Pengalaman Perempuan 36C Menjalani Seminggu Tanpa Bra

Saya ingat bra pertama yang diberikan Mama kepada saya. Waktu itu stasiun TV swasta pertama di Indonesia, RCTI, gencar sekali menayangkan iklan bra bermerek Bedees. Dengan suara high note yang kurang merdu, perempuan kulit putih berambut pirang bergerak lincah sambil menyebut-nyebut Be Dees. Rupanya Be Dees yang membuatnya bisa beraksi ke sana kemari dengan leluasa. Bra tersebut saya pakai dengan bangga. “Aku sudah dewasa. Aku sudah pakai bra! Bra-ku merek terkenal!” ujar saya dalam hati dengan kenorakan tak ternilai.

Bukan ini sih sebenarnya videonya, tapi mirip-miriplah.

 

Tumbuh besar dalam paparan kapitalisme, tentu saja merek bra menjadi sesuatu yang penting. Tapi budget pun sering tidak mendukung. Kadang saya pakai bra sampai kawatnya keluar hingga menusuk-nusuk payudara. Saya bela-belain tetap pakai karena enggak ada bra baru. Ketika sudah bekerja, saya mulai senang coba beraneka merek bra. Dari yang lima puluh ribuan sampai dua ratus lima puluh ribuan. Dari yang bikin payudara kecekek, sampai yang bikin payudara terlena saking nyamannya.

 

https://tempandtea.files.wordpress.com/2014/12/bra-meme.jpg
https://tempandtea.files.wordpress.com/2014/12/bra-meme.jpg

 

 

Perempuan sudah dibiasakan menutup dadanya sejak abad ke 11. Payudara ditutupi oleh kain agar tidak menonjol. Di masa Reinassance, korset mulai berkembang karena standar kecantikan adalah payudara yang montok dan menonjol. Pemakaian korset pun menandakan status sosial yang tinggi. Dilanjutkan di masa Victorian ketika korset makin merajalela ke segala kelas. Perempuan harus menahan diri dalam kekangan korset agar memiliki bentuk tubuh yang dianggap ideal. Yaitu payudara kencang, pinggang kecil dan pinggul besar. Kalau di Indonesia, korset setara dengan penggunaan setagen. Seiring dengan dimulainya perkembangan gerakan feminisme gelombang pertama, perempuan mulai boleh melakukan aktivitas yang dinamis sehingga korset pun mulai ditinggalkan. Herminie Cadolle menemukan bra modern pertama di tahun 1869. Ratusan tahun kemudian, bra telah mengalami berbagai perkembangan model.

 

Melihat sejarah ini, enggak heran bila kebanyakan perempuan menganggap memakai bra sebagai sebuah kebiasan yang tidak bisa dilewati. Seperti harus minum saat haus. Layaknya mandi ketika merasa kotor. Ada tiga alasan utama saya dan banyak perempuan lain terus mengenakan bra bahkan sampai akhir hayat nanti.

Satu, puting payudara tidak boleh menonjol karena akan membangkitkan hasrat seksual orang lain.

Coba kita pikirkan lagi, kenapa sebenarnya Tuhan menciptakan payudara? Apakah untuk menarik perhatian lawan jenis? Lalu kenapa lelaki bebas bertelanjang dada tapi tidak perlu disensor? Dalam masyarakat yang mengelu-elukan dominasi laki-laki, perempuan kerap digambarkan sebagai berbahaya, berpotensi merusak moral dan harus dikendalikan. Payudara dianggap bikin horny, jadi harus selalu disensor dengan bra. Padahal dikutip dari cancer.ca dan tentunya nenek-nenek sekarat pun tahu, “Fungsi utama payudara adalah memproduksi, menyimpan dan mengeluarkan susu untuk dikonsumsi bayi.” Ini adalah fungsi kodrati sebagai makhluk mamalia. Tanpa payudara, kita tidak akan mendapatkan gizi yang cukup. Tanpa payudara, mungkin listrik belum ditemukan. Tanpa payudara, populasi manusia di dunia bisa jadi mendekati ambang kepunahan. Sekali lagi, fungsi utama payudara adalah produsen ASI. Sama sekali tidak ada unsur seksual di sini.  Jadi ndak perlu pusing tujuh keliling atau ngaceng enggak karuan hanya karena melihat perempuan pakai baju tanpa bra.

 

 

http://3.bp.blogspot.com/-LFHAFx2MLbQ/VZvgti8qa3I/AAAAAAAABD4/yyUzCk5yqrE/s640/11378463_1609899965965243_1308904673_n.jpg

 

Kedua, adanya anggapan bahwa gravitasi akan mempengaruhi payudara menjadi ngondoy.

Dikutip dari Profesor Jean-Denis Rouillon, dari University of Besançon, Prancis, yang melakukan riset selama 15 tahun terhadap efek memakai bra, “Bra is a false necessity.” Bra adalah kebutuhan yang salah kaprah. “Secara medis, fisiologis, anatomi, tidak ada keuntungan apapun yang didapat dari usaha menahan payudara terhadap gravitasi. Sebaliknya bra malah membuat payudara menjadi lebih kendur,” ujar si profesor. Dalam risetnya ia menemukan rata-rata puting akan naik 7mm berkorelasi dengan posisi bahu.

 

Lucunya lagi John Dixey, mantan CEO pembuat bra Playtex, dalam sebuah wawancara menjelaskan, “Kami tidak punya bukti bahwa bra bisa menahan kendur, karena payudara pada dasarnya bukan otot. Jadi membuatnya kencang terus itu nyaris mustahil. Tidak ada dampak permanen pada payudara dari memakai bra tertentu. Bra akan memberikan bentuk sesuai desainnya pada saat kamu memakainya.”
Yang mana penjelasan ini meluncurkan kita kepada alasan selanjutnya…

 

 

https://www.redbubble.com/shop/saggy+boobs+womens-tees

 

Ketiga, bra bisa membuat penampilan terlihat lebih bagus.

https://gineersnow.com/industries/medical/heres-breast-cancer-detecting-bra-invented-mexican-teenager

Harus diakui, untuk pakaian tertentu, memang lebih baik memakai bra. Buat saya itu ketika memakai tshirt yang ketat. Aneka model bra yang ditawarkan di pasaran pun bisa membentuk payudara sesuai yang diiginkan. Di sini ada standar ideal masyarakat yang diterapkan. Sementara ideal itu kan subjektif. Tergantung persepsi masing-masing.

 

 

Kemudian saya bertemu dengan teman-teman yang mulai berhenti memakai bra. Teman saya, Aira (bukan nama sebenarnya) sudah melakukannya sejak empat tahun lalu dan ia bahkan sudah tidak ingat berapa ukuran bra-nya. “Capek, gerah, begah!” Aira membeberkan alasannya. Alasan yang sama diberikan oleh Citra pengguna bra 36B, “Gue suka merasa enggak nyaman. Suka ngomel-ngomel kalau panas dan sesak pakai bra.” Begitu pula dengan Vivi, pemakai bra 34 D yang menganggap bra adalah penjara yang membuatnya tidak nyaman dan pegal.

 

Yoanne pemakai bra 34B mulai menyerah sejak ia mulai merasa, “Every day I couldn’t wait to go home to take off my bra. One day gua mutusin untuk mulai ngurangin pakai bra, keterusan sampai sekarang malah hampir enggak pernah pakai.”

 

Hayo para perempuan, angkat tangan siapa yang setelah seharian beraktivitas, saat copot bra rasanya seolah payudara berteriak, “I’m free!”

https://me.me/t/taking-my-bra-off?since=1439910352%2C172646%2C1.000000?since=1439910352%2C172646%2C1.000000

 

Lalu iseng lah saya pengin ngerasain gimana kalau enggak pakai bra selama seminggu. Dengan tinggi tubuh 176 cm, saya cukup yakin sebenarnya payudara ukuran 36C tidak akan terlihat menonjol. Selama tujuh hari tersebut saya menghabiskan banyak waktu di luar. Karena saya sekarang #freelancerislyfe, maka kegiatan saya bervariasi. Dari ikut seminar, mewawancarai beberapa narasumber, naik gojek, naik kereta, datang ke perkawinan dan hangout sama teman-teman. Dari duduk manis depan laptop seharian, jalan cepat dan  dansa-dansa. Hanya satu hari saya di rumah seharian.

 

Kiri: pulang dari Basque dan sebelumnya dari seminar. Tengah: menjelang wawancara narasumber yang merupakan HRD Director bank multinasional. Kanan: menghadiri pernikahan teman saya. Di sini saya harus memakai spaghetti dress berbahan kaos sebagai daleman.

 

Lalu bagaimana rasanyaaaa?

  • Bouncy boobs

Dari yang biasanya terikat oleh bra, sekarang bebas, maka otomatis payudara akan lebih mudah terayun saat melakukan berbagai aktivitas. Saya tidak bisa menganggap ini sebagai hal yang buruk atau bagus. Tapi saya menganggap ini hanya dampak dari belum biasa tanpa bra jadi lebih sensitif terhadap pergerakannya.

  • Payudara justru jadi tidak terlihat menonjol

Tanpa bra, saya merasa payudara tidak terlalu menonjol. Beda rasanya ketika pakai bra, kok rasanya makin montogh dan menarik perhatian yah.

  • Selektif memakai baju

Biasa terjadi di awal-awal mengubah kebiasaan. Memang ada baju-baju tertentu yang sebaiknya dihindari bila dikenakan tanpa bra atau dalaman apapun. Seperti yang berwarna putih, cenderung transparan, bahannya ringan atau menempel pada tubuh.

  • Ada rasa kangen

Namanya juga sudah kebiasaan, tentunya ada momen kangen pakai bra. Buat saya momen itu ada ketika ingin memakai baju favorit, yaitu tshirt berwarna putih. Damn.

  • Kadang butuh aksesoris tambahan

Vivi sering memakai blazer agar payudaranya tidak menonjol. Mirip dengan saya yang suka menggunakan luaran. Syal juga bisa diberdayakan seperti yang kadang dipakai Aira.

  •   Adem!

Sebagai penganut #gojekislyfe, no bra membantu mengurangi kadar keringat secara signifikan sodara2! Seperti yang diungkapkan sobatque Citra, “Enak aja sehari-hari enggak lengket.”

  • Akan ada yang memandang negatif

Vivi mulai berhenti memakai bra setahun belakangan dan sempat mendapatkan komen-komen ajaib , “Dibilangin pentilnya keliatan. Ya gue sih bodo amat ya namanya mamalia kan punya kelenjar susu ya, pasti punya pentil lah.” Sementara di kampusnya, Aira sering jadi omongan, “’Lihat Aira enggak pakai bra, tetenya gondal gandul,’ Ya tapi kan gue cuek.”

Selama seminggu tanpa bra, hanya ada satu momen saya curiga ada yang tahu. Yaitu di hari kedua ketika saya memakai daster jalan kaki ke warung makan yang jaraknya 300 meter dari rumah. Saat berjalan ke sana ada dua orang lelaki memperhatikan saya dari seberang. Saya menarik napas panjang, memandang tajam ke mereka dan berkata, “Kenapa lo?” Seketika mereka langsung memandang ke arah lain. Setelah insiden itu saya justru makin pede tanpa bra.

  • Tapi… kebanyakan orang enggak memperhatikan, kok.

Di hari-hari awal percobaan saya memang jadi sering menyilangkan tas di depan dada dan pakai baju yang longgar karena takut si puting bakal tampil gemilang. Tapi di hari ketujuh saya semakin percaya diri dan malahan uji nyali memakai sleeveless ketat warna abu-abu dengan gambar harimau. Nyatanya orang-orang yang saya temui enggak ada yang memandang aneh atau menegur soal puting. Termasuk ibu saya yang seharian bersama saya.

  • Bebas dan lepas!

Tidak ada rasa terpenjara yang menyiksa. Saya bernapas lebih leluasa. Ada pemberontakan kepada sensor atas tubuh alami perempuan. Ada kemerdekaan dari ketidakpedulian pada standar bentuk payudara ideal yang ditekankan masyarakat. Ada perlawanan pada seksualisasi terhadap payudara yang membuat banyak ibu sungkan menyusui anaknya di depan umum. Tidak heran pada tahun 1968, para feminis membuang bra di tong sampah saat kompetisi Miss America sebagai simbol protes penindasan oleh lelaki.

 

 

Apakah pengalaman tujuh hari tanpa bra akan terus saya lanjutkan? Kemungkinan besar begitu. Teman-teman saya yang sudah terbiasa tak mengenakan bra dengan tegas menyatakan tak akan kembali pada rutinitas menyiksa memakai bra.   I cannot see myself going back!” tandas Citra yang suaminya mendukung gerakan bebas bra.

Sekarang saya tidak lagi memandang memakai bra sebagai suatu kewajiban. Memakai bra atau tidak adalah pilihan. Kalau ada hari pengin pakai bra, ya pakai, kalau enggak pengin, ya enggak perlu. Dan seharusnya semua perempuan bisa merasakan hal ini.

Seandainya sejak dulu saya sudah disadarkan akan hal tersebut, tentunya saya tidak perlu menghabiskan banyak uang membeli bra bermerek tertentu. Saya juga tidak lagi memandang payudara sebagai organ tubuh pembangkit dosa yang patut disensor secara berlebihan. Jadi enggak perlu bilang, ‘Astaghfirullah’, seperti ungkapan Sekjen MUI.

Selama baju yang dipakai bukan transparan atau nyeplak banget, it’s just boobs, man. Chill.

 

 

http://funlexia.com/2013/01/18/chill-dude/

19 Comments

  1. aku pake bra kalo pergi aja, sih. pergi2 formal tepatnya.
    kalo cuma ke warung sebentar aku pake jaket bomber.
    pengennya bisa free ga usah pake jaket, tapi aku yang gak pede. kalo pake outer biasa putingnya masih nyemplak. padahal ukuranku cuma 34A.

    intinya kalo bisa sih aku akan pilih gak pake, karena memang nyaman sekali.

    1. A lot of times its all in our head kok. Enggak semua orang merhatiin dada kita. Ini kitanya yang insecure karena belum biasa. Btw thanks udah mampir 😊

  2. Aku pake kerudung malah sering banget keluar ga pake bra. Tapi sejauh ini sih keluar2 yg sifatnya casual. Kalo ke kantor atau acara hang out yang orangnya banyak belum berani. Karena berkerudung, jadinya emang kerudungku literally nutupin payudara. Dan, bener, ga pake bra payudara malah jd lebih gak menonjol.

  3. Yup, betul bangat.
    Gak pakai bra bikin gak sesak, apalagi pas hamil dimana lingkar dada bertambah, rasanya malas bangat ganti bra baru yang dipakai cuma beberapa bulan, mahal, dan akhirnya bikin sesak. Sekarang di rumah pasti no bra, kalo keluar rumah dan pakai baju yg ga nyeplak gak pakai bra rasanya nyaman bangat.

  4. aku mulai ga pake bra karena alasan sepele, kehabisan stok bra karena pada terkumpul di bak cucian. awalnya emang agak risih, ngerasa bouncy boobs juga padahal ukuranku cuma 32, itupun ukuran cup kecil. mungkin karena sebelumnya selalu di tahan bra. tapi lama-kelamaan saya malah jadi males pake bra dan memilih utk lepas bra. secara saya pakai bra atau nggak, tetep aja keliatan rata, diikuti pakaian saya yang emang longgar. Walau sesekali saya pakai bra utk kegiatan yang sekiranya banyak gerak atau menyesuaikan pakaian.

    cuma sempet diingetin sama mama kenapa ga pakai bra, jadi keliatan ratanya. dan cuma bisa diam karena saya belum menemukan alasan logis utk dijelaskan ke orang tua saya.

    1. Standar ideal masyarakat itu yang membuat banyak terjadi body shaming dan rasa tidak percaya diri. Sebenarnya alasan yang bisa kamu berikan logis sekali kok. Justru alasan yang Mama kamu katakan yang tidak logis. Hehehe. Intinya payudara itu secara kodrat adalah untuk produsen ASI. Kalau belum menyusui, ya payudara semacam penanda kita itu makhluk mamalia. Perkara supaya terlihat menarik di mata lawan jenis, menurut saya itu terlalu subjektif. Ada kok lelaki yang enggak mikirin ukuran payudara. Hehehe..

  5. Senang banget ketemu artikel ini! Ngerasa punya teman dalam movement “free the tatas” hahahah… aku juga sering ga pke bra kalo keluar sekedar beli makan atau ke toko..saking seringnya kadang pas mau ngumpul sama teman juga jadi lupa. Pengennya bisa berani gak pke bra kemana2. Tapi di sini judgment nya masih tinggi…aghhh 😣

  6. Suka banget sama tulisan ini. Saya juga udah gag pernah pakai bra sejak 2012. Alesannya karena bra itu kan katanya untuk menopang payudara, sementara payudara yang diberikan Tuhan pada saya cuma kek seadanya gitu. Bener2 cuma buat ‘syarat’ tubuh normal manusia dan untuk nanti menyusui. Jadi ketika pakai bra rasanya kayak bercanda karena cup-nya pasti akan kosong. Sisanya cuma berasa ‘diiket’ tanpa kegunaan yang signifikan. Kalo pake push up bra pun rasanya kayak ngebohong karena 95% bisa dan sisanya baru payudara yang sesungguhnya. Ibu saya pernah nasihatin, “Gag suka pake beha nanti turun, loh.” Saya jawab aja, “Gag akan ada yang turun karena yang dikhawatirkan akan turun juga gag ada.” But my mom still insisted. xD
    Sekarang pake bra cuma kalo pake baju yang emang keliatan nya jadi gag bagus kalo gag pake bra (means lekukannya jadi gag ada dan bikin terlihat jadi lurus aja itu baju karena badanku yang kurus dan rata) atau menjelang menstruasi biar gag sakit kalo lagi motoran dan kena polisi tidur. Sakitnya bikin sedih, soalnya. Kalo lagi kek gitu juga yang saya pake sports bra. :3
    Semoga makin banyak orang yang tercerahkan soal pemakaian bra ini. ^^

    1. Makasih ya sudah mampir. Iya memang bra itu menyiksa sebenarnya. Dan seringkali untuk urusan estetika aja hehehe. Sports bra aku juga suka pakai. Tapi kadang2 tetep aja kerasa sesak, apalagi kalau si bra udah mulai jelek. Ah harus beli deh hehe.

  7. Suka banget sama tulisan ini. Saya juga udah gag pernah pakai bra sejak 2012. Alesannya karena bra itu kan katanya untuk menopang payudara, sementara payudara yang diberikan Tuhan pada saya cuma kek seadanya gitu. Bener2 cuma buat ‘syarat’ tubuh normal manusia dan untuk nanti menyusui. Jadi ketika pakai bra rasanya kayak bercanda karena cup-nya pasti akan kosong. Sisanya cuma berasa ‘diiket’ tanpa kegunaan yang signifikan. Kalo pake push up bra pun rasanya kayak ngebohong karena 95% bisa dan sisanya baru payudara yang sesungguhnya. Ibu saya pernah nasihatin, “Gag suka pake beha nanti turun, loh.” Saya jawab aja, “Gag akan ada yang turun karena yang dikhawatirkan akan turun juga gag ada.” But my mom still insisted. xD
    Sekarang pake bra cuma kalo pake baju yang emang keliatan nya jadi gag bagus kalo gag pake bra (means lekukannya jadi gag ada dan bikin terlihat jadi lurus aja itu baju karena badanku yang kurus dan rata) atau menjelang menstruasi biar gag sakit kalo lagi motoran dan kena polisi tidur. Sakitnya bikin sedih, soalnya. Kalo lagi kek gitu juga yang saya pake sports bra. :3
    Semoga makin banyak orang yang tercerahkan soal pemakaian bra ini. ^^v

  8. Artikelnya menarik!

    Gw paham kok kenapa kalo puting kelihatan itu “tabu” sekali dimari

    Tp untuk poin dimana blg kalo gak pake gak akan turun. Gw jadi inget masyarakat papua yang gak make bertaun2x jadi kek gitu. #maaf jadi turun.

    Disitu laah~~
    Eta saya masih berfikir buat benar2x lepas XD

    1. Hai Rifka, kamu pernah browsing foto2 perempuan di Indonesia di masa lalu yang tidak pakai bra? Seperti perempuan Bali. Perhatikan payudara mereka tidak turun. Dugaan saya ada semacam perbedaan bentuk payudara di setiap perempuan. Terutama ketika mereka sudah menyusui anaknya.

  9. Kak, aku pertama pakai bra rasanya super ga nyaman. Dada rasanya ketarik banget. Punggung pegel asli. Jadi sampe kuliah bahkan aku cuma pake miniset. ukuran payudaraku emang antara ada dan tiada, cuma karena diharuskan pake lapisan tambahan di bagian payudara. Sampe sekarang pake bra bukan yang berkawat/busa karena berasa nggak nyamannya. Rasanya bra emang ngga tercipta buat aku deh. Trus dengan baca postingan ini aku jadi pengen nyoba no bra juga.

    1. Cobain deh no bra, rasanya warbiyasa hahaha. Sekarang aku udah jarang banget pakai. Ya palingan kalau pakai baju tertentu atau menghadiri acara tertentu. Santai aja, enggak selalu kelihatan orang kok. Hehehe. Thanks udah mampir ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *