Menikah: Penjara atau Kemerdekaan untuk Perempuan?

 

“Sudah saatnya kita serius,” bola matanya menatap saya lurus.
Saya memperbaiki posisi duduk. Lidah mendadak kelu. Hembusan pendingin udara di apartemen terasa lebih menusuk.
“Masa kita mau gini-gini aja?” tanyanya lagi.
Memang kenapa? tanya saya dalam hati. Saya menikmati momen-momen bersamanya. Saling berkirim kabar di sepanjang hari, mendengarkan suara masing-masing di penghujung malam, nonton bioskop sambil menggenggam tangan, tertawa atas lelucon masing-masing yang kadang tak lucu, dan masih banyak hal lain yang sepertinya tak perlu direpotkan sebuah ikatan bernama pernikahan.
“Kamu juga sudah umur berapa sekarang?” dia melemparkan pertanyaan yang tak perlu dijawab. Ini dia. Senapan paling mujarab bagi perempuan. Umur biologis. Tanggal kadaluarsa yang membayangi perempuan saat dia belum juga menikah dan melahirkan anak.
Malam itu saya setuju untuk sebuah hubungan yang lebih serius atau lebih tepatnya ke arah pernikahan. Momen mengikat diri atas nama agama dan hukum yang terus terang bukan lagi tujuan hidup saya. Tapi demi perasaan kuat saya terhadap lelaki ini, kami sepakat untuk sesuatu yang ‘lebih serius.’

***
Pernikahan pada konteks heteroseksual adalah sesuatu yang ngeri-ngeri sedap untuk saya. Delapan tahun lalu saya pernah patah hati teramat dalam karena lelaki yang tadinya mau menikahi saya mendadak mundur. Alasannya dia merasa kalah saing dengan saya yang punya penghasilan tetap dan baginya saya susah diatur. Ditinggalkan pacar serius di saat banyak teman dan sahabat melangsungkan pernikahan merupakan neraka dunia. Rasa tidak berharga, kesepian, takut sendirian di masa tua, sel telur yang menggelegak tiap menjenguk teman yang baru melahirkan, pertanyaan-pertanyaan, ‘Kapan nyusul?, Pacar siapa sekarang?’ jadi hantu yang senantiasa menempel di kepala. Saya menghabiskan waktu mencari, mencari dan terus mencari, seseorang yang konon akan menjadi jodoh hingga akhir hayat. Saking penginnya menikah, ada masanya saya punya password kata ‘Menikah’ dan tahun yang menjadi target (enggak usah diceritakan tahun berapa, karena memalukan).

Di sisi lain, memasuki gerbang pernikahan terasa menakutkan karena latar belakang keluarga saya yang banyak yang bercerai. Apalagi kebanyakan kasus perceraian yang terjadi di keluarga saya kebanyakan dialami dari sisi perempuan. Mereka bercerita bahwa pasangan yang di masa pacaran cenderung baik hati, saat menikah bisa berubah jadi mendominasi, menguasai, bahkan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Inilah yang diamini oleh kalangan feminis. Pernikahan kerap dipandang sebagai institusi yang melanggengkan patriarki. Clare Chambers, novelis feminis Inggris, berkata, “Simbol gaun warna putih dalam pernikahan merefleksikan kesucian pengantin perempuan. Pendeta (yang selalu lelaki) akan berkata kepada pengantin pria, ‘Sekarang kamu boleh mencium pengantin perempuan.’ Bukan si pengantin perempuan yang mengizinkan dirinya dicium. Setelah menikah, si istri lalu mengganti nama keluarganya menjadi nama keluarga sang suami.” Di agama Islam pun, wali pengantin perempuan harus seorang lelaki. Bahkan perempuan sah-sah saja tidak ada saat ijab kabul. Dia akan tetap bisa dinikahkan dengan lelaki lain selama disetujui oleh walinya. Ini menyimbolkan bahwa perempuan dianggap tidak punya daya kuasa di hari pernikahannya.

Setelah selesai pesta pernikahan, dominasi suami terhadap istri terus berlanjut. Filsuf Bertrand Russel dalam Marriage and Morals (1929) menulis, “Jumlah hubungan seks tak diinginkan oleh perempuan yang terjadi dalam pernikahan bisa jadi lebih besar daripada pelacuran.” Kalimat ini tidak bisa dianggap sepele. Karena nyatanya kasus pemerkosaan dalam pernikahan kerap terjadi dan orang sering memalingkan mata terhadap fakta ini. Indonesia bahkan termasuk salah satu dari 47 negara di dunia yang tidak punya kekuatan hukum membela perempuan yang diperkosa suaminya. Julie Bindel, kolomnis The Guardian, berargumen pernikahan di masa sekarang tetap jadi cara lelaki memelihara kekuasaannya terhadap pasangannya. Sebagai pihak yang ditakdirkan melahirkan anak, perempuan seolah dibebani ‘tambahan takdir’ untuk mengasuh anaknya lebih intensif dibandingkan pasangannya. Urusan dapur dan rumah tangga menjadi beban tambahan yang juga dilekatkan pada perempuan. Tugas reproduksi sosial yang pada dasarnya dilakukan untuk melancarkan pekerjaan suami, sedihnya sering dianggap remeh karena tidak ada penghargaan materi. Beban ganda seringkali berlanjut ketika si perempuan turut bekerja membantu ekonomi keluarga. Penelitian yang dilakukan Working Mother Institute terhadap 1000 orangtua bekerja di tahun 2015 membuktikan ibu dua kali lebih banyak melakukan pekerjaan rumah tangga dibandingkan si ayah. Survey ini bahkan juga menunjukkan ibu yang menjadi bread winner, atau pihak dengan penghasilan terbesar di keluarga, masih menjalankan tugas domestik terbanyak. “Perempuan dengan penghasilan lebih banyak dari pasangannya tidak berarti tugas rumah tangganya menjadi lebih ringan,” demikian kesimpulan survey tersebut. Melihat fakta-fakta ini, tidak heran bila menurut riset yang dilakukan University of Padova tahun 2016, kesehatan mental istri cenderung menjadi lebih baik ketika suaminya meninggal. Berbanding terbalik dengan suami yang umumnya lebih stres saat istrinya meninggal.

**
Tapi masa, sih, perempuan semenderita itu saat menikah? Saya melihat sahabat-sahabat di sekitar. Mereka yang saya tahu benar-benar hidup selaras dalam pernikahan. Ada, kok, perempuan yang nampak lebih lepas dan bahagia saat menikah. Pernyataan ini diperkuat saat sesi ketiga Kursus Menulis Sebagaimana Perempuan Menulis yang diadakan oleh Agenda18. Ada beberapa teman yang justru merasa semakin bebas saat menikah. Nurul, ibu dengan empat anak, justru didorong oleh suaminya untuk terus meraih impiannya. Saat saya bertemu Okky Madasari, penulis favorit saya, di acara Asean Literary Festival, ia berujar, “Ini jawabanku pasti diejek sama wartawan feminis nih. Tapi aku merasa menikah membebaskanku. Aku merasa mendapatkan sayap saat menikah. Suamiku suportif terhadap profesiku sebagai penulis. Dia membebaskanku untuk menekuni dunia menulis.”

Tidak bisa dipungkiri, dukungan suami terhadap istri adalah salah satu kunci stabilitas pernikahan. Kesimpulan ini yang didapat sebuah riset yang dilakukan Alyson Byrne dan Julian Baring yang dimuat di Harvard Business Review terhadap perempuan yang memiliki status pendidikan dan pekerjaan lebih tinggi dari suaminya. Bila suami mau membantu dalam hal pekerjaan rumah tangga, mengurus anak atau lansia, maka istri dengan pendapatan lebih tinggi akan tetap merasa pernikahannya aman dan stabil. Begitu pula bila dukungan suami hanya berbentuk emosional, ini akan membuat istri lebih fokus pada pekerjaannya dan menandakan adanya rasa hormat.

Pembagian tugas rumah tangga yang adil ternyata juga berpengaruh pada kehidupan seks suami istri. Sebuah riset yang dilakukan lebih dari lima tahun oleh konsultan pernikahan Matt Johnson pada tahun 2015 yang dimuat Journal of Family Psychology, membuktikan bila lelaki merasa pembagian tugas rumah tangga dilakukan secara merata, maka hubungan seks terasa lebih memuaskan buat kedua pasangan. Mau ena? Ayo cuci piring dan jaga anak dulu wahai para suami. Lebih jauh lagi menurut studi yang dimuat di Psychological Science (2014), suami yang bersedia berbagi melakukan pekerjaan rumah tangga dengan istrinya, akan cenderung membesarkan anak perempuan yang lebih ambisius mengejar impian.

Pernikahan patriarki adalah ikatan komitmen ketika suami akan mendominasi dan cenderung tidak mau dipengaruhi istrinya. Pernikahan semacam ini yang menurut hemat saya memerangkap perempuan dan pada akhirnya menghancurkan hubungan. Ahli pernikahan terkemuka, Dr. John Gottman, melakukan riset kepada 130 pengantin baru selama enam tahun untuk mencari tahu rahasia sukses sebuah hubungan perkawinan. Ada satu rahasia utama yang terbongkar dari penelitian ini. “Kami menemukan pengantin baru lelaki yang mau menerima pengaruh istrinya, berada dalam pernikahan yang lebih bahagia dan stabil,” ujar Gottman. Sementara suami yang gagal mendengar protes istrinya, merespon dengan mendiamkan atau berbalik agresif, cenderung berujung pada pernikahan yang suram. Tapi jangan kira perempuan bisa seenaknya juga dalam pernikahan. Tentunya pernikahan butuh dua pihak untuk berusaha. Istri juga harus memperlakukan suami dengan hormat. Dan ini menurut riset Dr. Gottman, sudah dilakukan mayoritas istri, bahkan ketika berada di pernikahan yang tidak membahagiakan. Pada umumnya istri akan memperhatikan opini dan perasaan suaminya ketika membuat keputusan. Namun sayangnya menurut data, kebanyakan suami tidak melakukan ini. Data Dr. Gottman juga menunjukkan ada 81 persen kemungkinan pernikahan akan hancur bila lelaki tidak bersedia berbagi kekuasaan.

****
Empat bulan sudah berlalu sejak pembicaraan hubungan lebih serius ia lontarkan pada saya. Sejak itu saya sudah beberapa kali makan malam bersama keluarganya. Terutama dengan ibunya yang sangat ia cintai. Sangat lucu ketika hubungan ditetapkan untuk menjadi lebih serius, beban satu ton seakan ikut bertambah. Kami menjadi lebih kritis satu sama lain. Friksi perbedaan nilai semakin tajam. Kompromi seringkali berujung semu. Hingga akhirnya sebuah letusan terjadi. Saat ia berkata cita-cita personal saya membuatnya merasa kecil. Bahwa istri yang diharapkannya adalah yang tidak menuntutnya macam-macam.
Di titik itu saya mafhum, pernikahan yang memerdekakan saya, tidak ada di hadapan mata.

 

 

17 Comments

  1. Nicely written Kak Trinzi.
    Postingan ini bisa jadi bahan diskusi yg bagus untuk saya dan calon pasangan saya. Saya awalnya juga punya ketakutan yg sama seperti yg Kak Trinzi tulis di post ini ketika pacar mengajak serius. Banyak sekali hal yg menjadi kekhawatiran saya. Paparan singkat berbagai riset yg Kak Trinzi bisa menjadi rujukan saya mengenai bagaimana kami berdua berbagi peran ke depannya.
    Thank you Kak! 🙂

    1. Halo! Terima kasih sudah mampir :). Senang sekali bisa membantu kamu dan pasangan. Semoga menjadi pasangan yang bahu membahu meraih kebahagiaan dalam posisi yang setara.

  2. Hi Trinzi!
    Beberapa teman saya membagikan blog ini di Facebook. Reaksi pertama waktu membaca blog post mengenai pengabdi setan& obsesi orang Indonesia untuk punya anak “Wah what a brilliant post”. Jarang sekali melihat perspektif seperti ini dalam menilai film horror lokal.

    Dan setelah baca post ini, saya semakin in awe hahaha.

    Rekan-rekan serta famili di sekeliling saya banyak yang menganggap pernikahan tidak lebih dari “a mere check list us woman should cross” dan menilai feminsime dengan label “gerakan wanita2 yang merasa tidak butuh pria” semata.

    Terima kasih untuk artikel yang sangat baik dan didukung berbagai data dan sumber lain.

    Dan yup, saya sangat setuju, pernikahan sesungguhnya tidak boleh menjadi “penjara”.

    Kudos for your blog posts!

    Keep writting!:)

    1. Hi, thanks for stopping by! Btw, ini baru sedikit sekali dari sekian banyak isu keadilan gender yang masih bermasalah di Indonesia. Hehehe. Nantikan kegelisahan2 berikutnya ya 🙂

  3. Di balik kesuksesan suami ada peran istri di belakangnya, begitupun sebaliknya. Pesan inspiratif itulah yg bisa saya tangkap dari artikel ini. Saya juga sempat berpikir, pernikahan itu untuk mencari kebahagiaan lahir batin, bukan mau ikutan ajang militer (ada boss & bawahan). Saya salut dg langkah keputusan mbak tuk nglepasin mantan mbk karena sy sendiri jg pny pengalaman yg sama. Parahnya dulu aku tdk boleh ambil program S2 oleh mantanku padahal itulah cita2ku setelah lulus kuliah (gila bgt, belom jadi suami uda otoriter). Melepaskan tuh orang adalah keputusan terbaik yg tdk pernah kusesali hingga kini.

    1. *tos*
      Baru2 ini saya ngobrol dengan KH Husein Muhammad. Dia berpendapat bahwa sebenarnya ayat Al Quran banyak membicarakan relasi kesalingan dalam hubungan interpersonal. Seperti, kamu adalah baju untuknya begitu pun sebaliknya. Dari relasi kesalingan ini sebenarnya sudah cukup jelas bahwa suami dan istri itu sejatinya sejajar posisinya. Semoga kita mendapatkan pasangan yang menempatkan kita sebagai partner sejajar yang bahu membahu mencapai kebahagiaan 🙂

      1. Setuju Mbak Trinzi *tos. Terkadang byk pihak yg cuma tau fikih Islam sedikit sekali, tapi sombongnya minta ampun (Geli deh). Salah satu contoh nyata di masyarakat kta adalah setiap perempuan Indonesia kudu pinter masak buat suami. Jika menelisik fikih Islam, sejatinya wanita sebagai mitra suami dan tidak diharuskan mahir masak asalkan mau bertanggungjawab mengurus anak serta menjaga kehormatan diri sbg muslimah (lha klo mau cari yg pinter masak, silakan cari aja koki ato chef hahahahaha). Klopun Fatimah Azzahra putri kesayangan nabi sebagai IRT, nyatanya Nabi sendiri mengizinkan adanya pembantu di rumah setelah tau kulit tangan Fatimah sensitif & gampang pecah2. Intinya Islam telah mengangkat harkat martabat wanita, bukan dijadikan budak 😀

  4. Salam kenal mba 😊
    Numpang curhat disini ya mba, agaknya bisa lega. tolong direspon
    😁
    Tapi saya musti mulai darimana ya? Bingung. Hehe
    Intinya nih ya, saya dan pasangan (semoga dia sungguh-sungguh yg terbaik utk saya) sedang merencanakan hal indah itu (pernikahan).
    Awal kenal sampai hampir 10 bulan ini ada banyak cerita ttg dia yg sebenarnya membuat saya khawatir (semoga bukan kekhawatiran berlebih tanpa alasan ya) akan bisa melanjutkan hubungan utk “lebih serius” atau udahan aja.
    Tapi sebenarnya dari sekian banyak kekhawatiran yg muncul, satu yg paling membuat saya sulit berhenti berpikir, suatu ketika saya berbincang dgn ibunya via telpon. Setelah ngobrol ini-itu, akhirnya si ibu berujar: “gak apa-apa perempuan gak bisa masak, nanti jg bisa belajar, gak apa-apa gak bisa dandan, nanti jg bisa belajar. Yg terpenting dalam pernikahan itu apa? Tau? Ada keturunan yg dilahirkan…”
    Setelah kalimat terakhir, rasanya saya tidak fokus mendengarkan kalimat-kalimat berikutnya.
    Semakin saya gamang meneruskan hubungan ini karena saya berpikir, ini artinya saya menikah hanya utk melahirkan anak? Lalu nanti, jika saya (na’udzubillaah) lama hamil, apakah perlakuan mereka akan berbeda dari yg selama ini (baik pada saya)?
    Obrolan itu terus menghantui saya sampai hari ini mba, sampai-sampai saya agak mengurangi komunikasi dgn dia karena saya mulai berpikir (jahat sih ini): ah, saya kan blm sah sama dia, boleh lah saya dekat dgn yg lain.
    Padahal seharusnya hal-hal remeh temeh begini tdk pantas dikhawatirkan mengingat yg hendak menikah kan kami berdua, tapi bukannya menikahi pasangan berarti menikahi seluruh keluarganya??
    Ah.. entahlah..
    Saya harus gimana nih, Minta pendapat dong mba, please…
    Boleh jg mba balas di email saya, ditungguuuu… Makasiiihh…

    *Saya jadi ngetik panjang lebar, maapkeun 🙏

    1. Hai, solusi logisnya sebelum nikah, kamu dan pasangan sama2 tes kesuburan di dokter kandungan. Dengan begitu kalian bisa tahu keadaan kesuburan masing2. Mudah2an tidak ada masalah. Tapi kalau ada masalah, lebih baik dibicarakan sebelum menikah. Selain itu perlu dilihat lagi apakah kamu dan pasangan ingin punya anak atau tidak? Visi semacam ini penting dibeberkan sebelum menikah.
      Benar, memang pernikahan di Indonesia itu berarti menikahi dua keluarga juga. Tapi kembali lagi, seberapa mau pasangan melihat konsep pernikahan yang tidak hanya didasari ada atau tidak adanya anak. Saya rasa itu lebih penting ya. Karena biar gimanapun sejatinya kamu akan menikahi orang tersebut. Dan seharusnya dia bisa membela kamu bila keluarganya mulai kepo atau ganggu2.

      1. Mbak Hana, betul apa kata Mbak Frinzi, Kita semua perlu memikirkan dan mempertimbangkan jika kita dan pasangan dalam situasi sulit punya anak di masa depan.

        Apakah keluarganya menerima adopsi anak, sedangkan adopsi anak saja di Islam secara tidak boleh melepaskan nasab dari nama asli bapak kandungnya, kecuali nama bapaknya memang tidak diketahui.

        Sudahkah klrgnya siap menghadapi masa depan yg blum pasti padahal anak itu rejeki dari Allah? Istilahnya bahasa kasarku “Wanita bkn sebagai aplikasi benda reproduksi tapi sebagai manusia utuh yang mampu berpikir & mengambil keputusan yg baik-benar sejajar dg lelaki. Kita ikuti apa yg Allah ridhoi, bukan dari paksaan orang lain”.

        Hal ini sudah jadi bahan perbincangan serius dengan ibuku & beliau setuju. Beliau juga berkata, “Terlalu byk pihak turut campur urusan internal justru lebih cepat merusak rumah tangga kita, itu kenyataan”.

        1. Mba Yessy, saya juga setuju dgn pendapat mba. kita sebagai bangsa Indonesia tentu sangat tahu karakter orang-orang.. siapapun mereka, selalu saja ada hal menarik dari kita dan keluarga yang bisa dikulik. Apalagi tentang adopsi anak. Rasanya jadi hal aneh jika ada pasutri yang lama blm dikaruniai anak kemudian memutuskan mengadopsi. Seharusnya mereka juga paham bahwa menikah dan mengandung bukanlah kompetisi, tapi murni kehendak Ilahi (Mak Emil, 2017).

          Tapi entahlah mba, saya juga tdk bisa memahami isi kepala setiap orang 😅
          Menurut mba Yessy, saya harus membicarakan ini cukup dgn ibu saya, atau ada pihak lain yg diajak diskusi? Seperti pendapat mba Trinzi diatas (harus dikomunikasikan ulang dgn pasangan)

          Btw, makasih ya sudah ikut memberi solusi 😊

      2. Mgkn benar kata mba..
        Baiklah, nanti saya coba bicarakan baik-baik mengenai solusi satu ini.
        Terimakasih banyak mba 😊 #bighug

        1. Mbak Hana ,salam kenal ya mbak..saya terketuk hati untuk ikut memberikan pendapat tanpa bermaksud sok tahu atau menggurui , murni dari pengalaman pribadi saja
          Saya pernah di posisi mbak (walaupun tidak sama persis) , ceritanya saat saya lulus kuliah S2 dan mantan saya ingin balikan dengan saya dan langsung ke jenjang yg sangat serius,saya ragu2 karena balikan dengan mantan bukanlah prinsip saya dan memang saya sudah tidak ada rasa dengan mantan saya tapi ibu saya ngotot mendukung dan bahkan sudah mengobrol intens dengan ibu mantan (saat masih pacaran hubungan keluarga kami memang sdh dekat,saat putus pun masih menjaga hubungan baik) akhirnya sebagai anak saya jadi bimbang,takut kualat melawan orangtua terutama ibu sendiri akhirnya saya mau sedikit membuka komunikasi kembali dengan mantan tsb walaupun hati sebenarnya sangat tidak sreg sampai pada suatu saat ibu saya cerita isi percakapan dengan ibu si mantan , ibu mantan bilang begini “gimana bu?sudah pasti balikan kan anak2 kita,ayo sudah secepatnya diresmikan saja lalu Gani (saya) saya atur jadi PNS di Sumba jadi aman deh anak saya di Sumba ada yg ngurus!” JEDARRR!!!!!! detik itu saya langsung putuskan semua komunikasi baik sama mantan maupun sama ibu si mantan,jadi saya ini adalah calon IRT gratis buat mereka,begitulah ternyata mereka memandang calon istri anak mereka tanpa berpikir saya adalah individu yang juga punya mimpi dan cita2 sendiri,dengan seenaknya mengatur hidup saya bahkan ketika saya balikan resmi saja belum dengan anaknya..dan untungnya ibu saya mengerti pilihan hidup saya saat itu,saya merasa masih yakin bisa menemukan pasangan yg menurut saya lebih baik terutama bisa menghargai saya sebagai individu yg bisa berpikir dan punya kemauan sendiri.
          Lanjut cerita mengenai masalah keturunan, saya sejak lulus kuliah sudah divonis kena endometriosis,dokter Obgyn pun bilang saya akan sulit punya anak,which is at the moment bukan masalah terlalu besar buat saya karena jadi seorang ibu masih jauuuuh bgt dari pikiran saya..dan akhirnya saya bertemu pasangan yang saya idamkan,menjunjung tinggi kesetaraan peran dalam berumahtangga dan saat dia melamar saya ,saya terang2an bilang bahwa saya telah divonis dokter terkena endometriosis,prinsip saya lebih baik saya buka semua kemungkian terburuk di awal daripada saya ribut dibelakang,dan untungnya pasangan saya merespon dengan jawaban yg lugas ,dia menikahi saya karena saya,bukan karena fungsi rahim saya,perkara nanti 6 bulan belum punya anak ayo kita cari solusi di dokter Obgyn (that’s why i love eh?hehehe)
          Intinya mbak,terbukalah pada pasangan,bicarakan hal2 yg mengganjal terutama pada pasangan anda..saya yakin kalau pasangan mbak sayang sama mbak dia akan terbuka menerima semua keluh kesah mbak dan berusaha mencari jalan keluar bersama
          Sejatinya menikah itu menyatukan dua insan ,dua pikiran,dua kebiasaan,dua keinginan yang berbeda menjadi satu kesatuan dan hal yg ingin dicapai adalah kebahagiaan kan tentunya?
          Semoga mendapat jalan yg terbaik ya mbak Hana

          Duh jadi curcol hahaha

          Mbak Trinzi salam kenal ya..saya pembaca baru..teruslah menulis dengan cara yg cerdas dan sudut pandang yang unik karena wanita2 Indonesia lebih banyak membutuhkan tulisan semacam ini

          1. Halo Ganitri! Salam kenal. Terima kasih sudah mampir dan sharing. Cerita kamu sangat menarik untuk membuka pandangan orang terhadap beban pernikahan yang cenderung lebih berat bagi perempuan. Saya senang kamu sudah menemukan pasangan yang memandangmu secara setara dan berharap perempuan2 lain menemukan lelaki2 seperti itu juga. Terima kasih atas motivasinya. Sangat mendorong saya untuk terus menulis demi membuka mata orang 🙂

  5. Betah kali aku menjelajah tulisan2mu kak. Renyah dan bikin nagih. Apalagi jelas ada literaturnya, gak asal cuap.
    Aku pernah pada posisi yang gamang dg pernikahan, toh bukankah selama ini tanpa menikah aku juga baik2 saja? Tapi semua itu luntur dengan sendirinya setelah aku bertemu dia, suamiku. Memang pernikahanku tak melulu soal tawa bahagia, ada tangis juga di sana. Tapi semuanya indah. Menurutku ini soal menemukan orang yang tepat saja atau setidaknya menjadikannya tepat. Ada sebuah drama psikiatri yang cukup membuka pikiranku (disamping buku2 dan sharing pengalaman orang2 ttg pernikahan), judulnya “it’s ok, that’s love”
    Korea punya, tapi sungguh kisah romannya bukan picisan. Tokoh utamanya perempuan lajang 30 tahun, psikiater yang punya trauma terhadap seks.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *