Traveling Sendirian Seharusnya Aman Bagi Laki-laki Maupun Perempuan

Seandainya saya punya super power berganti kelamin jadi lelaki, maka momen terbaik melakukannya adalah ketika traveling sendirian. Saat lelaki memutuskan berwisata sendirian, kebanyakan teman-teman atau saudaranya akan berkata, “Wiih, keren bro! Have fun ya!” Sedangkan bila perempuan memutuskan solo traveling, sebagian besar orang akan berkata, “Hati-hati ya! Kamu perempuan, lho. Banyak orang iseng.”

via GIPHY

Peringatan ini memang masuk akal. Di tahun 2013, Sarai Sierra, ibu asal New York yang sedang berwisata ke Turki ditemukan meninggal dunia. Seorang lelaki Turki mengaku membunuh Sierra setelah ajakannya berciuman ditolak. Pulau Majorca, Spanyol, kini memiliki reputasi mengerikan sejak ada tiga turis perempuan diperkosa dalam satu hari di bulan September 2017. Seorang turis perempuan asal Indonesia diperkosa oleh warga Nigeria di Kamboja yang dikenalnya melalui program couchsurfing pada Juni 2017.

 

Data dari British Foreign Office menunjukkan jumlah warga Inggris meminta layanan kedutaan besar setelah mengalami kekerasan seksual. Di tahun 2012-2013 ada 310 orang yang meminta bantuan, 138 di antaranya mengaku korban pemerkosaan, 172 dilecehkan secara seksual. Terdapat kenaikan sebesar 9-12 persen dari tahun sebelumnya. Sayang sekali Kementrian Luar Negeri Indonesia tidak pernah merilis data seperti ini. Di lain pihak riset berjudul Women in Business Travel Report yang diterbitkan Maiden-Voyage tahun 2016, membuktikan 30 persen perempuan yang sedang traveling untuk bisnis pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual.

 

Pengalaman pribadi saya dan traveler perempuan lain malah membuktikan, meskipun traveling bareng orang lain, tetap saja rentan dapat pelecehan. Momen traveling ke Iran pada Desember 2016 lalu tidak hanya merekam keindahan budaya Persia di benak saya. Tapi juga meninggalkan memori saat pantat saya diremas oleh anak muda tak dikenal (FYI waktu itu saya traveling berdua sahabat). Memori ini lantas memicu ingatan lain saat traveling. Dirayu supir mobil sewaan sepanjang perjalanan di Bali tahun 2010. Lalu tidak sengaja bertemu kembali dengannya saat kembali ke Bali beberapa tahun kemudian (saya kabur pura-pura tak kenal). Dikuntit di Petra oleh pemuda yang menyewakan unta. Didekati lelaki umur 40-an di Selcuk, Turki, yang ‘memaksa’ saya membeli wine di toko temannya kemudian ia bersikeras menemani duduk. Diintip saat sedang pipis di WC sebuah sekolah di Padang saat survei untuk bakti sosial kantor. Insiden diintip di toilet pernah juga dialami teman saya, Titi, saat menginap di sebuah hotel di Yogyakarta. Kalau menghitung rangkaian street harassment ketika jalan-jalan, wah itu, sih, enggak perlu diomongin lagi saking banyaknya.

 

Tapi haruskah berbagai survey dan pengalaman ini membuat saya dan teman-teman traveler perempuan berhenti berwisata? Haruskah perempuan menjadi desperate mencari teman perjalanan, terutama lelaki supaya merasa aman di tempat tujuan? Apakah perempuan hanya bisa jalan-jalan hanya ke tempat-tempat yang dekat dari kota kelahiran agar mudah dijangkau keluarga atau sahabat bila terjadi sesuatu?

 

https://typeset-beta.imgix.net/2015/11/1/preloaded-image-2588.gif

“Jangan salahkan konsep ‘traveling sendirian.’ Jangan menyerang isu ‘berwisata keluar negeri.’ Isu utamanya adalah perlakuan kepada perempuan. Dan seharusnya kita menggunakan sorotan media sebagai ajang diskusi agar bisa memperbaiki hal ini,” ujar Jodi dari LegalNomads.

 

Perkataan Jodi ini mengingatkan saya pada riset Claudia Card yang berjudul, Rape As A Terorist Institution (1991). Ia menuturkan bahwa pemerkosaan merupakan institusi terorisme karena memiliki tujuan politik untuk meneror perempuan agar tetap berada di bawah posisi lelaki. Seperti terorisme, pemerkosaan memiliki dua target. Yaitu si korban sebagai target utama dan target kedua adalah mengirim pesan kepada masyarakat lebih luas. Pesan tersebut disebarkan guna menciptakan ketakutan dalam masyarakat sehingga menjadi patuh terhadap dominasi lelaki. Perempuan lantas terjebak ketakutan yang dikonstruksikan oleh masyarakat dan ‘terpaksa’ membatasi pilihan-pilihan hidupnya agar tetap aman. Dari apa yang harus dia pakai, ke mana dia pergi, apa yang dia lakukan dan dengan siapa ia pergi. Pilihan-pilihannya sudah ditentukan untuk membedakan mana perempuan ‘baik-baik’ yang tidak akan dilecehkan dan perempuan ‘nakal’ yang rentan mengalami kekerasan seksual. Walaupun sebenarnya perempuan yang masuk kategori ‘baik-baik’ pun tetap memiliki ketakutan diperkosa karena sudah diteror untuk patuh, tulis Card.

 

Sebaik-baiknya tempat perempuan adalah di rumah. Pernah mendengar jargon ini? Sebuah jargon beracun yang sudah mengakar sejak dahulu kala. Dulu hanya perempuan kelas atas atau kaya raya yang bisa melawan norma tersebut. Robinson dalam bukunya, Wayword Women: A Guide to Women Travellers (1990) menulis bahwa sampai abad ke-16, perjalanan yang terhormat bagi perempuan adalah menjadi ratu atau mengunjungi tempat-tempat suci. Secara konteks sejarah, ada perbedaan antara tujuan perjalanan bagi perempuan maupun lelaki. Kaum lelaki biasa bepergian untuk jual-beli, perang, menaklukan suatu daerah, eksplorasi dan lain sebagainya. Sementara perempuan bepergian sebagai tenaga pendukung di bidang penyebaran agama, imigrasi, diplomatis. Pelbagai bukti-bukti sejarah tadi sangat mungkin masih diwariskan turun temurun dan mengurangi keleluasaan perempuan dalam melakukan perjalanan wisata hingga kini.

 

Akibatnya ketika masyarakat terbawa arus menghalangi perempuan bepergian, kesempatan mengembangkan wawasan pun menjadi tertutup. Bukan cuma melulu tentang berwisata, tapi tujuan lain, seperti mendapatkan akses kesehatan, mengurus urusan keluarga, pendidikan atau kesempatan kerja lebih baik. Lagi-lagi perempuan menjadi kaum yang terpinggirkan.

 

Risiko kekerasan seksual saat traveling tentunya harus selalu diwaspadai. Baik bagi traveler perempuan maupun lelaki. Tapi jangan sampai membuat kita ciut tak berdaya. Berkutat di tanah air atau rumah pun tidak otomatis meniadakan risiko kekerasan seksual. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 30 Maret 2017, menyebutkan, 1 dari 3 perempuan Indonesia usia 15-64 tahun pernah menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun seksual. Sebagian besar pelakunya dari orang yang dikenal, seperti pasangan, guru, mertua.

 

Sebagai traveler perempuan yang pernah mengalami pelecehan seksual, saya tetap tidak merasa kapok. Ini juga yang dialami oleh banyak traveler perempuan lain. Karena menyerah berarti bertekuk lutut pada patriarki. Takluk pada kecenderungan masyarakat fokus pada korban, bukan pada pelaku. Beberapa travel blogger perempuan justru bercerita bahwa pelecehan seksual yang dialami membuatnya menjadi pejalan yang lebih bijak. Seperti yang terjadi pada GirlAstray. Ia mengubah rasa cemasnya menjadi keyakinan diri yang membuatnya lebih dihormati orang lain. Setelah mengalami pelecehan seksual di Zambia, Hannah berbagi tips agar perempuan mampu terhindar dari insiden mengerikan yang dialaminya.

 

Halangan traveling itu bisa jadi budget atau waktu. Tapi jangan jadikan gender sebagai penghalang. Saatnya mengubah fokus bagaimana mencegah orang melakukan penyerangan dan pemerkosaan, bukan menaruh beban keselamatan kepada solo traveler perempuan semata. Ajari lelaki untuk tidak memperkosa. Bukan mengatur traveler perempuan agar tidak diperkosa. Karena perempuan juga berhak merasa aman saat bertualang menjelajah dunia. So ladies, go on and explore the world. With or without someone by your side.

 

 

http://www.theluxuryspot.com/wp-content/uploads/2014/07/When-you-get-what-you-want-out-of-the-divorce.gif

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan kedua dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017.

2 Comments

  1. Halo Kak Trinzi
    Kak pada saat kakak mengalami pelecehan seksual di Iran apa yg kakak lakukan pada pelaku
    Karena aku juga pernah mengalami hal yg sama pada saat jalan sendirian ke Malang di dalam kendaraan umum, terlalu marahnya dalam hati aku sampe g bisa teriak sama sekali, cuman menghindar itupun si pelaku masih tetep mepet
    Makasih banyak kak udah bagiin tulisan kayak gini buat para wanita

    1. Hai Nanik. I’m sorry it happened to you *hugs* Waktu itu aku tendang dia. Terus dia cengengesan. Aku tendang sekali lagi. Dan temanku pas tahu langsung teriak ke dia. Lalu ada cowok yang umurnya lebih dewasa menghampiri kami dan minta maaf. Dia bilang di Iran memang ada cowok2 yang tidak educated seperti dia. Karena cowok ini aku jadi agak tenang. Aku malas mempersoalkan ke polisi. Waktuku terbatas juga di sana. Sebel banget sebenarnya sih. Next time kalau ada kejadian seperti itu, kamu pura-pura nanya arah aja sama orang lain yang di angkot atau di dekat kamu. Dengan begitu si orang ini jadi agak sungkan buat mepetin kamu. Semoga berguna ya. We all need to be brave to fight against sexual harassment.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *