Marlina Si Pembunuh Empat Babak dan ‘Kekayaan’ Budaya Pemerkosaan di Indonesia

 

Warning: Spoilers ahead!

 

 

Menonton Marlina Si Pembunuh Empat Babak dengan latar belakang Sumba akan kembali menyadarkan penonton tentang keindahan dan kekayaan alam Indonesia yang tidak pernah habis. Sumba telah menjadi destinasi cantik yang sangat Instagramable. Tidak cuma dipakai sebagai tempat syuting, perbukitan yang berkelok-kelok bak negeri dongeng khas Sumba sering menghiasi pemotretan pra pernikahan, fesyen bahkan latar foto kehamilan seorang selebgram.

 

Namun kali ini, film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak ingin menuntun penonton mengenali kekayaan budaya lain yang dimiliki Indonesia. Kekayaan budaya pemerkosaan. Apakah itu?

 

Istilah budaya pemerkosaan dikemukakan oleh Dianne F Herman dalam essai berjudul The Rape Culture yang terbit tahun 1984. Ia menjelaskan budaya pemerkosaan sebagai sikap pembiaran masyarakat terhadap kekerasan seksual. Emilie Buchwald, melalui bukunya, Transforming A Rape Culture (1993), berargumen budaya pemerkosaan adalah ketika masyarakat menganggap kekerasan seksual sebagai hal yang tak bisa dihindari. Yha, seperti kematian atau pajak.

via GIPHY

 

 

Mengapa budaya pemerkosaan bisa terjadi?

 

Kekerasan seksual tidak terjadi begitu saja. Ada pemantik-pemantik yang memicu kejadian dari yang ringan, sedang, hingga fatal yang berujung pada kematian. Secara lebih simpel, budaya pemerkosaan bisa dilihat sebagai suatu piramida.

 

 

 

 

 

 

Seperti aturan umum piramida, lapisan paling bawah adalah yang paling mudah dan banyak terjadi. Guyonan atau mitos-mitos seksis yang biasa dilontarkan orang, umumnya lelaki ada di level paling awal. Di sinilah dimulai pembentukan posisi antara lelaki dan perempuan. Marlina mengalaminya saat Markus berkata ia adalah perempuan paling beruntung karena akan tidur dengan tujuh orang malam itu. Buat Markus, Marlina adalah objek yang pasif yang seharusnya tersanjung bila ada lelaki yang mau menidurinya. Seperti lukisan cantik yang nilainya bertambah tinggi bila banyak orang yang mengaguminya. Sementara bagi Marlina, deretan kata-kata yang keluar dari bibir Markus adalah vonis mengerikan. Apa yang nikmat dari dipaksa berhubungan seksual dengan tujuh orang?

https://ichef-1.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/6501/production/_98775852_e4d250ea-0062-4eb0-903a-9062266f96eb.jpg

Seraya memasak sup ayam, Marlina pun mencuri dengar para perampok yang berguyon tentang vagina perempuan saat diperkosa. “Kalau lubangnya enggak ketat, kan artinya dia menikmati juga,” yang lantas disambut tawa menggelegar dari teman-temannya. Lelucon asal njeplak yang hanya menganggap perempuan sebagai ‘lubang.’ Saya jadi ingat momen di sekolah menengah atas. Seorang teman lelaki yang memperkenalkan jargon ‘salome.’ Satu Lobang Rame-rame. Sebagai simbol perempuan yang biasa ditiduri banyak orang. Ujaran-ujaran seksis tersebut dianggap ‘biasa saja.’ Kalau diprotes akan cenderung mendapat cibiran, “Ih baper amat! Enggak asyik lo!”

https://ichef-1.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/6501/production/_98775852_e4d250ea-0062-4eb0-903a-9062266f96eb.jpg

 

 

Walaupun penggunaan bahasa dan guyonan seksis tidak secara langsung menyebabkan terjadi kekerasan seksual, tapi ini mempengaruhi cara kita melihat sebuah isu. Lelucon demi lelucon, istilah demi istilah, ungkapan demi ungkapan yang menunjukkan posisi perempuan selalu di bawah lelaki adalah pupuk paling berfaedah untuk menyuburkan bibit-bibit kekerasan seksual. Semakin tinggi toleransi masyarakat terhadap lapisan paling bawah piramida kekerasan seksual, semakin rentan terjadi kondisi paling mematikan di bagian paling atas. Masih jelas di ingatan kasus YY yang tewas diperkosa 14 orang. Dimulai dari sekelompok lelaki yang menggodanya di tempat umum. Atas ratusan atau ribuan catcalling yang kita biarkan terjadi, ada satu atau dua kasus fatal seperti yang dialami YY. Dari ribuan kali guyonan ‘Salome’ diungkapkan, ada perempuan seperti Marlina yang terancam diperkosa beramai-ramai.

 

 

Ingat kuda yang dibawa Mama penumpang truk bersama Marlina? Kuda tersebut disebut belis, yang artinya mahar dalam budaya Nusa Tenggara Timur.

 

 

https://images-na.ssl-images-amazon.com/images/M/MV5BOTJlMjMwY2EtMjVmNy00YmZjLTljZmMtMDM5OTAxMjE2NTNhL2ltYWdlL2ltYWdlXkEyXkFqcGdeQXVyMjgxMzkwNjA@._V1_.jpg

 

Buat saya yang orang Jawa, belis, itu biasa saja layaknya mas kawin. Namun bagi perempuan-perempuan Nusa Tenggara Timur, belis adalah penanda ia telah menjadi milik keluarga suami. Belis diberikan bukan kepada pengantin perempuan. Tapi kepada pihak lelaki dari keluarga si perempuan sebagai hadiah telah menyerahkan si pengantin perempuan. “Kalau sudah di-belis, maka artinya dia harus ikut keluarga suaminya. Dia harus kerja dan patuh pada keluarga suami. Urus ternak, rumah, anak, tenun. Kalau ada nenek dan kakek, istri yang juga urus,” jelas Olin Monteiro, aktivis perempuan yang pernah membuat penelitian tentang dampak belis terhadap istri di Sumba.

 

Saya jadi ingat penuturan seorang perempuan di postingan saya tentang pernikahan. Ia pernah kembali dekat dengan mantan pacarnya yang orang Sumba. Tapi ia memilih mundur ketika si ibu mantan pacarnya berbicara pada ibunya, “Ayo sudah secepatnya diresmikan saja lalu Gani (nama si perempuan-red) saya atur jadi PNS di Sumba. Jadi aman deh anak saya di Sumba ada yang ngurus!” Gani merasa tidak dipandang sebagai manusia yang punya keinginan dan cita-cita. Seketika ia memutuskan tidak jadi kembali berpacaran dengan mantannya.

 

Merry Kolimon, pendeta feminis pemimpin Gereja Masehi Injil di Timor dalam wawancara dengan saya beberapa waktu lalu berkata, “Dalam pedampingan gereja, belis sering menjadi alasan KDRT. Belis dipahami bahwa perempuan sudah milik keluarga laki-laki. Ketika cekcok, suami akan memukul istrinya. Lazim ditemui suaminya akan bilang, ‘Yang saya pukul itu bukan istri saya. Saya pukul itu sapi (contoh belis-red) saya.’”

http://www.reactiongifs.com/r/2012/12/unfair.gif

Sedih ya? Tapi begitulah umumnya cara masyarakat Indonesia, tidak cuma di Sumba, dalam memandang perempuan. Yaitu sebagai pihak yang berada di bawah dominasi lelaki. Dan ketika sebuah hubungan menempatkan salah satu pihak lebih tinggi dibanding pihak yang lain, maka ketidakadilan akan rentan terjadi. Kekerasan dalam hubungan personal akan semakin rentan terjadi. Seperti Novi yang harus menerima tamparan dari suaminya tanpa peduli keadaannya yang sedang hamil besar.

 

Seperti pak polisi yang nyaris tak bergeming mendengarkan kisah pemerkosaan yang dituturkan Marlina. Jangankan berempati, petugas keamanan malah bertanya balik padanya, “Kalau dia sudah tua, kenapa bisa diperkosa?” Harapan Marlina semakin remuk ketika polisi malah menyuruhnya bersabar. Alat visum belum tersedia, mungkin bulan depan alatnya baru datang, kata si polisi. Anehnya terhadap laporan kasus perampokan, polisi langsung percaya. Sementara pada kasus pemerkosaan, polisi justru sangsi pada kesaksian Marlina dan cenderung enggan menyelesaikan kasus. Victim blaming atau kecenderungan menyalahkan korban yang dialami Marlina, sudah terlalu sering dialami korban kekerasan seksual. Masih segar dalam ingatan kita ketika Kepala Kapolri Jendral Tito Karnavian yang terhormat menyatakan unsur ‘kenyamanan’ penting ditanyakan pada korban kekerasan seksual. Yang mana bisa berarti kalau mobil kita dicolong, polisi akan bertanya, “Ikhlas enggak?” Kalau jawabannya ikhlas, ya berarti bukan perampokan.

 

https://ichef.bbci.co.uk/news/624/cpsprodpb/1B19/production/_98773960_44f6d5ff-d707-4958-9c1b-4af7bb3a84ee.jpg

 

Catatan Tahunan Komnas Perempuan tahun 2017 mengungkapkan ada 300 kasus kekerasan terhadap perempuan yang masuk dari Nusa Tenggara Timur. Jumlah ini nampak sedikit bila dibandingkan dengan DKI Jakarta yang memiliki jumlah terbanyak sebesar 2552 kasus. Akan tetapi Komnas Perempuan mengingatkan jumlah tersebut perlu dibaca secara kontekstual. Sangat mungkin kasus yang dilaporkan adalah pucuk gunung es semata. Pelaporan sangat tergantung pada infrastruktur, kuantitas dan kualitas sumber daya yang mempengaruhi pelaporan serta pendokumentasian kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan.

http://www.chocolatecoveredlies.com/wp-content/uploads/2014/05/rape-culture-2.jpg

Saya jadi membayangkan berada dalam posisi Marlina. Malam sebelumnya habis diperkosa dan dirampok. Mau ke kantor polisi harus berjalan menempuh jarak puluhan kilometer di tengah alam yang tandus dan terik matahari yang membabi buta. Enggak ada gojek, uber, sinyal susah setengah mati, boro-boro mall buat berteduh. Saya harus membajak truk, mencuri kuda seraya menenteng kepala pemerkosa demi menuntut keadilan. Sendirian.

https://cdn1.thr.com/sites/default/files/2017/05/marlina_the_murdere_in_four_acts-1_h_2017.jpg

 

 

Menurut survei Komnas Perempuan, Yayasan Lentera Indonesia dan Magdalene.co, sembilan puluh tiga persen kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan. Sebetulnya Marlina sudah menjadi di antara tujuh persen yang berkehendak keras untuk melapor. Tak peduli jarak yang jauh dan akses yang nyaris tiada. Tapi yang Marlina dapat hanyalah zonk. Bagi saya, Marlina bernyali tinggi. Tapi di dunia patriarki, Marlina adalah perempuan naïf.

 

 

https://id.bookmyshow.com/blog-hiburan/wp-content/uploads/2017/11/Marlina-si-Pembunuh-dalam-Empat-Babak-BookMyShow-Indonesia-1-e1510040941725.png

 

Balas dendam yang dilakukan Marlina adalah fantasi paling dahsyat dari perempuan yang menjadi korban pemerkosaan. Persahabatan Marlina dan Novi adalah #friendshipgoals antara perempuan. I got your back, you got my back. Girlfriends before boyfriends. Marlina dan Novi bukan perempuan urban yang beramai-ramai protes di jalan menuntut otoritas tubuh. Marlina dan Novi tidak pernah membaca Simone De Beauvoir, Judith Butler, Audra Lorde. Marlina dan Novi tidak berpartisipasi dengan tagar #metoo untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan kekerasan seksual. Tapi perjuangan Marlina dan Novi sejalan dengan gerakan feminisme di seluruh dunia. Sama-sama berusaha melawan kultur pemerkosaan yang tumbuh terlalu subur. 

 

Terima kasih Mouly Surya atas penuturan getir yang indah tentang penjara patriarki. Sebagai perempuan yang hidup di Jakarta dengan akses informasi dan fasilitas berlimpah, menonton Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak semakin membuka mata saya. Bahwa budaya pemerkosaan yang dimulai dari guyonan seksis dan menyalahkan korban, bukan milik daerah terpencil semata. Ia nyata adanya di seluruh Indonesia.

 

https://i.pinimg.com/originals/4f/d6/56/4fd656f4bddabf5406d0b8db7b312e35.jpg

 

 

Note:

Tulisan ini merupakan tulisan pertama dari 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan yang saya buat untuk menantang diri sendiri sekaligus meramaikan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diadakan tanggal 25 November – 10 Desember 2017.

6 Comments

    1. Sayangnya begitu. Dan lebih banyak lagi perilaku2 yang kita anggap ‘biasa saja’ tapi bisa memicu terjadinya pemerkosaan. Itu yang harus kita hentikan supaya kekerasan terhadap perempuan bisa dikurangi.

  1. Artikel ini benar-benar membuka mata saya kalo ternyata rape culture itu ADA di Indonesia.
    I just can’t believe about “belis”, kok bisa ya seorang suami menganggap istri yg d pinangnya sebagai ‘sapi’. Panas banget pas baca bagian itu 🙁
    Trus kaa Trinz, aku mau saran dong gimana hadepin catcalling karena aku hanya bisa diam klo ada org yg cuitin, atau sok2an nyapa pke assalamualaikum, atau bahkan langsung terang2an panggil ‘sayang’ ! Ugh that’s so annoying! Apalagi oknum2 ini bisa dari berbagai umur, dr yg anak kecil sekelas SMP, abang2, bapak2 huftt😩

  2. Tulisannya bagus sekali dan benar-benar ngebuka mata.
    Di daerahku (Bengkulu Selatan), aku juga sering dengar jokes yang mengibaratkan perempuan ya ‘begitu’.
    Dan itu emang tumbuh subur di Indonesia. Bahkan sekarang ketika aku melabjutkan kuliahku, aku sering nemuin teman kelas saya yang laki-laki, mereka beberapa kali kedengaran dengan saya membuat jokes seperti yang telah di jelaskan.
    Seolah memang ya udah lumrah dan kalau terjadi, korban yang salah karena “mengundang”.
    Nice one!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *