Ketika Seorang Perempuan Belajar Kesetaraan Gender Dari Film Porno

 

Indonesia itu negara lucu. Negara yang berusaha mati-matian menyensor segala hal berbau seks, tapi dalam waktu bersamaan, terobsesi pada seks. Kementrian Kominfo menggelontorkan uang sebesar Rp211,8 miliar untuk mengembangkan mesin sensor content porno di internet. Penyedia jasa tv kabel lokal pun turut berpartisipasi secara warbiayasa lebay. Dalam salah satu episode Crazy Ex Girlfriend yang saya tonton melalui tayangan First Media, penyebutan kata orgasm, penis dan vagina disensor dengan cara dihilangkan suaranya.

https://kimbroughwriter.wordpress.com/2015/05/25/10-things-on-facebook-that-make-my-eyes-roll/

 

 

Di saat yang sama masyarakat Indonesia justru keranjingan seks. Teman saya, Dea, pernah meng-capture hasil pencarian di Facebook yang sedang trending.

 

 

 

Coba googling kalimat, ‘Cewek Jilbab’, maka ini yang keluar di halaman pertama.

 

 

Para peneliti menyebutnya sebagai the forbidden fruit hypothesis. Semakin seseorang dilarang melakukan suatu hal, maka hal tersebut menjadi semakin menarik. Secara insting manusia cenderung menginginkan apa yang kita tidak bisa miliki (contoh, kepengin banget minum kopi padahal lagi maag akut). Hipotesis ini mirip dengan teori psikologi yang dinamakan ironic process model. Daniel Wegner, PhD, si penemu teori, melalui serangkaian eksperimennya membuktikan ketika kita berusaha menyangkal pikiran tertentu, maka pikiran tersebut akan lebih sering muncul. Semakin kuat usaha lingkungan melarang orang mengkonsumsi konten porno, semakin kuat usaha mencarinya. Seks pun semakin dilihat sebagai suatu hal yang asing namun menggoda.

 

http://i54.tinypic.com/23howgp.jpg

 

 

Itu yang saya rasakan di usia remaja. Namanya juga hormon seks lagi mulai-mulainya muncul. Sementara informasi enggak ada di mana-mana. Di tahun ‘90an orang harus niat banget mencari konten seksual. Harus ‘berani malu’ beli VCD dan bertanya ke penjualnya, “Ada film dewasa?” Yang lalu si penjual bakal ambil di sudut tersembunyi. Perkenalan pertama saya dengan Asia Carera bermula dari ‘curi-curi’ nonton di kamar kakak seorang sahabat. Saat itu seks adalah hal yang misterius tapi sangat menarik untuk saya. Masalahnya tidak ada orang yang bisa ditanya tentang ini. Akhirnya saya hanya bisa membicarakan seks secara sembunyi-sembunyi bersama teman-teman. Film ‘dewasa’ adalah obat rasa penasaran kami.

 

 

Salah? Ya iyalah!

 

Tapi di titik itu enggak ada yang bisa disalahkan. Orangtua saya seperti halnya kebanyakan orangtua cenderung malu dan sungkan membicarakan seks kepada anak-anaknya. Saya pun enggak yakin pengetahuan mereka soal kesehatan reproduksi dan seks cukup baik (sorry mom and dad). Jadilah sumber awal belajar ya dari konten porno. Meskipun sebenarnya yang sering saya konsumsi juga enggak porno-porno amat. Ya semi porn lah, film2 yang ada ceritanya tapi banyak adegan panasnya. Contoh yang oke, Kama Sutra buatan Mira Nair ini.

 

Seiring dengan akses internet yang makin menggila, saya menemukan ada situs-situs berisi adegan seks yang dilakukan orang biasa. Ada kejujuran yang ditampilkan oleh video amatiran. Berbagai ukuran payudara, penis, tubuh. Stretch marks, bulu di bagian badan tertentu, jerawat punggung. Kamar yang berantakan, pencahayaan minim, angle kamera yang enggak stabi. Dan yang paling utama, orgasme yang lebih nyata untuk si perempuan. Bukan sekadar lenguhan repetitif demi menyenangkan penonton. It’s real women orgasm when the body stiffens and the muscle contract. Orgasme perempuan yang nyaris tampil ketika menonton film porno. Sensasi orgasme yang menurut penelitian Firliana Purwanti, hanya dirasakan oleh 30 persen perempuan di Indonesia. Begitu pun di dunia. Bandingkan dengan orgasme lelaki yang selalu ada di film porno dan di dunia nyata menjadi penanda seks sudah selesai. Seperti pernyataan para lelaki di video ini.

 

Sejak memproklamirkan diri sebagai feminis, setiap nonton film porno mainstream, otak saya suka bawel. “Mbak, enggak pegal tuh kakinya?”, “Njir, posisinya enggak ens banget. Gimana bisa orgasme tuh cewek?” “Ih, fake banget orgasmenya!” “Elah, lakinya kok diam aja sih? Enggak ada insiatif.” “Kenapa, sih, pas cunilingus yang dilihatin mukanya si perempuan melulu, sementara kalau lagi blow job, close up banget ke penis?”

 

via GIPHY

 

Sasaran utama industri porno adalah pemuas hasrat seksual lelaki. Industri ini mengabaikan fakta bahwa perempuan, sebagai pasangan seks sebagian besar lelaki, juga memiliki hasrat seksual. Dalam pikiran patriarkal mereka, yang berhak memiliki dan mengumbar ke-horny-annya, ya, cuma lelaki. Film porno dibuat agar lelaki bisa berfantasi menjadi tokoh utama yang menempatkan perempuan sebagai lubang tempat menaruh penis, dengan waktu, tempat dan cara mereka. Boro-boro memperhatikan kenikmatan perempuan, kesepakatan atau consent aja enggak penting. Pokoknya lakinya ngaceng, ya perempuan harus mau.

via GIPHY

 

 

Cindy Galloop, pendiri Make Love Not Porn, mengkritisi industri porno yang abai terhadap perempuan. “Dalam industri yang para pembuatnya terbatas pada laki-laki kulit putih berdiskusi dengan sesama lelaki kulit putih tentang lelaki kulit putih lain, keinginan, kebutuhan dan hasrat perempuan tidak dihargai. Industri porno telah kehilangan banyak uang dengan tidak membuka diri terhadap perempuan sebagai konsumen dan produser serta sutradara,” ujar Cindy.

 

 

Belakangan industri porno mulai mengerti pentingnya mengangkat hasrat perempuan. Demi cari duit lebih juga sih. Everyday Feminism menganalisis ada lima aturan sebuah karya porno bisa dikategorikan mengutamakan kesetaraan gender:

  1. Pemain perempuan dan lelaki, atau karater mereka, harus diperlakukan setara. Artinya adegannya bukan si perempuan direndahkan, disiksa atau dibiarkan menganggur tanpa diperhatikan kenikmatannya. Saya lumayan suka konten Sexart, Joymii, Nubile Films. Banyak konten mereka yang memperlihatkan usaha lelaki mementingkan orgasme pasangan perempuannya.
  2. Seks antara perempuan dan lelaki tidak ditunjukkan sebatas apa yang penis lakukan pada vagina. Seks melibatkan dua tubuh yang terkoneksi. Perempuan lebih dari sekadar vagina, lelaki lebih dari sekadar penis. Ekspresi wajah antara kedua pemain pun harus ditunjukkan secara seimbang. Jangan cuma wajah perempuan.
  3. Seks (pada umumnya) dilakukan orang dalam konteks hubungan yang lebih luas. Kalau pacaran, tunjukkan emosi kasih sayang antara keduanya. Kalau pasangan yang lagi selingkuh, perlihatkan juga emosi campur aduk yang mungkin timbul, dan lain sebagainya. Bukan cuma ketemu di depan rumah, terus hayuk lah kita ngewe.
  1. Berciuman dan bersentuhan itu penting, karena itu yang dilakukan orang saat berhubungan seks. Sebelum James Deen dituduh melakukan kekerasan seksual pada pasangan di dunia nyata maupun film, jujur saya suka banget sama dia. Banyak adegan seksnya yang memperlihatkan koneksi intim antara dia dan pasangannya. Dari pegangan tangan, bisik-bisik mesra sampai mentap mata pasangannya dengan sungguh-sungguh. Gesture semacam ini penting agar seks menjadi bermakna. Sekarang saya lumayan suka sama Tylor Nixon. He knows how treat a lady in bed. And it surely not hurts to look at his pretty face and abs.

  1. Seks adalah sesuatu yang dilakukan pasangan untuk diri mereka (bukan orang lain).

Walaupun dilakukan untuk akting, kedua pemain harus menunjukkan kenikmatan yang real, bukan sekadar gerakan yang terlalu diatur sutradara. Kadang saya suka adegan porno yang lembut, tapi kadang suka yang model quickie. Either way, pemerannya harus sungguh-sungguh terlihat menikmati.

 

Kesimpulannya, meminjam perkataan Jaclyn Friedman dan Jessica Valentina, konten porno seharusnya memperlihatkan perempuan sebagai kolaborator seksual atau pasangan yang bekerjasama mencapai kenikmatan seksual daripada sekadar jajahan hasrat seksual lelaki.

 

Kesadaran ini yang membuat saya belajar kesetaraan gender dan pengetahuan alat reproduksi dalam hal seks melalui konten porno. Ada relasi yang seharusnya setara saat berhubungan seks. Kedua belah pihak berhak mendapatkan kenikmatan seksual dan merasa nyaman serta percaya diri. Genitalia memiliki ukuran dan warna yang beraneka macam. Begitu pun dengan bentuk tubuh. Seks itu privat dan intim. Semua orang memiliki preferensinya masing-masing dan penting mengkomunikasikan hal ini kepada pasangan. Seperti halnya ada yang suka sushi, tapi ada yang enggak suka sushi sama sekali. Penting bagi pasangan tahu hal ini.

 

Uniknya ternyata ada hubungan antara pandangan tentang kesetaraan gender dan menikmati konten porno. Dalam sebuah penelitian, porn viewers memiliki pandangan yang egalitarian dibanding non-porn viewers bila dikaitkan dengan kepemimpinan perempuan, ibu bekerja dan hak aborsi. Para porn viewers ini juga lebih mau mengidentifikasi sebagai feminis. Taylor Kohut, pemimpin peneliti yang bekerja di fakultas Psikologi University of Western Ontario, melibatkan 25.000 perempuan dan lelaki untuk menjawab pertanyaan tentang konsumsi pornografi dan sikap terhadap kesetaraan gender. Kohut mengakui penelitian ini masih butuh penggalian lebih lanjut tentang penyebabnya. Dan penelitian ini pun bukan hubungan kausal. Artinya bukan gara-gara nonton konten porno terus jadi feminis.

 

Pada dasarnya tidak selamanya so called pornography itu sesuatu yang jelek. Selalu ada yang bisa dipelajari. Cindy Gallop punya slogan, “Pro porn, pro sex. Pro knowing the difference.” Perbedaan yang seringkali membingungkan penikmat film porno, terutama yang pengetahuan seksnya masih minim. “Masalahnya bukan di konten porno. Ini mengenai masyarakat yang enggan membicarakan seks secara jujur dan sehat di kehidupan nyata,” jelas Gallop lagi.

 

Kenyataannya seberapapun kuat sensor yang dilakukan pemerintah, forbidden fruit hypothesis selalu ada. Apalagi anak-anak masa kini dibesarkan oleh teknologi. Mereka jauh lebih pintar daripada yang kita kira. Di Amerika rata-rata umur pertama kali melihat konten porno adalah 11 tahun. Melihat kecenderungan anak-anak Indonesia sejak kecil sudah piawai mengoperasikan gawai, kita tidak bisa menutup mata pada kemungkinan ada konten porno yang secara sengaja maupun tidak sengaja mereka konsumsi. Kita harus menghadapi kenyataan, pornografi telah menjadi sumber pendidikan seks pertama bagi anak-anak dan remaja!

 

Jadi daripada sibuk-sibuk sensor sana sini, sudah saatnya pornografi justru dimasukkan sebagai bagian pendidikan kesehatan reproduksi dan seks. Generasi penerus bangsa harus mengerti bedanya mainstream pornografi dan seks. Melihat pornografi dalam kacamata kritis yang justru memperkaya pengetahuannya tentang otoritas tubuh dan kesetaraan gender. Tim riset dari University Melboure bahkan sudah mengusulkan murid-murid SD belajar tentang pornografi dalam lingkungan yang disupervisi orang lebih dewasa. Mereka menyebutnya sebagai gerakan literasi pornografi.

Mari berhenti memproduksi generasi munafik yang dari luar suci, tapi diam-diam terobsesi pornografi. Seks adalah bagian dari dorongan biologis manusia yang wajar adanya. Sampai kapan kita mau menyangkalnya?

 

 

 

4 Comments

  1. A quality content! Saya sepemikiran. Saya pun penikmat a well made porn/erotic film. POV bergantian antara cowok-cewek, intimate foreplay especially from the guy (Tylor Nixon!), and the most important thing I am very turned on watching female orgasm.
    Sangat penting sekali mengedukasi anak-anak bahkan pria dan wanita dewasa ttg seksualitas. Seandainya setiap kali akan berhubungan seks, kaum wanita sudah sexually educated, bertekad agar dirinya bisa orgasme, dan kaum pria diberikan syarat agar mampu memberikan kepuasan, apa jadinya ya…

    1. Female orgasm is a major turn on! Aku enggak ngerti kenapa banyak porn yang justru menganggap ini enggak penting. Hahaha. Menurutku bila perempuan sudah punya pengetahuan seks dan menganggap orgasme adalah haknya yang wajib dia dapatkan, maka hubungan menjadi lebih setara dan lebih banyak perempuan menghormati tubuhnya. Pun lelaki akan semakin banyak yang menghormati perempuan. Mudah-mudahan ini bukan impian utopis di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *