights Into Ending Abusive Relationships (1998) mengungkap 30 persen anak lelaki yang menyaksikan KDRT akan menjadi pelaku kekerasan. Namun United Nations dan Council of Europe serta berbagai riset menyatakan akar kekerasan dalam hubungan personal berasal dari kebiasaan memandang perempuan sebagai pihak yang berada di bawah lelaki.

 

Pelaku menganggap pasangan sebagai barang kepunyaannya yang bisa dia kendalikan. Sementara korban yang umumnya perempuan, bila sejak awal menganggap perilaku posesif sebagai penanda sayang, menjadi lebih sulit meninggalkan pasangannya.

via GIPHY

 

Bagaimana cara tahu hubungan kita sehat atau semata hanya rasa ingin memiliki? Stanton Peele menawarkan rangkaian pertanyaan sebagai bahan refleksi:

 

  1. Apakah setiap pihak memiliki keyakinan cukup terhadap nilai yang dianut? Sebelum berpacaran atau berhubungan, kita punya sikap atau nilai tersendiri. Misalnya, saya memandang posisi pria dan perempuan harus setara saat menikah. Ketika terlibat dalam hubungan dengan lelaki lain, seharusnya pandangan tersebut juga dihargai oleh pasangan, bukan malah dimentahkan.
  2. Apakah pasangan menjadi lebih berkembang dari hubungan ini? Yaitu ketika berada di luar hubungan, apakah masing-masing pihak menjadi orang yang lebih baik, berprestasi, kuat, menarik dan penolong? Apakah kita menghargai hubungan karena telah membuat diri ini jadi lebih baik terhadap orang lain? Ingat, ini berarti bukan cuma sama pasangan, lho. Jujur saya pernah messed up merasa lebih baik saat berpacaran dengan seseorang karena berasa jadi pribadi yang lebih sabar saat menghadapinya. Tapi di luar itu saya masih jadi pribadi yang emosional.
  3. Apakah pasangan memiliki minat lain yang ditekuni di luar mereka, termasuk hubungan lain yang juga penting? Seperti sahabat-sahabat yang bisa diandalkan, hobi crafting, traveling dan lain-lain
  4. Apakah hubungan terintegrasi dalam kehidupan, bukan terpisah dari keseluruhan kehidupan pasangan? Kalau pasangan posesif, akan sulit menjaga pertemanan dengan sahabat, sehingga hubungan jadi terpisah dari unsur kehidupan kita yang lain.
  5. Apakah ada pihak yang menunjukkan kecemburuan atau perilaku posesif berlebihan yang menghalangi perkembangan diri pihak lain?
  6. Are the lovers also friends? Jika tidak dalam situasi berpacaran, apakah kedua individu bisa bersahabat?

 

Menurut Peele, pada dasarnya setiap hubungan pasti menunjukkan tanda-tanda ketergantungan. Tapi pertanyaan-pertanyaan tadi bisa membantu apakah hubungan sudah menjurus arah adiksi yang berlebihan.

 

Pepatah Cinta Tidak Harus Memiliki sebetulnya cukup bijaksana memandang asmara. Tidak hanya pada konteks mengikhlaskan lelaki atau perempuan idaman yang tidak pernah jadi milik kita. Tapi juga mengikhlaskan bahwa pasangan kita sesungguhnya memang bukan properti yang kita miliki. Dia adalah manusia yang memiliki kesadaran, kemauan, kebutuhan, cita-cita, kebahagiaan personal dan free will atau kebebasan memilih. Seperti yang sudah pernah saya bahas di sini, hubungan akan lebih bahagia dan memuaskan bila tiap pihak memang menginginkan dan memilih berada di dalamnya. Bukan karena terpaksa atau takut.

“Kita ada di sini karena memilih untuk bersama dan menyayangi bukan untuk menguasai.”

 

In light of the recent spate of news exposing our toxic sexual harassment culture… From “Things I would like to do with You,” a respectful and independent, vulnerable yet honest love: “I am not one of the boys who pushes onto you with charm and arrogance. I am better, different. So I am meek. But I am not shy, nor weak. But you will have to meet me halfway. This is what a match is: equal. There is tension in equality, a rhythmic balance, a sway that is not present if I am to dominate or be dominated. I would like neither. I want a match. I would like you. You are not mine to take, so I would not like to take you…” ~ @waylonlewis #thingsiwouldliketodowithyou 📕 Holiday gift special: at elephantjournal.com/books, get two books, gift one or both, save $10. Bonus: all books signed free for the rest of November. ❤

A post shared by Elephant Journal (@elephantjournal) on

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan ketiga dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017.

3 Comments

  1. Hubungan yang sehat adalah tidak ada paksaan untuk berkomitmen. Sehingga tidak perlu ada sifat posesif. Siperempuan punya dunia sendiri. Dan laki laki punya dunia sendiri. Yang terpenting mereka saling menyayangi dan menghargai.

  2. Hai, Kak Trinzi.
    Cerita kakak pernah aku alami juga dengan pasanganku. Dia punya kebiasaan untuk mengucapkan ekspresi sayang yang ditutup dengan kalimat ‘You’re mine, I’m yours.” Kebiasaan itu berjalan lama, mungkin sampai 1 tahun. Sejak awal aku memang merasa janggal dengan ekspresi itu, tapi tak pernah memprotesnya. Mungkin, karena aku belom memiliki argumen yang kuat untuk menyanggah. Sampai suatu saat aku merasa betul-betul jengah. Aku merasa sangat terkekang dan tidak bebas. Akhirnya, aku meminta padanya untuk berhenti mengucapkan kalimat itu. Alasannya, aku merasa seperti barang. Sama seperti Kak Trinzi, aku merasa perempuan dan laki-laki yang berhubungan harusnya memiliki posisi setara. Mereka sama-sama sadar untuk menjalin hubungan dan saling mengisi. Bukan sebatas untuk menjalankan peran sesuai dengan standar masyarakat.

    Sesuai dugaan, dia marah ketika kuprotes. Dia menuduhku terlalu kaku, tidak romantis. Aku tak memaksanya berubah, tapi seiring waktu ia tak lagi mengucapkan “You’re mine and I’m yours”. Sejak kata-kata itu tak lagi ia ucapkan, aku merasa lebih bahagia. Lebih dihormati sebagai perempuan yang punya agensi, keinginan untuk berkembang, dan bebas. Aku juga merasa lebih leluasa ketika bekomunikasi dengan pasangan, seperti teman. Begitu juga dengan pasangan, saya amati ia menjadi lebih terbuka, lebih sabar, dan tidak gampang cemburuan. Jadi, kalimat ‘sesepele’ itu punya pengaruh besar ya ke hubungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *