5 Alasan Kita Harus Berhenti Menyalahkan Jennifer Dunn dan Perempuan Lain Tertuduh Perusak Rumah Tangga

 

 

Ya ya, saya mengerti. Kalian pasti lagi on fire menggoreng Jennifer Dunn. Dari membongkar foto-foto masa lalunya. Menelaah satu persatu mantan pacarnya. Meninggalkan komen-komen penuh kebencian di kabar terbaru tentang Jendun di akun-akun ghibah nusantara. Membagi video pelabrakan terhadap Jendun. Tidak lupa membuat komen sekreatif mungkin dan menunjukkan kebencian sekuat mungkin demi jadi best comment di berita tentang Jendun di Line Today.

 

Jendun, seperti halnya Mulan Jameela dan Ayu Tingting adalah deretan perempuan yang pernah menjadi tertuduh perusak rumah tangga orang.

Apa kesamaan keempat perempuan ini? Jumlah haters yang wow warbiyasa. Mulan Jameela bahkan memiliki akun haters yang di-follow sampai 300ribuan orang.

 

Tidak cuma seleb. Bulan Maret 2017, surat terbuka yang ditujukan kepada selingkuhan di sebuah blog pernah viral hingga menjadi berita pelbagai media ternama. Akun @lambeturah bahkan memulai gerakan #PerangiValakor, yaitu menyebarkan foto-foto perempuan terduga selingkuhan pasangan dari followers-nya. Yang mana tentu saja disambut gegap gempita oleh para penghamba akun ghibah.

 

Masyarakat Indonesia, terutama perempuan, benar-benar punya energi menakjubkan dalam mempermalukan perempuan lain yang dituduh menjadi selingkuhan. Kenapa ada istilah pelakor atau valakor untuk perempuan selingkuhan? Sementara tidak ada istilah buat lelaki yang berpacaran dengan istri orang, atau lelaki yang punya affair?

 

http://vignette4.wikia.nocookie.net/justin-bieber/images/f/ff/Justin_thinking.gif/revision/latest?cb=20160209073442

 

Padahal buibuk dan mzmz, namanya juga affair atau perselingkuhan. Pastinya ada dua pihak yang aktif terlibat. Karena kalau salah satu doang yang maksa, itu namanya penculikan. Faisal Harris dan Ahmad Dhani bukan anak bayi yang dibiarkan ibunya terlantar di pinggir jalan sehingga leluasa dicyiduk orang. Mereka manusia dewasa, punya otak dan hati yang mampu membuat keputusan.

 

Ketika Ahmad Dhani memutuskan bercerai dengan Maia dan menikah dengan Mulan, itu adalah keputusan yang dilakukan Ahmad Dhani dengan sadar. Enggak ada adegan Mulan menaruh golok di leher Ahmad Dhani saat upacara pernikahannya. Lalu kenapa kita selalu memusatkan kesalahan pada Mulan serta perempuan-perempuan tertuduh perusak rumah tangga seolah perselingkuhan diciptakan oleh satu orang saja? Menjadikan mereka bulan-bulanan dan bersorak sorai mempermalukakan perempuan-perempuan ini?

 

  1. Solidaritas semu

 

Sebagai sesama perempuan kita berusaha saling mendukung dengan tidak ‘mencuri barang’ milik perempuan lain. Tapi solidaritas semacam ini justru ‘mengaburkan’ pandangan kita terhadap problem yang sesungguhnya. Solidaritas sejati antar perempuan terjadi bila kita lebih bijak melihat duduk persoalan dan tidak memfokuskan kesalahan pada pihak perempuan yang dituduh selingkuhan. Kenapa ada perempuan mau menjalin affair dengan lelaki beristri? Apakah dari awal perempuan itu sudah tahu bahwa si lelaki sudah berumah tangga? Bila sudah tahu, apa yang dikatakan dan dilakukan lelaki tersebut sehingga perselingkuhan tetap terjadi? Seorang teman saya pernah menjalin hubungan dengan lelaki yang sudah beristri. Hubungan yang awalnya iseng tersebut menjadi lebih serius karena si lelaki terus-terusan membanjirinya dengan perhatian dan sering bercerita betapa tidak harmonis hubungan ia dan istrinya. Bila menjadi istrinya, apakah kita tega memukulnya di depan umum, menuduhnya pelacur dan menyebarluaskan videonya di medsos? Masih tega? Ya sudah, kita lihat alasan-alasan lainnya.

 

  1. Lelaki tak bisa menahan nafsu, perempuan harus suci

Sejak dulu kala kita dicekoki narasi selir dan gundik. Perempuan-perempuan ini selalu digambarkan berbahaya, jagoan di ranjang dan siap memangsa semua lelaki, apalagi yang sudah beristri. Sementara masyarakat memandang lelaki memiliki sifat maskulin yang mana ditunjukkan dengan dorongan seksual yang menggebu-gebu. “Lelaki itu ibarat kucing garong. Disodorin ikan asin, ya dimakan lah,” kata seorang teman lelaki. Di sinilah masalahnya. Kita menganggap lelaki itu binatang, bukan manusia. Enggak bisa mengontrol hasrat seksualnya. Selalu ingin menebar benih di mana-mana. Apalagi pas musim kawin. Sejak tahun 1900 ilmuwan sudah memperkenalkan konsep Coolidge effect, yaitu simbolisasi kecenderungan hewan jantan mengawini hewan betina yang berbeda-beda. Di tahun 1910, Carl Jung menulis surat kepada Sigmund Freud, “Rahasia pernikahan yang bahagia bagiku adalah izin menjadi tidak setia.”

 

Ujung-ujungnya perempuan yang harus menahan diri supaya tidak menarik perhatian lelaki beristri. Istri juga mesti merawat diri agar lelaki tidak selingkuh. Selain merawat diri, wajib pula melayani suami agar pernikahan tetap bahagia. Sungguh sebuah beban tanggung jawab yang luar biasa.

https://i.pinimg.com/originals/8b/c8/46/8bc846742ca6fea9a34d187f2829f9e2.gif

 

  1. Lebih mudah marah terhadap selingkuhan daripada ke suami

Ahli hubungan pernikahan, Charles J Orlando memaparkan bahwa lelaki yang berselingkuh umumnya paham mereka sedang menyakiti istri yang dicintainya. Mereka tahu risiko kehilangan keluarga dan dampak negatif pada reputasinya. Tapi karena ada kebutuhan dan keinginan yang tidak dipenuhi, mereka tega berbohong pada istri dan keluarganya. Seringkali mereka juga berbohong kepada selingkuhannya dengan mengaku masih single.

http://likegif.com/wp-content/uploads/2013/12/heartbreak.gif

Tentu rasanya hati bak dicabik-cabik pakai golok plus gergaji ketika seorang istri tahu suaminya telah mengkhianati kepercayaannya. Ditambah lagi pertanyaan kepada diri sendiri, “Salah kita apa?” Banyak perempuan yang tak sanggup menghadapi rasa yang bercampur antara sedih, kecewa, marah dan sisa-sisa rasa sayang kepada pasangannya. Akhirnya lebih mudah melampiaskan kemarahan kepada orang lain. Sasaran paling utama, si perempuan selingkuhan.

 

Perselingkuhan adalah hal yang kompleks dan pasti menyakitkan bagi yang diselingkuhi maupun keluarga yang bersangkutan. Mbak Sarita dan Shafa, saya turut sedih atas permasalahan yang sedang terjadi. Saya mohon maaf bila postingan ini menyinggung perasaan kalian. Kalian yang sedang membaca ini dan sedang berada sebagai pihak yang diselingkuhi, ketahuilah bahwa perasaan-perasaan negatif yang berkecamuk di dada merupakan bagian dari proses penyembuhan diri. Tammy Nelson PhD, pengarang buku The New Monogamy memaparkan bahwa rasa sakit akibat perselingkuhan dipicu oleh kehilangan harapan atas masa depan yang sudah dibangun. Apapun mimpi bersama yang sudah dibuat, apakah itu tetap mesra saat tua, memiliki cucu dan menjelajah dunia, perselingkuhan telah mengobrak-abrik impian masa depan dengan pasangan. Berduka adalah proses mengikhlaskan impian-impian tersebut. Sekaligus memberikan ruang bagi masa depan baru untuk move on.

 

 

  1. Kecenderungan memperlakukan hubungan seperti kepemilikan barang.

Setiap kali seorang mantan pacar saya berkata, “Kamu milikku,” sejujurnya dahi semacam mengernyit. Kenapa, sih, menjalin hubungan dengan seseorang maka itu berarti kita adalah ‘kepunyaannya?’ Dalam bayangan saya ‘milik’ itu terasa transaksional dan penuh dengan unsur posesif. Begitu sudah menjadi ‘milik’ maka ia laksana barang yang harus selalu ada.

 

Seberapapun kita melekatkan serangkaian kewajiban yang harus dipatuhi tiap pihak dalam pernikahan, nyatanya sebuah hubungan terdiri dari manusia yang tetap memiliki kebebasan menentukan pilihan setiap hari. Seperti halnya tiap hari kita sebagai manusia dihadapkan pada pilihan mau pakai baju apa. Rok atau celana? Warna hitam atau putih? Begitu pula dalam pernikahan. Mau jujur atau bohong? Mau pulang cepat bertemu keluarga atau nonton bersama perempuan lain?

 

Menggunakan konsep ‘pencuri’ ‘perebut’ atau ‘perusak’ adalah sama dengan menganggap lelaki sebagai pihak tak berdaya nan pasif serta innocent dalam perselingkuhan.

 

Saya jarang mengingat pelajaran masa kuliah di Psikologi UI. Tapi saya ingat sekali dengan omongan mas Rudolph Matindas, atau akrab dipanggil Mas Budi. “Kesetiaan itu soal kemauan, bukan keharusan.”

 

 

via GIPHY

5. Kesulitan bercerai di Indonesia

Perempuan yang mengajukan cerai di Indonesia akan mengalami proses yang lama dan bertele-tele, terutama bila pihak lelaki belum menyetujui prosesnya. Di awal proses, pihak pengadilan agama akan cenderung menganjurkan melakukan mediasi.

 

Guru yoga saya pernah bercerita menyaksikan perempuan yang dinasihati petugas pengadilan agama agar berpikir ulang untuk cerai meski ia menangis-nangis bercerita perselingkuhan suaminya. “Kenapa suaminya selingkuh? Pasti ibu yang salah karena kurang mengayomi,” ujar si petugas. Saat itu guru yoga saya sedang mengajukan proses bercerai dari suaminya yang sudah menghamili perempuan lain. “Aku mengikuti saran temanku yang sudah pernah proses cerai. Supaya cepat, aku disuruh akting depresi,” tuturnya sambil tertawa.

 

Akting bengong, mata menerawang, dan diam tak menjawab pertanyaan, ia lakukan di depan petugas yang melayaninya. Si teman yang mendampingi berkata, “Dia memang jadi begini sejak suaminya selingkuh.” Tanpa banyak dikomentari, petugas memberikan formulir cerai yang dibutuhkan. Di luar ruangan mereka mengisi formulir sambil tertawa keras.

 

Lies Marcos, pengacara paralegal yang sering diminta menyelesaikan masalah perceraian akibat KDRT suami menjelaskan betapa sulit proses yang harus dijalani. “Pihak tergugat akan melakukan segala cara untuk menentang upaya sang istri; dari ancaman tidak akan mengizinkan membawa anak, akan memperpanjang / menggantung proses di persidangan, sampai mengancam secara fisik. Penentangan suami itu bukan karena dia begitu cintanya tetapi ini terkait dengan egonya sebagai lelaki yang merasa dilawan.”

 

Dikutip dari dream.co.id, Sarita mengaku sudah berulang kali minta cerai namun tidak diizinkan oleh suami. Analisis sok tahu saya, bisa jadi ledakan kemarahan yang diluapkan oleh Shafa dan diekspos di media sosial merupakan pemicu agar mempercepat proses cerai dari pihak Faisal Harris.

 

Btw busway, perselingkuhan juga termasuk bentuk KDRT, lho. Perselingkuhan termasuk golongan kekerasan psikis yang menganggu emosional pasangannya.

****

 

Sekali lagi, perselingkuhan adalah isu yang kompleks. Namun mempermalukan dan meletakkan sebagian besar beban kesalahan hanya kepada perempuan yang dituduh menjadi selingkuhan berarti menempatkan lelaki jadi pihak yang wajib dimaklumi segala kesalahannya. Padahal dia yang memilih mengkhianati sumpah setia pernikahan. Apapun gender maupun orientasi seksualnya, ketika seseorang ingin berselingkuh, ia akan menciptakan kesempatan dan berupaya menemukan partner yang bersedia menjadi selingkuhannya. Bila tidak ada Mulan Jameela, maka akan ada perempuan lain yang menjadi selingkuhan Ahmad Dhani.

 

Riset menunjukkan seseorang yang pernah berselingkuh memiliki kemungkinan tiga kali lipat lebih besar untuk menjalin affair lagi, dibandingkan dengan yang selalu setia.

 

Once a cheater, always a cheater, could actually be true.

 

23 Comments

  1. Hai kak trinzi. Wow tulisan kamu menyuarakan isi pikiranku, ah senangnya. Baru kemaren aku dengan PD memotong pembicaraan teman yang menjelek2kan Jedun dan sangat mendukung tindakan kekerasan si anak. Aku berkata harusnya yg salah juga bapaknya, tukang selingkuh ya tetep tukang selingkuh, ntar udah gak sama Jedun juga dia bakal sama yg lain kan.

    1. Halo! Terima kasih sudah mampir :). Sebenarnya aku juga ingin menulis tentang efek perselingkuhan bagi anak. Aku mengerti Shafa sampai marah seperti itu. Seharusnya saat emosinya meluap, ada orang dewasa yang bijak dan berkepala dingin membantunya menenangkan diri. When they go low, you go high, kalau kata Michelle Obama.

  2. Halo Mbak Trinzi, nama saya Emmy. Judul postingan yang menarik karena memang isu perselingkuhan sedang hangat-hangatnya dibicarakan oleh masyarakat luas. Setelah saya membaca postingan ini sampai selesai, saya jadi tahu bahwa tidak hanya judulnya yang menarik, tapi isinya pun juga menarik.

    Saya jadi ingat nasehat salah seorang sahabat saya, “Kesetiaan itu harganya mahal, namun jadilah orang yang tidak terbeli.”

    1. Hai Emmy, salam kenal! Terima kasih sudah mampir :). Saya sebetulnya agak merasa bersalah karena judul artikelnya banyak menimbulkan kesalahpahaman. Seolah perempuan yang dituduh selingkuhan bisa lepas tangan. Tapi sejujurnya ini bukan justifikasi terhadap mereka. Hanya berusaha memberikan penilaian yang berimbang. Masyarakat sekarang suka sekali terprovokasi tanpa berusaha mencari penilaian yang lebih objektif.

  3. Tulisannya bagus banget mba Trinzi. Saya selalu bahwa rusaknya rumah tangga andil dua orang. Suami dan istri. Mungkin dalam kasus FH, yang lebih punya andil bersalah si FH. Tapi apapun yang terjadi saya cuma orang luar. Cuma bisa berdoa semoga mba Sarita selalu kuat.

  4. Mba trinzi,, this is what i feel,, semua yg mba tulis ini ada dalam kepala saya juga. saeharusnya orang2 yang suka menyalahkan pihak “perebut” bisa berfikir sperti yg mba trinzi tuliskan disni.
    its totally suck klo mikir tentang perselingkuhan, tidak akan ada habisnya. Kalo sudah termaafkan 1 kali akan ada lagi, lagi, dan lagi..

    semoga tulisan ini menginspirasi. Thank you for sharing a good thing like this mba 🙂

    1. Hai Andi! Ya itu seharusnya kan. Sebenarnya saya semakin eneg sih dengan kecenderungan orang2 yang makin mudah terprovokasi untuk menjudge orang lain. Seolah hidupnya udah paling benar hahaha. Have a good day ya 🙂

  5. Halo, Mba Trinzi. Terima kasih atas tulisannya, karena membuka perspektif baru yang mungkin belum banyak disadari orang, terutama kita para perempuan yang pastinya ikutan emosi ya kalau ngeliat pelakor :”D
    Benar banget ya, seharusnya kita jangan hanya fokus kepada perempuannya, tetapi juga dipertanyakan lah alasan si lakinya itu selingkuh. Cuma kadang saya suka miris kalau melihat istri-istri yang jadi menyalahkan diri sendiri saat suami selingkuh. “Saya mungkin belum bisa menjadi istri yang baik dan tidak bisa melayani suami saya dengan baik”. That’s what I hate, mereka nggak seharusnya menyalahkan diri sendiri, tapi untuk perempuan yang pernah diselingkuhi pastilah pernah terbersit pikiran-pikiran kaya gitu.
    Semoga keluarga kita dijauhakan dari cobaan seperti itu ya dan diberikan suami yang setia ya, Aamiin!
    Ditunggu tulisan selanjutnya, Mba 🙂

    1. Terima kasih Ayu sudah mampir ke sini. Menyalahkan diri sendiri lazim terjadi saat diselingkuhi. Enggak cuma menikah, pacaran pun begitu. Tantangannya harus bisa berdamai dengan diri sendiri bahwa yang terjadi bukan karena kesalahannya. Semoga doamu dikabulkan 🙂

  6. Hi mb, apa yg mb sampaikan tidak salah. Namun, dalam panfangan saya, knp pihak perempuan yang jf nya lebih dipersalahkan ketika terjadi perselingkuhan, krn wanita di anggap mahluk yg lebih peka dan halus perasaannya, sehingga dianggap kunci terjadi atau tidaknya perselingkuhan ada di wanita, bagaimanapun pria itu menggodanya merayuny, tp kala wanita itu berpegang teguh dengan prinsip dan lembutnya perasaan seorang wanita, dia gak akanemberi peluang pada lelaki hidung belang tersebut. Karena itu, ketika terjadi perselingkuhan sang wanita yg akan lebih dipersalhkan…dipertanyakan…di mana kelembutan dan kepekaan hatinya…

    1. Hai Lara, coba dibaca lagi kalimat yang kamu tulis. ‘Wanita di anggap mahluk yg lebih peka dan halus perasaannya.’ Anggapan itu seperti stereotype. Tidak bisa digeneralisir. Ada kok perempuan yang lebih banyak mengandalkan logika daripada perasaan. Ada juga lelaki yang perasaannya halus. Manusia kan beda-beda. Tapi tetap sama-sama manusia. Lelaki juga kena stereotype bahwa mereka enggak bisa menahan hasrat seksnya. Tapi nyatanya banyak juga yang setia sampai mati. Kita jangan terlalu mudah men-judge berbekal ‘anggapan.’

  7. Hi Mba Trinzi, saya Sisil. Saya setuju banget sama artikel yg ditulis sama Mba because I’ve been in Shafa position before but that was not how I reacted. I told my parents that there are 2 people in this relationship, and infedility cannot just happened like that, you both have to reflect this problem on yourself. And you can’t tell us to pick a side as your children. At the end of the day, you’re both still our parents, we have to respect you no matter how messy you are, and it’s your relationship, we have no rights to be involved in this matter so whatever you both decide, we as your children have to support whatever the outcome is. They ended up getting back together again. They have solved their own issues without our involvements. So we’re pretty lucky and so grateful that we had not touched the third parties. Not even wanted to know their names. And personally, I think that’s what the children should do. 🙂

    1. Hai Sisil, terima kasih banyak sudah membagi pengalamannya yang berharga di sini. Saya senang sekali membacanya. Keluarga kamu matang dan bijak menghadapi persoalan. Saya salut dengan cara kamu dan saudara-saudara kandung bersikap logis dan rasional memandang masalah keluarga ini. Semoga keluargamu diberi kebahagiaan yang tak habis-habis ya.

  8. Terima kasih mbak. Saya yakin butuh nyali yang tidak kecil karena pikiran mbak ini tidaklah ‘populer’. Sudah saatnya adil melihat perselingkuhan adalah hasil ‘kerja’ dua orang. Secara sadar dan sukarela. Salahnya sama. Jika terus menerus yang mendapat konsekuensi berat pihak perempuan, logikanya, apakah lelaki akan berhenti mencari selingkuhan jika memang dia berniat? Jika tidak disodorkan ikan asin, kalau lapar, bukannya kucing tetep bakal nyari makan?

    1. Hai Wink, intinya kita jangan menyamakan manusia dengan hewan. Ada banyak faktor yang membuat seseorang berselingkuh. Salah satunya secara kepribadian dia merasa tidak percaya diri sehingga terus menerus mencari validasi dari orang luar, ya dengan selingkuh. Supaya tetap merasa ‘diinginkan’. Itu cuma salah satu dugaan ya.

  9. Hi Mbak Trinzi,
    Saya baru membaca tulisannya mbak Trinzi, entah apa yang ada dipikiran saya saat ini, antara setuju dan tidak, masalahnya saya pun korban dari pernikahan yang hancur karena perselingkuhan, mantan suami pertama selingkuh dengan tamunya ditempat kerja kala itu, dengan alasan bahwa dia tidak mendapat kenyamanan dirumah, saya ingat pada saat itu saya baru selesai melahirkan anak pertama dan masih harus bekerja juga, singkat cerita kami berpisah dan dia menjalankan hubungannya dengan perempuan tersebut. Lalu saya mulai dekat dengan teman kerja (sekarang menjadi suami ke 2 saya), yang sudah mempunyai istri dan anak, saat ini kata hati saya berlawanan sekali dengan hubungan yang saya jalani bersama suami saya saat itu dikarenakan iya dia sudah menikah dan punya anak dan saya tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang juga mengingat apa yang sudah saya alami. Saya sudah bilang ke suami saya bahwa untuk memikirkan baik2 keputusan dia untuk menceraikan istri nya dan memilih untuk menikah dengan saya, alasannya dia bilang menikah 11 tahun dan dia tidak bisa membawa mantan istri nya ke pribadi yang jauh lebih baik dan mampu mendukung kerja nya. Dari keluarga saya pun sebenarnya sudah melarang namun akhirnya kita tetap menikah. Di tahun ke 2 dia ternyata meninggalkan saya untuk memilih bersama perempuan lain, Demi Tuhan pada saat itu sakit nya luar biasa namun tidak ada rasa benci terhadap yang sudah memilih tinggal bersama perempuan lain, saya ditinggal dengan keadaan baru 40 hari melahirkan, serasa saya mau mati saja. Lebih parahnya lagi perempuan ini sudah pernah saya temui dan berjanji tidak akan menganggu rumah tangga saya tapi apa daya omongan hanya tinggal omongan, tepat 40 hari setelah saya melahirkan dia pergi ke dan tinggal bersama selama kurang lebih 1,3 tahun. Sekarang suami saya kembali namun masih terpancar bahwa ada kemungkinan dia akan mengulang affair nya lagi. Kadang saya nggak habis pikir rasanya tidak ada yang kurang dari saya melayani dia, kalau saya tidak ingat dosa dan anak anak saya, mungkin suami saya sudah saya bunuh atau saya jebloskan ke penjara. Namun saya masih bisa berpikir dengan akal sehat dan anehnya saya masih mau bertahan dengan keadaan ini, tapi entah sampai kapan.
    Yang pasti ada 1 kesimpulan buat saya bahwa uang dan sex yang baik, serta memuaskan tidak cukup menahan suami kita untuk tidak selingkuh, saya merasa kalau sudah seperti ini hanya bisa menunggu campur tangan Tuhan

    1. Hai Cahya, terima kasih sudah membagi pengalamannya. I’m sending you a big virtual hugs from here. I’m really sorry it happened to you. Saya harap Cahya dan keluarga bisa menemukan jalan keluar yang terbaik. Jangan ragu bertemu dengan psikolog untuk berkonsultasi. Kamu harus menjaga kesehatan fisik dan mental untuk anak-anakmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *