Pengabdi Setan dan Obsesi Orang Indonesia Untuk Punya Anak

Warning: spoiler ahead!

 

 

Saat tulisan ini dibuat, film Pengabdi Setan sudah meraup penonton hingga 2,6 juta pada hari ketujuh belas pemutarannya di bioskop seluruh Indonesia. Ditambah lagi Pengabdi Setan mendapatkan 13 nominasi di ajang Festival Film Indonesia 2017. Sebuah prestasi warbiyasa dari film horor anak bangsa. Terlepas dari unsur horor yang sukses menakuti jutaan orang, film ini telah membuka wacana diskursus tentang hak reproduksi.

foto:dok. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20171003141821-220-245808/jejak-bront-palarae-bapak-pengabdi-setan-di-film-indonesia/
foto:dok. https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20171003141821-220-245808/jejak-bront-palarae-bapak-pengabdi-setan-di-film-indonesia/

 

Film Pengabdi Setan mengisahkan Ibu yang meninggal dengan cara misterius. Sejak kepergiannya, kejadian-kejadian aneh bermunculan. Keluarga yang ditinggalkan stres berat karena diganggu beraneka macam hantu. Lalu satu persatu rangkaian misteri perlahan terkuak. Salah satu twist yang paling mengejutkan adalah Ibu dan Bapak ternyata pernah ikut pesugihan untuk mendapatkan keturunan. Keputusan tersebut dilakukan karena mereka sudah lelah berjuang selama sepuluh tahun demi memperoleh anak. Ritual utama dalam cult ini adalah saling bertukar pasangan satu sama lain. Kalau jaman now, ini namanya swinger club. Nah sejak ikut ritual, ibu pun hamil dan memiliki empat anak… yang enggak mirip satu sama lain. Jadi jelaslah mereka sebenarnya bukan berasal dari satu bapak. Dan kemungkinan besar si bapak lah yang alat reproduksinya bermasalah sehingga mereka tak kunjung punya anak.

https://img.duniaku.net/2017/10/1507538243-bapak-pengabdi-setan.jpg
https://img.duniaku.net/2017/10/1507538243-bapak-pengabdi-setan.jpg

Di sini sebenarnya menurut anabelku (analisa gembel), terkuak apa yang diomongin si Bapak jelang kematian si Ibu. Bapak minta maaf sama Ibu karena telah mendorong ikutan pesugihan sehingga membuatnya sakit-sakitan. Rasa frustasi yang dialami Bapak dan Ibu karena terus-terusan gagal memiliki anak memaksa mereka melakukan hal-hal di luar akal sehat. Sayangnya problema semacam ini tidak berhenti di setting tahun 1981. Tiga puluh enam tahun kemudian, masih banyak Bapak dan Ibu lain yang mengalami tekanan yang sama seperti di film Pengabdi Setan. Malah mungkin makin parah karena thanks to sosyel media, pasangan yang belum dikaruniai anak, tingkat stresnya bisa jadi lebih tinggi akibat melihat medsos yang dipenuhi foto-foto baby anak temannya.

 

http://37.media.tumblr.com/e9c753e607f617897910f0b177cc5828/tumblr_mw6treKA6t1s02zivo1_500.gif
http://37.media.tumblr.com/e9c753e607f617897910f0b177cc5828/tumblr_mw6treKA6t1s02zivo1_500.gif

 

Ditambah lagi, media pun enggak ada sungkan-sungkannya akan terus bertanya dan kembali bertanya kepada pasutri seleb yang baru menikah, “Kapan mau punya anak?” atau, “Rencana mau punya berapa momongan?” Pertanyaan-pertanyaan ini dianggap sebagai pertanyaan standar sopan santun untuk menunjukkan kepedulian. Sama seperti, “Sudah nikah belum?” yang diutarakan oleh supir transportasi online kepada penumpangnya untuk mengisi waktu. Tidak ada rasa empati bahwa untuk sebagian orang, pertanyaan, “Sudah punya anak?” bagaikan pisau yang menusuk ke hati, lalu si pisau digoyang-goyang biar makin dalem nancepnya. Sebagai pemilik rahim, perempuan akhirnya cenderung merasa lebih bertanggung jawab atas nama meneruskan keturunan.

 

 

Siapa sebenarnya yang memiliki tubuh? Pertanyaan mendasar ini kompleks bila dikaitkan pada perempuan. Berbagai literatur mengajukan definisi integritas tubuh adalah tubuh seseorang tidak boleh diganggu gugat, memiliki otonomi personal serta kebebasan menentukan nasib atas tubuh yang dimiliki. Singkat kata, jangan ganggu-ganggu bodiku, karena ini bodiku, bukan bodimu *sambil kibas rambut*. Integritas tubuh adalah bagian dari kedaulatan sebagai manusia dan ketika dilanggar maka ini berarti telah terjadi perilaku yang mengganggu dan bisa jadi bentuknya kriminal. Satu cerita menyedihkan tentang pelanggaran otonomi tubuh pernah saya dengar dari cerita seorang asisten rumah tangga di rumah tante saya. Ia bercerita suaminya memangkas rambutnya menjadi pendek. Alasannya, supaya istrinya tidak menghabiskan banyak waktu mengurus rambutnya. Si istri menceritakan ini sambil menangis. Ia merasa tidak lagi memiliki kuasa atas tubuh yang sudah diberikan kepadanya sejak lahir.

 

Tubuh perempuan mengalami kontestasi di berbagai belahan dunia. Tubuh perempuan bukan lagi tubuh miliknya. Mengambil kutipan Rocky Gerung dalam kelas tentang Ethics of Care di Jurnal Perempuan, dalam tubuh perempuan bergerombol ketidakadilan terutama yang berkaitan dengan seksualitas dan hak reproduksinya. Bahkan PBB sejak tahun 1968 mendeklarasikan melawan diskriminasi terhadap perempuan dan memaparkan bahwa hak perempuan juga hak azasi manusia. Women’s rights is human rights, semboyan yang sekarang sering dipakai kalangan penggiat isu perempuan. The International Conference on Population and Development yang diadakan tahun 1995, menjadi langkah penting untuk hak-hak azasi perempuan. Bahwa populasi bukan semata tentang demografis, tapi yang paling utama tentang manusia. Konferensi ini memajukan langkah kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan karena bersepakat untuk menghapus segala bentuk kekerasan terhadap perempuan serta menetapkan perempuan sebagai pemegang kendali utama atas segala hal yang berhubungan dengan kesuburannya. World Health Organization mendefinisikan bahwa hak reproduksi adalah hak-hak dasar setiap pasangan dan individu untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung jawab mengenai jumlah, jarak, dan waktu memiliki anak. Dan setiap orang juga berhak untuk memperoleh informasi dan standar terbaik dari fasilitas kesehatan reproduksi dan seksual serta berhak membuat keputusan menyangkut reproduksi yang bebas dari diskriminasi dan kekerasan.

foto: dok. giphy.gif
foto: dok. giphy.gif

 

Di Indonesia, Pemerintah dalam Pasal 71 Undang Undang no. 39 tahun 1999 menyatakan bahwa Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia. Tapi dalam pasal 4 UU no. 1 tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan bahwa pengadilan bisa memberikan izin kepada seorang suami untuk berpoligami bila istrinya tidak dapat melahirkan keturunan. Ow drop shay! Bubar semua hak reproduksi!

 

 

http://repo.unand.ac.id/2798/1/1974_UU-1-TAHUN-1974_PERKAWINAN.pdf
http://repo.unand.ac.id/2798/1/1974_UU-1-TAHUN-1974_PERKAWINAN.pdf

 

https://img.buzzfeed.com/buzzfeed-static/static/2016-10/14/23/asset/buzzfeed-prod-web07/anigif_sub-buzz-3391-1476503596-2.gif
https://img.buzzfeed.com/buzzfeed-static/static/2016-10/14/23/asset/buzzfeed-prod-web07/anigif_sub-buzz-3391-1476503596-2.gif

 

Ya gimana si Ibu enggak stres dan rela bela-belain ikut pesugihan. Dimadu sakit shay. Bisa jadi Undang Undang ini yang membuat populasi Indonesia mencapai 261,1 juta dan menempati posisi keempat sebagai negara terpadat di dunia. Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty, mencatat ada empat juta bayi lahir setiap tahun di Indonesia. Ini berarti lebih dari 10.900 bayi lahir setiap hari. Menurut data tahun 2016 ini, rata-rata perempuan subur di Indonesia memiliki 2,6 anak. Pak Surya juga berkata bahwa dengan luas dan sumber daya alam yang ada di Indonesia, idealnya laju pertumbuhan penduduk hanya sebesar dua juta kelahiran per tahun.

 

Sementara laju pertumbuhan penduduk berlawanan dengan kualitas pendidikan Indonesia. Data Indeks Pendidikan UNESCO 2016 menunjukkan bahwa saat ini Indonesia berada di posisi 108 dunia dengan skor 0,603. Data itu menunjukkan bahwa kualitas pendidikan Indonesia masih di bawah Palestina, Samoa dan Mongolia. Kualitas tenaga pengajar pun masih kurang memadai. Jika dikomparasi, setiap satu juta penduduk di Indonesia, ternyata hanya 143 penduduk bergelar doktor. Jauh di bawah Malaysia yang memiliki 509 doktor dari setiap satu juta penduduknya.

 

 

Seandainya Bapak dan Ibu tahu tau data-data ini, mungkin mereka enggak akan segitunya ngebet ikutan pesugihan. Atau mungkin karena fasilitas sex swinger yang membuat mereka ikut? Okelah, itu cerita lain. Tapi punya atau tidak punya anak adalah bagian dari hak azasi manusia. Yang punya anak, tidak lebih baik dari yang tidak punya anak. Begitu pun sebaliknya. Yang bermasalah adalah obsesi berlebihan untuk memiliki anak. Seolah pasangan yang menikah tidak ada artinya tanpa anak. Seolah perempuan bukanlah perempuan utuh kalau rahimnya tidak dimanfaatkan untuk mengandung. Yang mana dengan sangat menyedihkan justru dijustifikasi oleh Undang-Undang Perkawinan tahun 1974. Sebagai manusia yang beradab, ketidakadilan berbasis gender semacam ini seharusnya dilawan. Jane Fonda pernah berkata, kebebasan reproduksi adalah merupakan bahaya bagi patriarki, karena ini berarti perempuan sudah berdaya. Tanda bahwa perempuan sudah memiliki posisi tawar yang setara dengan lelaki. Beranikah kita memperjuangkan ini?

http://www.cafepress.com/+feminism-uterus+t-shirts
http://www.cafepress.com/+feminism-uterus+t-shirts

67 Comments

  1. Sebetulnya UU ini sendiri mengacu pada hukum Islam soal pengaturan perkawinan. Jadi seandainya pengadilan mengizinkan, ada dasarnya. Namun perlu diketahui, di agama Islam sendiri, meski di surah An Nisa di ayat ayat awal disebutkan bahwa laki laki boleh menikahi sampai 4 perempuan (ini biasanya ayat yang suka diserang sama yang kontra), ayat selanjutnya menjelaskan tentang hukum nikah dan juga hak waris. Kalau diperhatikan baik baik, sebetulnya hak perempuan sudah sangat diatur. Jadi meski boleh, berbuat adil itu sulit. Dan suaminya bisa kena dosa kalau keinginan berpoligaminya ini malah nyakitin istri pertama. Jadi balik ke diri masing masing, maukah ngizinin poligami ketika keadaan darurat, misal ingin punya anak 😁. Pentingnya persiapan pranikah bisa berdampak juga sama keputusan poligami *cmiiw, just my two cents

    1. Halo Azzahra, terima kasih sudah mampir ke sini. Tentunya memang keadilan adalah yang paling penting saat poligami. Nabi Muhammad SAW pun sudah menunjukkan dalam rentang hidupnya selama 25 tahun ia adalah penganut monogami meski Siti Khadijah tidak bisa memberikan anak lelaki (yang pada masanya sangat penting). Tapi saat ini kita menyaksikan begitu banyak fenomena kemunafikan yang merasionalisasi poligami. Dan yang paling menyedihkan, ini dijustifikasi dengan Undang Undang di negara kita. Seharusnya UU ini direvisi sehingga tidak ada implikasi subordinasi perempuan dalam pernikahan.

      1. Maaf mba tolong diralat. Nabi muhammad memiliki 3putra dan 4putri dari hasil pernikahan dengan siti khadijah. Hanya saja keTiga putranya meninggal saat masih kecil. Coba dicek lagi ya mba literaturnya.. Makasi..😉

        1. Hai Pitra, terima kasih atas koreksinya. Jujur saya lupa akan detail ini. Yang saya ingat hanya pada akhirnya tidak ada anak lelaki dari Khadijah yang hidup untuk meneruskan klan Nabi Muhammad SAW. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf atas kelalaiannya.

      2. Nabi muhammad poligami kebanyakan dengan janda janda tua. Dan baru memulai poligami setelah khadijah (istri pertama) wafat. Sedangkan di indonesia, kebanyakan laki laki poligami dengan yang lebih cantik dari istri pertamanya dan lebih muda dari istri pertamanya. Dan dilakukan saat ada istri pertama. Which is istri pertama lah yang paling kenal si suami. Yang menemani dari awal. Yang setia sama si suami. Ketika si suami sukses, suaminya lupa diri. Dan mulai berdalil dalil di balik ayat alquran tentang poligami. Padahal sih cuma nyari enaknya doang.

        Pernah ada pepatah bilang,
        “KeSETIAan ISTRI dinilai saat SUAMI tidak punya apa apa. Sedangkan keSETIAan SUAMI dinilai saat si SUAMI punya apa apa (sukses).”

  2. Sebagai seorang perempuan yang nggak tertarik untuk punya anak, aku suka banget sama artikel ini. But even if I’m someone who’s so into having children, I think it would still be right for me to respect other women who just don’t have the same interest. Thanks for writing this great article! x

  3. Terima kasih untuk mengingatkan Saya betapa (masih) berartinya hidup Saya, meski kami sedang sangat menantikan keturunan dalam rumah tangga kami.

    1. Mungkin salah satu di antaranya bisa mengadopsi. Tapi memang sih jadinya hanya atas nama satu nama. Setau saya memang adopsi secara proses hukum di Indonesia pun sulit buat pasangan hetero yang menikah 🙁

  4. Terimakasih tulisannya. Sebagai perspektif yg beda, ngga cuma yg ngga punya anak aja ato yg punya anak sedikit aja yg ‘diserang’, saya punya anak 4. Dari dulu memang pingin anak 4, suami pun setuju. Banyak BANGET orang yang, “hah, loe mo punya bayi lagi?” “Hamil lagi? Udah kayak pabrik aja…” Dsb. A “congratulations..!” Would have been nice. Intinya, jangan suka kepo, mulut dijaga kalo bukan urusan loe, ga usah njeplak! Orang punya haknya masing2 mau gimana.

    1. Terima kasih sudah mampir :). Hak reproduksi adalah sesuatu hal yang tidak disadari banyak orang di Indonesia. Kebanyakan kepo karena kurang baca sih hehehehe.

  5. Artikel nya bagus, sebagai wanita yang belum di karunia keturunan aku suka. mengingat kan wanita juga bahwa dia bisa berarti juga tanpa harus mengandung dan melahirkan… Sayangnya frame yang ada di masyarakat sudah tertanam bahwa perempuan sepenuhnya adalah yang dapat melahirkan…

    1. Terima kasih sudah mampir. Kita sebenarnya bisa memilih untuk tidak peduli pada frame masyarakat. Karena toh yang menjalani hidup adalah kita dan pasangan. Life is too short to listen to other’s opinion all the time hehehe.

  6. “Kapan kamu menikah? Kapan kamu punya anak? Mau punya beberapa momongan?” Ranah pribadi menjadi standar sopan santun rasa kepedulian.

    Very well said! 👌

    1. Apalagi yg paling bikin bete nih kalo ada orang yg nanya “Kamu uda laku blum?”
      Pertanyaan kyk gtu pertanyaan paling murahan selangit. Cinta & pernikahan kagak bisa disetarakan dengan barang apalagi wanita. Kadang gw bingung, mereka yg bermulut ember, giliran urusan mereka diusik, eh mereka kyk cacing kepanasan, ya lucu aja sih.
      Gw setuju dengan artikel ini, analisanya tajam & mendalam (y)

  7. Suka bgt artikel ini..pertanyaan tentang anak sangat mengganggu yes saya setuju…saya sendiri merasa demikian,saat kita menikah blm punya anak dtanya kpn punya anak,punya satu ditanya kpn punya lagi…saya sendiri mengalami,saya sudah punya 2 anak,semuanya perempuan…orang masih selalu bertanya kenapa g nambah lagi kan blm punya anak cowok…saya paling g suka pertanyaan macam itu,bagi saya anak cowok atau cewek nilainya sama…..kalau saya boleh bilang,maaf sebelumnya,tp menurut saya masyarakat memiliki kebiasaan dan opini yg menyebalkan…menentukan nilai berdasar gender…nyebahi…fiiuuuhhhh jd curhat ya…tp artikel ini harusnya bs membuka pikiran masyarakat utk lbh menghargai apa yg jd hak org lain…

    1. Thank you sudah mampir :). Memang yang paling betul itu kita tidak usah terpaku pada nilai2 masyarakat. Yang penting kita menjalani hidup yang tidak merugikan orang lain. Salam buat keluarga 🙂

  8. Saya juga jujur aja, ga mau punya anak tapi tekanan dari ortu dengan mindset “perempuan yg sudah menikah musti punya anak” ini yang bikin saya bimbang. Antara membahagiakan ortu dan meneruskan keturunan, atau bahagia cukup dengan pasangan sendiri :((

  9. Koreksi, Khadijah punya enam putra dan putri dari Muhammad.

    Btw, tulisannya menarik. Sayangnya kok dihubung2kan dengan motif tokoh dalam film pengabdi setan. Belum tentu karena tekanan, bisa jd alasannya hanya karena mereka ingin memiliki anak.

    1. Terima kasih atas koreksinya. Iya saya lalai dengan detail tersebut.
      Karena memang berkat film Pengabdi Setan maka saya merasa ada diskursus menarik tentang hak reproduksi. Memang bisa jadi Bapak dan Ibu benar-benar ingin memiliki anak. Film sebagai salah satu bentuk seni terbuka untuk interpretasi penikmatnya. Bagi saya Bapak dan Ibu sudah dalam tahap desperate punya anak. Yang mana sulit untuk tidak berkata bahwa pengaruh lingkungan tidak berkontribusi terhadap rasa frustasi tersebut. Tekanan itu bukan berarti dipaksa oleh mertua untuk punya anak. Tekanan bisa juga berarti melihat norma sosial yang berlaku pasangan yang menikah memiliki anak untuk menjadi bahagia.

    1. Dalam mazhab Islam, ada yang melihat pernikahan sebagai kewajiban, ada yang sunnah tapi ada juga yang makruh. Sebaliknya menuntut ilmu justru yang jelas2 disebut di Al Quran sebagai sebuah kewajiban.

  10. Hai Trinzi….saluttt sama tulisannya n bener bgt. Sebenernya perempuan dah wajib bgt tegas ma dirinya n hargain dirinya lebih…g ada cerita si kita dianggep kotak reproduksi, klo yg kepalang dah merid n dipoligamiin krn alesan g bs pny anak, fix divorce aja mending, lagian klo cewek dianggep cmn kotak bayi, cowok mending kita anggep aja kotak sperma, kelar positif hamil gugat divorce drpd punya 1 bayi bener n tambahan 1 bayi g guna yg cmn bikin susah, kecuali ma suaminya bukan tipikal mayoritas cowok indo yg kalo merid maunya babysitter cuma2 alias istri jadi babysitter ya wkwkwk.

    Boleh juga cek blogg aku ya 🙂
    https://womensmindliberation.wordpress.com/

    Patriakis bakal susah diapus, cewek jadi nomor 2 mulu terutama di negara asia bakal susah dirubah, kecuali kita sebagai perempuan gak terus menerus mengecilkan diri ma waham menyenangkan lingkungan tp fokus kediri sndiri n bikin diri lebih berkualitas

    1. Hello fellow feminist! Senang bertemu denganmu di sini 🙂 Setuju sekali dengan pendapat kamu. Perempuan perlu keluar dari mindset sebagai penanggung jawab utama reproduksi. It’s her body after all. Saya sih lumayan optimis generasi Z punya pandangan yang lebih baik dibanding pendahulunya berkat kemajuan informasi. Semoga semakin berkurang patriarki di kehidupan Indonesia. Btw, badass blog you got there 🙂

    1. Waktu kuliah saya malah enggak ikut matkul gender. Nyesel deh. Sekarang malah jadi tertarik banget dan akhirnya suka ikut2 kelas tentang gender. Btw, terima kasih sudah mampir 🙂

  11. Setuju banget…!
    Orang-orang jaman sekaramg entemg banget nanyain “kapan nikah” dan “kapan rencana punya anak” dengan enteng tanpa tau apa alasan org itu belum atau gak menikah/punya anak.

    Kalaupun jawabannya ternyata sesimpel “belum mau” pasti akan diceramahin panjang kali lebar semata-mata karena paradigma yang terbentuk di masyarakat itu adalah hal yang seharusnya dilakukan oleh semua orang.

    Sependapat banget sama artikel ini. 🙂

    1. Sudan sering ditanya seperti itu ” Kapan punya anak?” dan selalg dijawab “Kapan-kapan”. Mostly tante2 yang agar comel itu akan diem.

    1. Hai Agun, terima kasih sudah mampir. Perempuan dan laki2 itu sama2 manusia kok. Mari kita buang paradigma Men Are From Mars, Women Are From Venus bullshit itu hehehe

  12. Jgn Kan yg blm punya anak, Di Indo mau punya anak 1 pasti ditanya knp mau ngasi adik buat si anak😅. Ga berhenti smpai disitu, ud punya anak 2 atau lbh Dari 2 pun tp gender ny sama smua pasti Ada pertanyaan tambahan “gamau Cari anak prempuan nih?” -kalau anakny laki2 smua, begitupun sebalikny!-😂
    Bahkan sy yg alhmdlh dianugerahi anak sepasang lelaki dan prempuan pun masi juga ditanya loh “cuma 2 aja nih, enak Kan anak 3 loch biar nanti ga sepi” 😂😂
    Indonesia terkenal dgn ke kepo an pendudukny selain keramahanny sptnyaa hehehe.. well still love Indonesia. Trus berkarya ya!

    1. Exactly. Capek ya. Well kalau mau ubah budaya, kita mulai dari diri sendiri aja dulu. Menghargai privacy orang dengan tidak kepo genggeus hehehehe. Thanks udah mampir 🙂

  13. Yg terjadi sm sy justru aga terbalik. Umur sy mau 31, anak 3. Akhir2 ini ada yg komen “rempong bgt sih..makanya jgn beranak trs..!” Ato “kmu kecil2 ko anaknya buanyak?!”
    Dalam hati cm bs teriak (krn yg komen emak2 senior) “Lho..ada yg salah kah, pny anak 3?! Lagian emangnya sy bisa ngatur kehendak Tuhan??” Hmmm…
    Sy rasa.. Ada ataupun tidaknya kehadiran anak dlm kehidupan rmh tangga, Tuhan sdh punya rencana dan tanggung jawab bt masing2 kita. Disyukuri dan dinikmati saja.

    1. Hah!? sebegitu gilanya orang komen gtu? ckckckck blom punya suami eh mulai ribut, gak punya anak eh super ribut, punya banyak anak beneran kyk angin ribut. Ya bgtulah mbak, segerombolan katak dalam tempurung yg miskin iman. beruntung jika kita saat ini lebih kaya iman dan mampu berpikiran luas, syukur Alhamdulillah sbg karunia nikmat dari Allah 🙂

  14. Berarti saya termasuk yang cuek dan ga baper sama omongan orang ya hihihi…dulu kalau ditanyain kok belum nikah?saya pasti jawabnya doakan yaaa….(soalnya lagi malas nikah..masih seneng main dan kerja)….waktu ditanyain kapan punya anak?tetep aja jawabnya bantu doain yaaa….(padahal hati dagdigdug punya endometriosis di rahim)….ehhh sekarang udah anak 2…ditanyain kapan nambah adek?..tetep aja jawabnya…doakan ya (karena dalam hati udah agak cape ngatur waktu)…tapi kalau emang ditakdirkan hamil lagi saya berpikir simple..pasti ada jutaan kemudahan dari Allah buat saya…begitu kira2 hasil jawaban dari setiap jawaban
    ..doakan yaa…bantu doa ya…sayang sampai sekarang ga ada yang nanya kapan ganti mobil atau nambah beli properti….kan lumayan saya bisa minta bantu doa…doakan saya ya hehehehe
    Tulisannya bagus banget mb trinzi saya suka…

    1. Haha, betul sekali. Kok gak ada yang nanya seperti itu ya. Justru dianggap lebih sensitif kayaknya dibandingkan nanyain rahim hehehe. Saya lebih suka gaya basa basi orang luar. Sekalian ngomongin cuaca 😀

  15. Indonesian still in the stone age thinking of ‘banyak anak banyak rezeki’ is a wrong perspective. Let’s think out side of woman right for awhile, how about child welfare themselves? Too many kids are begging on the street or ‘ngamen’ at public transportation. Where the fair of this? Indonesian strt to think of quality instead of quantity. Why are we still away behind compare to Singapore? One of the reason because the way of thinking and rustic culture that needed to be changed…is it hard? Yes .. because it is rooted…

    1. Exactly. We can change the culture. One step at a time. It takes time for sure. But if we don’t start now, we may never change. Let’s start with ourselves.

  16. Suka sama artikelnya… tekanan sosial kadang lebih menekan dibandingkan kebutuhan sendiri. Kadang secara tidak sadar keinginan punya anak karena sering ditanya, tanpa pernah mempelajari secara nyata apakah siap dengan kehadiran sang buah hati…

    1. Punya anak atau tidak itu ranah personal. Enggak perlu diutak-atik sama orang luar. Kalau dia sudah punya anak, lebih baik ngobrol soal pendidikannya, asuransi masa depannya daripada nanya kapan dikasih adik. Atau sekalian discuss soal buku parenting hehehe

  17. Halo, wah salam kenal ya, saya baru baca media ini.
    I agree with your analysis that many Indonesians use intrusive personal questions as colloquial part. Personally, I dislike that. Not only is it impolite, but also will it linger for deeper effect to some people. Kalau ada yg tanya kapan punya anak, lalu saya jawab belum pengen, saya diceramahi. Tetapi demi esensi kesopanan ya saya diamkan bercerita. Toh hidup orang beda2. Toh apa yg membuat kita bahagia bisa jadi berbeda dari org lain.
    Good writing, Trinzi. I’ll check your other posts.

    1. Hai, ini bukan media sih. Cuma wadah keisengan saya aja hehehe. Kamu punya kesabaran luar biasa ya. Salut. Setuju dengan perkataanmu, apa yang membuat kita bahagia, berbeda dari kebahagiaan orang lain.

  18. Adik saya dan pasangannya memutuskan untuk tidak punya anak simply because they don’t want to. Saya sangat menghargai keputusannya dan bangga bahwa dia punya alasan yang kuat untuk itu. Kalau ada orang yang tanya “Adiknya punya anak berapa?”, saya selalu jawab “Engga. Dia emang ga pengen punya anak.” 🙂

    1. Hai Novi, terima kasih sudah mampir :). Adik kamu benar-benar keren! Semoga anak tidak lagi dilihat sebagai sebuah properti atau kewajiban yang harus dimiliki.

  19. Halo, Mba Trinzi. Wah, baru banget kemarin aku galau karena ngeliat test pack negatif terus, tapi setelah baca tulisanmu jadi terbuka deh pikirannya hehe. Memang yang paling membuat stress adalah tekanan dari lingkungan. Ortu dan mertua saya bukan orang-orang yang rese, yang selalu nanya udah isi apa belum. Tapi teman-temannya itu lho, ditambah ngeliat teman-teman lain sudah diberi keturunan, makinlah bertambah tekanan untuk saya. Dan benar memang, rasanya kalau belum punya anak kok kaya perempuan yang memikul tekanan dan tanggung jawab yang lebih besar daripada suaminya. Sepertinya cuma di Indonesia aja ya yang masyarakatnya nggak segan menanyakan pertanyaan seperti itu. Semoga tradisi kepo yang kaya gitu segera terputus.

    1. Hai Ayu. Sepertinya kecenderungan ini enggak cuma di Indonesia kok. Negara-negara lain banyak yang masih berpendapat memiliki anak itu wajib. Kita bisa mulai dari diri sendiri untuk enggak kepo pada orang lain tentang hal-hal personalnya. Saya lagi melatih diri agar tidak menanyakan hal kepo yang enggak penting. Daripada nanya anak, punya pasangan atau enggak, saya nanya hobinya, sedang sibuk apa, terakhir kali nonton film apa. Ya hal-hal seperti itu yang bisa memicu diskusi lebih menyenangkan dan intelektual.

  20. Setuju bgt! Keren lah mba Trinzi ini bisa membuka pikiran tulisannya. Selama ini aku nge brainwash temen2ku yg masih single juga kurang lebih kyk tulisan ini, cuma tulisan ini bisa di mengerti banyak orang, kalo omonganku to the point hanya kerabat aja yg ngerti hehehe jd ini tulisan mewakilkan aku. Ntar aku suruh tmn2 baca hahah
    Anakku ada 2 laki semua, aku dan suami jg setuju gak nambah lagi. Kita lebih prioritaskan quality over quantity.
    Bisa sekolahin mereka di sekolah yg mahal dan gak diragukan lg kualitasnya 10jt++ per bulan per anak. Kita ngurangin ganti mobil baru, pake mobil sampe rusak aja/udh gak masuk akal baru ganti, gak ganti iphone baru, beli tas branded tadinya sebulan sekali, jadi 8bulan sekali dan beli second aja yg penting masih bagus. No more credit cards, dll. Bagi aku dan suami ini udah kemajuan pesat di hidup kita. Jadi semakin banyak bersyukur jd orangtua yang bisa kasih pendidikan yg bagus ke anak2.

    Nah mba Trinzi, aku mau tanya misalnya ada negara yg punya peraturan bener2 yg diatur dgn UU, rakyat hanya boleh punya anak 2 saja menurut mba gmn? Dan gencar KB dmn2.. Kira2 kalo diimplementasikan ke negara indonesia bisa gak mba?
    Kalo negara lain emang sih yg 2 anak itu dibiayain negara sekolahnya, kalo punya anak lebih dr 2, biaya sendiri.
    Kalo untuk di indonesia, menurut mba Trinzi kalo sampe diatur UU ttg punya anak ini bagaimana mba.. thankyou mba Trinzi semoga berkenan balas.
    Have a good day..

  21. 3 tahun menikah belum punya anak (hamil tapi keguguran), dan saya memang tidak suka mendekati anak kecil, jadi oleh tetangga saya dituduh kb dan nggak mau punya anak, pdhl teman2 seumuran (35 tahun) sudah punya anak 3 dan besar2.

    Setiap kali ditanya, kok belum isi juga? Aku jawab: tanya aja sama Allah, itu kan urusan Tuhan buat ngisi-ngisi, bukan urusanku. Krik krik krik… Pada diem deh. Hahahaa…

    Akunya juga pasrah aja diberi anak atau nggak, soalnya punya anak maupun nggak itu sama2 ada enak dan enggaknya. Jadi, aku ngikut maunya Tuhan aja gimana. Kalau diberi ya syukur, kalo nggak ya berarti disuruh nyari kesibukan lain untuk membuat hidup lebih bernilai. Kebetulan suami jg gak ribet. Masing2 keluarga kami juga sudah sama2 punya penerus generasi ketiga, jd kami gak dikejar2 untuk memberi keturunan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *