Masyarakat Berutang Budi Pada Lajang Usia 30-an Ke Atas

 

“Duh kenapa, sih, gue melulu?” sahabat saya melempar handphone-nya ke dalam tas. Dia bergegas membereskan barang-barangnya. Semalam Tifanny (bukan nama sebenarnya) menginap di tempat tinggal saya. Rencananya setelah berenang, kami mau makan siang dan bersantai di hari Sabtu tersebut. Tapi rencana buyar setelah ia menerima telepon dari ibunya yang memintanya pergi bersamanya.

Seraya merapikan barang, lajang perempuan berusia 37 tahun ini bercerita, “Nyokap bokap gue itu selalu mengandalkan gue kalau mau jalan. Adik-adik sama kakak gue yang sudah married, enggak pernah diganggu. Padahal, kan, bisa pergi sama mereka juga. Bukannya enggak ikhlas, cuma gue juga kadang pengin pergi sama yang lain.”

“Bokap nyokap sungkan kali karena mereka sibuk mengurus keluarga,” ujar saya yang seumuran dia dan juga lajang, sambil memencet-mencet remote tv. Saya mengerti kegalauannya karena kadang merasakan hal sama. Bila harus melakukan keperluan tertentu yang memakan waktu, ibu merasa lebih baik meminta bantuan saya untuk mengantarnya, daripada adik saya yang memiliki anak balita.

Seraya memandang kosong ke layar televisi, benak saya mulai menerawang. Pernyataan Tifanny memicu ingatan terhadap stigma yang biasa dilekatkan pada para lajang.

Ketika kita bicara tentang para lajang atau jomblo, maka yang muncul adalah daftar stereotip. Terutama buat mereka yang sudah di atas 30an tahun. Bujang lapuk dan perawan tua adalah dua hal yang kerap terdengar.

http://www.ikarmik.com/2016/09/things-you-gotta-keep-in-mind-if-you-are-dating-an-older-woman/

Lalu ada pertanyaan gong banget yang sering terdengar di kuping para lajang berumur 30an ke atas, “Sudah keenakan sendiri ya?” Sebuah pertanyaan yang menyimpan arti bahwa menjadi lajang berarti egois alias mementingkan diri sendiri. Para lajang ini sudah terlena hidup bersenang-senang dan foya-foya. Liburan ke sana kemari, seenaknya belanja ini itu, bebas pulang kapan saja tidak ada yang protes. Berbeda sekali dengan kehidupan berkeluarga yang melatih seseorang menjadi pribadi yang dewasa, rela berkorban dan mengayomi.

Benarkah demikian?

Fakta yang ditemukan dari berbagai penelitian ternyata berbeda.

Ursula Henz melakukan penelitian terhadap 9000 orang dewasa di Inggris di tahun 2006. Para responden diminta menjawab, “Apakah kamu pernah atau secara reguler merawat seseorang, setidaknya selama tiga bulan, yang sakit, difabel atau lebih tua?” Ditemukan bahwa lebih banyak lajang akan menjawab ya pada pertanyaan tersebut dibandingkan yang sudah menikah.

Studi yang hasilnya mirip dimuat di jurnal Research on Aging oleh Laditka, James N., & Laditka, Sarah B. di tahun 2001. Riset ini melibatkan 5500 anak perempuan dan lelaki dewasa dari orangtua yang berumur 65 tahun ke atas. Dari penelitian tersebut ditemukan, apapun rasnya (penelitian melibatkan responden keturunan Caucasia dan Afrika-Amerika) mereka yang lajang menghabiskan waktu lebih banyak mengurus orangtua dibandingkan yang sudah menikah.

Roona Simpson dari London School of Economics, Gender Institute menggali lebih lanjut dalam penelitiannya yang berjudul Contemporary Spinsters in The New Millenium. Atau dalam bahasa Indonesianya, ‘Perawan Tua’ Kontemporer di Era Millenium. Melalui wawancara mendalamnya terhadap 37 perempuan yang tidak menikah dan berusia di atas 35 tahun, Roona mencari tahu jenis perawatan apa yang diberikan oleh mereka kepada orangtuanya. Kebanyakan perempuan yang ditelitinya memiliki tempat tinggal sendiri. Ketika orangtuanya sakit, mereka akan pindah untuk tinggal bersama. Atau membantu orangtuanya pindah ke dekat lingkungan mereka.

Senada dengan tiga penelitian di atas, saya menemukan kasus yang sama pada seorang teman. Dia perempuan lajang berusia 35 tahun. Ayah ibunya sudah lama bercerai. Beberapa tahun lalu ayahnya mengalami stroke. Sementara kedua adiknya tidak memiliki penghasilan tetap. Teman saya ini akhirnya secara fungsional menjadi kepala keluarga yang memberikan nafkah sekaligus energi untuk merawat sang ayah sekaligus membantu ibunya.

Teman lajang lain, sebut saja namanya Rino, lelaki berumurnya 35 tahun, tinggal bersama ibunya yang orangtua tunggal. Sebagian penghasilannya, ia sisihkan untuk membantu ibunya, termasuk merawat saat sedang sakit. Kadang ketika ada rezeki lebih banyak, ia akan mengajak sang ibu tamasya keluar kota. Ia pernah bercerita tidak akan maksimal mengurus ibunya bila sudah menikah. “Pasti gue bakal ngejar karir dan mengurus keluarga lah,” ujarnya.

Tapi, kan, lajang kasihan. Enggak punya anak dan pasangan resmi. Siapa, dong, keluarganya?

The Wisconsin Longitudinal Study melakukan riset besar-besaran terhadap ribuan responden lulusan Wisconsin High School tahun 1957. Ketika responden berusia 50 dan 60 tahun, peneliti mengecek bantuan apa saja dalam sebulan terakhir yang dia berikan pada orang lain selain keluarga (teman kerja, tetangga, teman). Hasilnya mereka yang selalu lajang memberikan pertolongan terbanyak dibandingkan yang pernah menikah atau sedang menikah. Bantuan bisa berupa transportasi, mengurus rumah, kebun, perbaikan barang, nasihat atau dukungan moral. Lucunya mereka yang sedang berada di pernikahan pertama paling sedikit menyediakan pertolongan untuk rekan-rekannya.

Bagi saya, Rino adalah contoh lajang dengan banyak teman yang selalu siap membantunya, begitu pula sebaliknya. “Gue percaya untuk dapat energi baik, maka harus menanam energi baik juga,” dia mengatakan hal ini ketika mentraktir saya dan beberapa teman di suatu kesempatan.

Bella DePaula Ph.D melihat kecenderungan para lajang menolong orang yang bukan keluarganya sebagai cara mendobrak konsep keluarga tradisional. “Orang yang mereka pedulikan bukan cuma keluarga. Tapi juga sahabat, mantan pasangan dan mentor. Ini konsep keluarga yang lebih inklusif karena melibatkan orang-orang terpenting dalam hidupnya,” ujar peneliti yang sudah lebih dari dua dekade fokus melakukan studi kepada lajang ini.

Tidak cuma kepada rekan-rekan terdekatnya, para lajang pun diketahui lebih terlibat dalam kegiatan sosial. Hasil survei di tahun 2015 yang dilakukan kepada 60.000 orang berusia 16 tahun ke atas di Amerika membuktikan lajang lebih banyak terlibat sebagai relawan dalam berbagai bidang. Dari melestarikan lingkungan, perlindungan hewan, pendidikan, olahraga dan seni. Satu-satunya kegiatan sosial yang lebih banyak digeluti oleh mereka yang menikah adalah menjadi relawan di organisasi agama.

Semua teman yang saya ceritakan di sini, termasuk saya, pernah melewati fase ‘kebelet nikah.’ Ingin memiliki pasangan dan anak agar bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa. Tapi saat membaca literatur tentang penelitian para lajang ini, saya menganalisis ulang hidup yang pernah dilewati. Mungkin bila sudah menikah, saya akan fokus pada memenuhi kebutuhan keluarga daripada menyisihkan uang untuk membantu ayah dan ibu yang sudah tidak bekerja. Mungkin bila sudah menikah, waktu saya akan tersita habis mengurus anak daripada terlibat kegiatan sosial atau membantu teman. Mungkin bila sudah menikah, akan lebih sulit untuk menemani ibu mengurus keperluan pribadinya atau sekadar mengajaknya nonton di bioskop. Ternyata menjadi dewasa, bijak, rela berkorban dan mengayomi bisa dilakukan dalam status melajang.

https://id.pinterest.com/pin/426153183480404905/?lp=true

 

Seorang ahli sosiolog, Naomi Gerste, berargumen bahwa pernikahan adalah institusi yang serakah. “Seiring populasi yang menua, keserakahan pernikahan akan mengurangi kesempatan orangtua mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Ironisnya mereka justru sering menekan anaknya untuk menikah. Pernikahan juga memberikan beban lebih besar untuk mereka yang lajang karena dianggap harus lebih bertanggung jawab kepada orangtua daripada saudaranya yang sudah menikah.”

Pendapat Naomi Gerste tadi memang cukup radikal, tapi juga mengandung kebenaran. Terus terang tulisan ini tidak dibuat sebagai bentuk rasa tidak ikhlas akan berbagai pengorbanan yang sudah dilakukan untuk keluarga. Pun menyudutkan yang sudah menikah.

Pada dasarnya hidup penuh dengan berbagai kesempatan dan jalan untuk menjadi bahagia. Sebagian orang mencapai kebahagiaannya dengan cara menikah. Sebagian yang lain menikmati hidupnya dengan melajang. Jadi enggak perlu lah jomblo shaming dengan memanas-manasi orang untuk buru-buru nikah, yang malah ujung-ujungnya membuat pernikahan anak semakin tinggi. Dan seharusnya masyarakat mulai lebih menghargai para lajang, terutama yang menjadi kepala keluarga. Di kantor saya dulu, mereka yang menikah mendapatkan keistimewaan pembayaran BPJS anak oleh perusahaan. Saya sempat bertanya kepada bagian SDM apakah mungkin mengikutsertakan ibu saya yang satu kartu keluarga, untuk ikut dibayari. Oh tentu saja tidak boleh. Dengan alasan, di mata hukum, yang bisa menjadi kepala keluarga, adalah orang yang sudah menikah dan seorang lelaki *batuk rejan*
Jadi kalau mau mengasihani para lajang, maka kasihanilah dalam hal peminggiran fasilitas seperti ini. Bukan dalam hal pilihan hidup yang diambil.

Seperti kata Bella DePaula Ph.D, bila orang semakin sadar bahwa melajang atau menikah adalah pilihan, maka semua individu memiliki kesempatan yang terbuka lebar untuk mengejar hidup yang benar-benar yang dia inginkan daripada sekadar menjalani hidup melalui standar sosial.

http://pictures-and-images.net/content/teen-celebrities-images-demi.html

5 Comments

    1. Hai Iffa, terima kasih atas pujian dan masukannya :). Let’s write until it becomes as natural as breathing. Write until not writing makes you anxious 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *